Literasi

Darurat Baca Warganet +62

Sabtu, 25 Juni 2022, 23:53 WIB
Dibaca 317
Darurat Baca Warganet +62
Ilustrasi: unsplash.com

Lompatan teknologi yang begitu cepat, sangat merepotkan jika tidak berbarengan dengan kematangan penggunanya. Saya terbilang generasi peralihan. Masih di bangku kuliah, ketika mesin pencari seperti google belum populer. 

Mengetik paper pun, masih sempat menggunakan mesin ketik. Komputer, kala itu, sungguh barang mewah. Harus menyewa di rental komputer yang bertebaran di sekitaran kampus di Yogyakarta. 

Media sosial? Seingat saya hanya friendster. Itupun baru bisa buka, jika punya uang saku untuk nangkring di warung internet (warnet). Dan rasa-rasanya, tidak seheboh era media sosial saat ini. 

Menjelang masa akhir kuliah, sekitar tahun 2004-an, barulah mulai lebih sering menggunakan komputer. Sisi lain, tentu saja, sebagai mahasiswa perantauan, duit belum mencukupi untuk memiliki perangkat canggih ini sendiri. Jadi, kalau tidak pinjam, ya rental. 

Mengetik skripsi pun, pinjam komputer milik sepupu. Mau menulis artikel untuk media massa, harus membuat konsepnya dulu, baru kemudian ke rental. 

Saya memetik hikmahnya. Kata dan kalimat yang akan saya tulis sudah melalui perhitungan yang--dalam takaran saya--cukup memadai. Tidak bisa sembarangan. Pilihan kata sungguh-sungguh yang kiranya menghidupi dan memberi roh tulisan saya. 

Sekarang, kita buka mata, dan melihat kenyataan di tahun 2022 ini. Tentu rentang ini bisa sedikit kita tarik ke 10 tahun ke belakang. Seperti apa gelagat jagad maya kita? Oh, jagad maya penuh dengan para "penulis" dan penulis. 

"Penulis" dengan tanda petik, muncul di mana-mana. Utamanya di linimassa media sosial. Apa yang mereka tulis? Mulai dari gibah tetangga, menyindir teman sendiri, menyebar kemarahan, ikut-ikutan bahas sesuatu yang tidak mereka kuasai, sampai urusan ranjang. Maaak e!

Dan ciloko duabelas-nya, konten-konten yang seperti itu mendapatkan impresi yang ramai dari warganet. Ada yang kemudian membagikan postingan itu sampai membuka debat baru di kolom komentar. Jika menjadi viral, kadang-kadang media massa mainstream pun mengolahnya menjadi konten. 

Bagaimana dengan nasib penulis tanpa tanda petik? Seperti biasa, mereka tetap berada di alam yang sunyi. Jauh dari ingar-bingar. Tanpa pembaca. Minim view (bagi blogger yang mengharapkan adsense, kadang harus mengeluh dada). 

Warganet tidak membutuhkan penulis. Mereka memerlukan "penulis". Konten yang kira-kira membuat adrenalin mereka naik. Tulisan yang cukup hanya dengan membaca judulnya, lalu seakan sudah tahu keseluruhan isinya. 

Di sini, pegiat media siber sampai nangis darah. Warnaget hanya membaca judul konten yang mereka boosting di media sosial, kemudian kolom komentar penuh dengan aneka kedegilan pemilik akun. 

"Di mana tuh..." padahal di tubuh berita, sudah jelas kejadiannya di mana. Dengan catatan, andai si penulis komentar masih punya kuota internet untuk membuka tautan. 

"Kapan kejadiannya, Min?" Huuff! Di dalam naskah juga penulis sudah menyertakan persyaratan sakti mandraguna 5W1H namun tak ampuh untuk melayani warganet jenis ini. 

Itu untuk kasus pegiat media siber yang melakukan booting konten melalui media sosial, dengan cara menaruh tautan di linimassa. Masalah tidak hanya ada di sini. 

Sering terlihat, warganet yang menulis suatu status di media sosial, yang sudah pula lengkap dengan "di mana, kapan, siapa", harus menerima kenyataan komentator mereka menanyakan hal yang jelas-jelas terpampang di depan mata. Ajaibnya warganet +62, kerap saya temukan, ada yang berbetah ria menjawab komentator yang menanyakan hal yang sebenarnya sudah tercantum di status mereka. 

"Asyiknya menikmati alam yang teduh di (menyebut nama tempat), bersama anakku (menyebut nama anak) hari Minggu (menyebut tanggal) kemarin. Pengeeeen ke sini lagi." 

Itu hanya contoh loh ya. Status media sosial itu pun lengkap dengan beberapa foto, umumnya swafoto menampilkan wajah sendiri ketimbang pemandangan yang disebut teduh tadi. 

Cek kolom komentar? 

"Wah, di mana tuh say?"

"Kapan tuh?"

"Di mana nih fotonya bagus banget pengen ke situuu."

Padahal, semua yang warganet tanyakan itu, sudah tertulis di status. Eh, masih juga ditanyakan. Ini sebenarnya mau menampakkan apa? Mau menunjukkan apa? 

Saking geram, saya pernah sesekali "urun rembug" di situ, dengan menulis: "Coba baca caption fotonya, kan semua sudah tertulis di situ."

Wahai, warganet +62 yang maha benar tidak akan pernah mengakui kesalahan. Jawaban sakti begini: "Oh, saya kan fokus ke fotonya, mana sempat baca-baca."

Mungkin, mereka bahagia dengan cara itu. Terserah saja sebenarnya. Ngapain saya repot. Ya, saya repot, karena saya memiliki keprihatinan terhadap masalah darurat membaca ini. 

Darurat membaca bisa menjadi malapetaka. Ini benaran. Sehebat apapun pesan bisa orang terima secara lisan, tak bakal mengalahkan kedalaman informasi yang cara memperolehnya dari membaca. Kemalasan membaca membuat pengetahuan, wawasan, dan ilmu penting, pergi begitu saja. 

Seseorang mencari materi bacaan sesuai apa yang dia perlukan. User generated content. Sah-sah saja. Dan jika seseorang sudah merasa tidak perlu lagi membaca, juga sah-sah saja. Semua ini hanyalah pilihan. 

Saya memilih untuk tetap membaca. Penulis yang tetap membaca. Penulis yang tidak pernah merasa puas. Everyday is trainning for me. 

Seandainya tulisan saya ini sampai pada Anda-anda yang termasuk kategori warganet +62 yang malas membaca, namun akhirnya Anda membaca sampai tuntas, terimalah salam perkenalan saya. Jika Anda hanya membaca judulnya dan skip ke lain, juga tetap saya sampaikan salam perkenalan, meski Anda tak mungkin membacanya. 

Sampai jumpa di kegelisahan berikutnya.

Pontianak, 25 Juni 2022.