YTP Rayeh

Menyaksikan Implementasi "Mengkhianati Keputusan Sendiri"

Rabu, 2 Maret 2022, 09:43 WIB
Dibaca 644
Menyaksikan Implementasi "Mengkhianati Keputusan Sendiri"
Yansen TP dan Ping Ding (Foto: Facebook/Ping Yansen)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Setiap buku ditulis untuk dibaca orang banyak. Secara sadar, penulis bermaksud berbagi pengalaman, perasaan, dan pikiran kepada pembacanya. Tetapi ketahuilah, buku juga bisa dijadikan bahan pencitraan atau bahkan propaganda untuk tujuan tertentu.

Akan tetapi, saya melihat sendiri implementasi buku "Mengkhianati Keputusan Sendiri" yang ditulis oleh Yansen Tipa Padan dalam kehidupan nyata. Sebuah buku yang jujur dalam bercerita maupun dalam implementasi di dunia nyata.

Peristiwa terjadi pada Kamis 24 Februari 2022 di Tanjung Selor, Kalimantan Utara, di kediaman Yansen yang menjabat wakil gubernur Kaltara. Saat itu, saya dan Masri Sareb Putra, pegiat literasi, sedang bertamu. Kami biasa berbincang banyak hal tentang literasi sambil menikmati kopi-susu yang terkenal maknyus itu.

Saat itulah kami mendengar bahwa rombongan keluarga Yansen dari Krayan yang akan mengikuti acara ICDN (Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional) berupa pelantikan pengurus untuk gugus Kaltara, Sabtu 28 Februari 2022, akan tiba menggunakan pesawat MAV. Sebelum terbang ke Tanjung Selor, transit di Bandara Robert Atty Bessing di Malinau untuk menjemput Ping Ding, istri Yansen yang juga Ketua DPRD Kabupaten Malinau.

Perjalanan Malinau-Tanjung Selor menggunakan pesawat hanya memerlukan waktu  sekitar 20 menit di mana waktu selama itu cukup buat kami menghabiskan segelas kopi-susu panas dan camilan pendamping.

Tidak lama kemudian, kami mendengar sedikit keriuhan di halaman depan. Rupanya rombongan Krayan-Malinau sudah tiba, dijemput menggunakan mobil dari Bandara Tanjung Harapan di Tanjung Selor ini.

Saya merekam suasana, tentu saja, sempat bercakap-cakap dengan Ping Ding yang akan menghadiri acara ICDN lusa. Sedang Yansen menyambut saudara-saudaranya dari Krayan, sebuah wilayah di Kabupaten Nunukan yang terpisah jarak cukup jauh dari Tanjung Selor. 

Usai bercakap-cakap itulah Yansen mendatangi tempat duduk sang istri, Ping Ding, yang saat itu sedang berbincang-bincang dengan kami mengenai berbagai hal. Saya merekam rasa kangen yang membuncah di antara pasangan suami-istri yang telah dikarunia dua putera dan dua puteri ini. Peluk-cium penuh kehangatan sebagai satu keluarga utuh tergambar nyata di depan kami. 

"Ini siapa yang kangen, ya?" celetuk saya spontan. 

Dari peristiwa selintas itulah saya teringat buku "Mengkhianati Keputusan Sendiri" yang ditulis sendiri oleh Yansen.

Sesungguhnya, Yansen dan Ping Ding, juga dengan anak-anak mereka, tidak harus terpisah jauh seperti sekarang ini. Yansen bertugas di Ibukota Kaltara, Tanjung Selor, hidup mandiri tanpa istri yang tetap menjalankan tugasnya di Malinau selaku Ketua DPRD. Anak-anak bersekolah di Pulau Jawa. 

Dari sisi pencapaian materi, sesungguhnya Yansen dan Ping Ding sudah selesai. Kacamata orang luar yang belum mengenal Yansen, tentu akan bertanya dengan nada negatif, "Mau cari apa lagi dia itu, ya? Punya istri cantik dan setia, anak-anak tumbuh mekar, segala ada..."

Di sinilah pentingnya mengenal karakter seseorang melalui buku yang ditulisnya!

Apa yang tertulis mewakili ucapannya, bahkan tindakannya. Kita -dalam hal ini pembaca buku- akan menjadi paham mengapa Yansen rela "mengorbankan kebersamaan dengan keluarga" (istri yang cantik dan setia serta anak-anak yang tumbuh dewasa) untuk waktu yang lama dan bahkan tidak terprediksikan. Sungguh sangat tidak nyaman hidup terpisah dengan istri dan anak-anak.

Tetapi, bacalah buku "Mengkhianati Keputusan Sendiri" yang ditulis oleh Yansen, di sana semua pertanyaan mengenai kerelaan terpisah dengan keluarga tercinta akan terjawab.

Bagi Yansen, keluarga bukan berarti tidak berharga. Sangat berharga, bahkan di atas segalanya. Akan tetapi, panggilan rakyat yang memintanya untuk terus mengabdi, menjadi pertimbangan tersendiri mengapa akhirnya ia harus mengkhianati keputusannya sendiri. Walau mungkin dengan berat hati.

Dari peristiwa ini, bisa jadi kelak akan lahir kembali buku baru dari tangan Yansen yang bercerita tentang keikhlasannya mengabadi kepada negeri secara paripurna.

Semoga.

Bintaro, 2 Maret 2022

***