Literasi

Puasa Pertama si Ujang

Rabu, 6 April 2022, 15:44 WIB
Dibaca 359
Puasa Pertama si Ujang
Si Ujang

Haii ... Namaku Ujang. Aku sekolah di salah satu sekolah negeri di Bulungan. Aku baru saja naik kelas 5 SD.

Tahun ini adalah tahun pertama Ujang berpuasa. Ia berjanji kepasa Abi kalau ia akan berpuasa full selama bulan ramadhan ini.

Waktu itu tepat jam 03.30 aku terbangun setelah mendengar teriakan mamaku yang sangat keras. “Ujang bangunnnn!” Teriak mama. “Iya ma iya.” Jawabku dengan kondisi setengah sadar. Aku keluar kamar langsung menuju meja makan.

“Banyak atau dikit nasinya Jang?” Tanya mama. “Sedikit aja ma.” Jawabku dengan lemas. “Cuci tangan dulu sebelum makan Ujang! Kebiasaan banget langsung makan aja”. “Iya ma.” Kataku.

“Wah mama kreatif ya, sekarang kobokan ada sayur-sayurnya.” Kupuji mama.

“UJANGGGG! Itu sop bukan kobokan!” Teriak mama dengan nada yang kesel. “Hah? Maaf ya ma faktor ngantuk sih”.

Setelah makananku habis, aku langsung ke kamar mandi untuk sikat gigi. Tetapi, ada yang berbeda dengan pasta giginya, terasa sangat pahit di lidahku. Lalu kutanya mama “Ma kok pasta giginya pahit banget? Gak kaya biasanya.” “Masa? Emangnya kamu ngambil di sebelah mana?” Tanya mama dengan heran.

“Ujang ambil yang di sebelah kiri ma”, Jawabku. “UJANGGGG! Itu bukan pasta gigi tapi krim malam mama! Teriak mama.

“Lahh? Salah lagi aku ya ma?” Tanyaku dengan bingung.

“Ya iyalah Ujanggg!” Teriak mama sekali lagi.

Lagi-lagi aku nda fokus, sampai salah mengambil pasta odol.

Sore hari ....

berapa jam lagi ma?” Ujang terus menanyai berapa lama lagi ia harus menahan hausnya.

“tunggu sampai azhan maghrib ya Ujang sayang,” sahut mamanya dengan mata masih tertuju pada koran. Ujang pun kecewa lagi, sekarang baru jam 15. 45 sore. Andai ia merengek pada saat waktu zuhur ia pasti sudah diperbolehkan untuk memecahkan puasanya, aku kan masih umur 10 tahun, Ujang berbicara di hatinya

“Ujang, ikut mama keluar yuk,”

Mama menghampiri Ujang yang sedang tidur di atas kasurnya.

“kemana ma?, tanyaku

Ujang engga mau panas-panasan di luar ma,” jawab Ujang dengan raut wajah yang lesu.

“mau kepasar buat beli makanan buka puasa nanti. Tapi Ujang jangan tergoda ya, mama mau Ujang belajar menahan haus dan lapar.”

“oke, aku ikut ma,”

akhirnya Ujang pun tertarik juga.

Ia dan mamanya berjalan keluar rumah. Di halaman parkiran ada abi yang telah menunggu di dalam mobil.

“sabar aja, nanti pasti terbiasa kok.” ucap abi sembari menepuk pundak Ujang yang baru duduk di dalam kursi mobil. Ujang pun hanya mengangguk.

Di sepanjang perjalanan, pikiran Ujang terus mengelana tentang enaknya es buah, bakso, sate dan Ayam Goreng. Makanan dan minuman terus berputar-putar di dalam kepala Ujang. membuat air liurnya berada di ujung bibirnya.

“eh, jangan mikirin makanan terus yaa Ujang. nanti puasanya batal loh, kan sayang,”  mama menegur Ujang.

Seketika tawa mama dan abi meledak secara tiba-tiba. Mereka mentertawai tingkah lucu Ujang. “haduh, anak jagoan abi ini,” abi mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak jagoannya ini. Ujang hanya bisa tersipu malu.

Sekarang Ujang memfokuskan pikirannya kepermainan game onlinenya. Dia tidak ingin mengingat tentang makanan dan minuman lagi. Kata mama, kalau kita tidak mengingat tentang makanan dan minuman maka puasa tidak akan terasa.

Tidak terasa ia telah sampai di pasar. Kesan pertama yang ia tangkap adalah ramai, sama seperti pasar pada umumnya. Tetapi perbedaannya hanya di pasar ini khusus untuk menjual makanan dan minuman pembuka buka puasa dan sahur, dan hanya ada pada bulan ramadhan. Ujang dan mama sibuk berkeliling membeli makanan dan minuman secukupnya.

Sampai di sebuah lapak salah satu pedagang ada anak perempuan seumuran dengan Ujang yang juga menjual bakso bakar,  mama tertarik membeli baksonya dan menunggu sampai bakso yang dipesan selesai dibakar.

“adik puasa,” tanya mama ingin tahu.

“iya tante, saya puasa,” suara kalemnya terdengar begitu lembut.

“wah, hebat, kamu bisa berdagang dan sekaligus berpuasa. Dimana orangtua kamu?, pasti orangtua kamu bangga memiliki anak seperti kamu.” mama pun memuji anak itu.

“disana tante..” anak itu menunjuk lapak pedagang es kelapa. “itu orang tua saya, saya berdagang untuk membantu orangtua saya. Saya juga senang dengan berdagang saya bisa mengusir rasa haus dan lapar saya,” anak itu menunduk sambil menyiapkan saus baksonya.

“aduh, ya allah, tante seneng dengernya masih kecil sudah bisa melawan rasa haus dan lapar. Ujang harus contoh dia ya!” mama pun menunjuk anak tersebut.

Aku hanya bisa mengngangguk.

“siapa nama kamu sayang,” mama bertanya pada anak itu lagi.

“Aisyah tante,” anak itu membalas dengan senyuman yang manis. Anak yang bernama Aisyah itu memberikan sekantung bakso bakar pesanan mama. Mama membayar bakso tersebut dan memberikan anak itu dengan uang berwarna biru.

“tante, ini kembaliannya” Aisyah memberikan kembalian uang kepada mama.

“udah, kembalinya buat Aisyah aja yaa, tante senang Aisyah telah menginspirasi anak tante agar berpuasa lebih giat dan tidak mengeluh,” kata mama tulus.

Aisyaj menerima kembalian itu dengan rasa terima kasih, kemudian dia memotivasiku untuk menikmati puasa tanpa rasa ngeluh. Aku hanya bisa meng-iyakan nya.

Aku senang hari ini bisa mendapat pelajaran yang berharga. Aisyah telah mengajariku kalau puasa itu menyenangkan dan tidak menghalangi kegiatan apapun.

Terima kasih Aisyah, Kamu hebat !!

Tags : literasi