Literasi

Perjalanan Data Dian (8) Membekali Warga Desa dengan Keterampilan Menulis

Sabtu, 17 September 2022, 18:26 WIB
Dibaca 99
Perjalanan Data Dian (8) Membekali Warga Desa dengan Keterampilan Menulis
Seorang peserta pelatihan menulis mempraktikkan mind mapping (Foto: Warsi)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Tidak penting seberapa canggih tampilan presentasi materi, yang penting dapat dipahami peserta dengan mudah. Untuk mencapai kondisi ideal seperti ini, tampilan berupa teks menjadi kurang efektif. Gambar atau sketsa malah lebih mencuri perhatian mereka.

Itulah yang saya berikan kepada peserta pelatihan menulis warga selama empat hari penuh, di mana mereka menempuh sebelas materi pelatihan menulis berita peristiwa maupun cerita nyata yang saya sampaikan, teori maupun praktik.

Ke-11 materi pelatihan ini termasuk prinsip dasar fotografi jurnalistik dengan penekanan pada "caption" atau narasi foto. Jadi, saya "mencuri" pengetahuan dan kepakaran rekan Arbain Rambey dalam menyampaikan ilmu fotografi yang dikuasainya, selama dua kali kesempatan "ngajar bareng" di Denpasar dan Pekanbaru.

Sebagai pemateri tunggal, saya lebih menekankan pada praktik menulis sampai mereka benar-benar mampu membuat konten tulisan untuk website desa masing-masing. Tentu saja saya harus "menurunkan" kadar bahasa dan istilah teknis jurnalistik agar peserta mampu memahami dan menyerap seluruh materi yang saya sampaikan. 

Misalnya saja teks dan istilah teknis asing saya salin rupa ke ujud gambar atau ilustrasi, sementara saya bicara dengan "menerjemahkan" teks itu ke dalam bentuk suara. Peserta menyimak dengan baik dan hanya sesekali mencatat apa yang perlu mereka catat. 

Pengetahuan dasar menulis, mengenal berita peristiwa dan cerita nyata manusia, memahami nilai berita, bahasa media, adalah beberapa materi yang saya sampaikan. Namun, saya menyisipkan materi "mind mapping" saat membahas topik menggali dan melahirkan ide menulis.

Luar biasa, hampir seluruh peserta mampu menangkap dengan cepat prinsip pemetaan pikiran yang dikembangkan Tony Buzan ini.

"Dengan cara pemetaan ini, saya menjadi lebih mudah melahirkan ide menulis, juga membantu saya fokus pada satu bahasan yang saya kembangkan," kata seorang peserta mengenai metoda sederhana.

Sungguh menarik ketika mereka menempatkan gagasan utama menulis sesuai dengan apa yang mereka lihat dalam keseharian di sekeliling mereka. Sebagai contoh gagasan utama yang ingin mereka kembangkan adalah "sungai", maka sengan cepat mereka menempatkan "transportasi", "Kalimantan", "ikan", "aliran", "jeram", dan "kehidupan".

Itulah 5 gagasan yang akan mereka kembangkan lagi. Selanjutnya mereka fokus pada satu atau dua gagasan, tetapi saling mendukung. Semisal "transportasi" dan "kehidupan", mereka mengembangkan "katinting", "perahu", "speedboat" sebagai unsur "transportasi" sedangkan "pedalaman", "perdagangan", perikanan sebagai unsur "kehidupan".

Dari pemetaan yang sudah meraka buat dan kembangkan sendiri, mereka bisa fokus pada beberapa hal saja, sehingga muncullah varian judul yang mewakili gagasan yang akan mereka tulis: "Sungai adalah kehidupan kami", "Katinting alat transportasi sungai masyarakat pedalaman Kalimantan" atau "Ikan melimpah di sungai kami".

Demikianlah, saya mengajarkan mereka berpikir praktis, sistematis dan logis. Sesuai dengan tingkat pemahaman mereka yang beragam, saya lebih menekankan pada kemampuan mereka berpikir kreatif (creative thinking), lebih kepada pengembangan hal-hal praktis yang mereka lihat, rasakan dan alami dalam kehidupan sehari-hari.

Ternyata mereka pun bisa!

(Bersambung)

***