Literasi

Segmented Writing

Rabu, 17 Maret 2021, 21:06 WIB
Dibaca 298
Segmented Writing
Menulis catur (Foto: Istimewa')

Pepih Nugraha

Penulis senior

Apa pula istilah ini, "Segmented Writing"? Mungkin tidak bakal ditemukan di kamus manapun, wong ini hanya bisa-bisanya saya saking bingungnya mau memberi istilah. Maksud saya, "Segmented Writing" adalah tulisan dengan target yang sempit, tipis atau kecil. 

Dalam bahasa Inggris ada kata "niche" atau ceruk, dan yang namanya ceruk pasti sangat khas dan spesifik. Meskipun dengan target sasaran kelompok kecil, tulisan ini tetap ada dan hadir karena sasaran yang kecil ini pun berhak mendapat bacaannya sendiri. 

Kalau saya menulis tentang analisa catur, maka tulisan saya menyasar kelompok yang sangat kecil. Catur adalah olahpikir (braingames) yang khas, rumit, dan tidak semua paham. 

Saya sering menulis analisa catur di Harian Kompas dan ada saja teman yang komentar, "Nggak ada yang baca!" Bisa saja benar, bisa juga keliru. Toh dari sekian juta pembaca Harian Kompas, barangkali 1 persen yang membaca catur sudah lamayan, dan itu jelas ada. 

Buktinya, di Harian Kompas pada masa lalu ada jurnalis khusus yang menulis catur seperti Muzni Muis, Budiarto Danudjaja, dan Parakitri T. Simbolon. Saya meski tidak pernah menjadi jurnalis olahraga, mengisi kekosongan dengan menulis catur. 

Pertanyaannya, apa syarat utama yang harus saya lakukan agar bisa menulis berita catur dengan pembaca yang terbatas itu? Ada beberapa syarat, antara lain: 1. Minat 2. Passion 3. Menguasai 4. Eksplorasi Minat sangat penting dalam setiap penulisan, menulis apa saja. 

Tidak terbatas minat menulis catur yang "segmented" tadi, tetapi tanpa adanya minat, tidak mungkin lahir sebuah tulisan yang mengalir yang sering orang mengatakannya "tulisan dari hati". Minat terhadap catur tidak bisa dipaksakan, ia lahir karena adanya pengalaman batin sehingga ada ketertarikan dengan dunia ini. 

Passion lebih menunjukkan kepada gairah saya menonton dan memainkan langkah-langkah bidak catur lewat komputer catur atau catur fisik. Gairah saya sedemikian meletup-letup menyaksikan langkah pecatur brilian yang kadang tidak terduga. 

Misalnya, saya tidak habis berdecak kagum atas permainan almarhum Mikhail Tal yang dijuluki "Tukang Sihir dari Riga". Pecatur ini terbiasa mengorbankan beberapa perwiranya dan bahkan Menterinya untuk sebuah kemenangan akhir. Juga saya kagum terhadap langkah si "eksentrik" Bobby Fischer yang energi caturnya seperti tidak ada habis-habisnya. 

Gairah ini terus saya tumbuhkan selagi saya menulis catur. Menguasai sebenarnya lebih tepat mengerti sajalah. Saya mengerti dan paham catur. Syukur kalau bisa memainkannya. Saya bermain catur di lingkungan kompleks perumahan dengan para tetangga menggunakan jam catur. 

Saya terbiasa bermain catur kilat dengan waktu berpikir masing-masing 7 menit. Beberapa tahun lalu dalam sebuah partai simultan melawan GM Ardiansyah (mantan juara catur nasional), saya berhasil mengalahkannya dengan cepat dibanding peserta lain. Ini modal saya untuk bisa menulis catur karena saya kemudian mampu menganalisanya. 

Eksplorasi lebih saya tekankan pada bacaan, literatur, dan analisa-analisa catur. Pada masa sepuluh tahun lalu, saya harus berburu buku-buku catur dalam dan luar negeri. Saya baca biografi para pecatur dunia, saya ikuti perkembangan catur nasional, saya coba berkenalan dengan GM Indonesia seperti Utut Adianto sampai Susanto Megaranto, semata-mata berharap mendapat ilmu catur dari mereka. 

Saya pelajari setiap pembukaan maupun pertahanan. Saya rajin mengikuti setiap turnamen besar di seluruh dunia melalui internet. Saya terus eksplorasi demi penguasaan, minat sekaligus gairah dalam menulis dan menganalisa catur.

***