Filosofi

Serial Kebangsaan (17) Jangan Biarkan Mereka Terbang ke Negeri Orang!

Sabtu, 30 Juli 2022, 07:58 WIB
Dibaca 99
Serial Kebangsaan (17) Jangan Biarkan Mereka Terbang ke Negeri Orang!
Mischka dan Devon (Foto: fimela.com)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Saat fenomena Citayam Fashion Week sedang "hype", viral dan menjadi pergunjingan banyak orang, berita tak kalah spektakuler dibuat kakak-beradik Mischka Aoki dan Devon Kei Enzo. Minschka berusia 13 tahun, sedang adiknya, Devon, hanya berselisih satu tahun.  

Meski namanya seperti gabungan nama Rusia-Jepang-Italia (kebetulan 3 negara ini dikalahkan Sekutu pada Perang Dunia II), dua kakak-beradik ini orang Indonesia tuken. Mereka menjadi terkenal berkat prestasinya yang mencengangkan di ajang bergengsi olimpiade matematika dan sains tingkat internasional.

Total ada 85 medali International "Math & Science Olympiads" selama pandemi covid-19. Sepanjang tahun 2022 keduanya bahkan membawa pulang 45 medali di ajang serupa. Bukankah prestasi ini spektakuler ini seharusnya dicatat Museum Rekor Indonesia alias MURI?

Ah, lupa... MURI tidak akan pernah tertarik prestasi spektakuler seperti yang diraih Mischka dan Devon, kecuali "mencatat prestasi" di mana ada orang/lembaga yang membayarinya, bukan?

Beberapa tahun lalu saya pernah menulis buku berjudul "Ibu Pertiwi Memanggilmu Pulang". Buku tentang "belajar kebangsaan" yang diterbitkan oleh penerbit major ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan saya pribadi ketika menjumpai kenyataan bahwa banyak ilmuwan dan lulusan perguruan tinggi berprestasi di luar negeri yang tidak kembali lagi ke Indonesia.

Setelah lulus, mereka lebih suka mencari pekerjaan di luar negeri, khususnya mereka yang tidak menjalani ikatan dinas dengan pemerintah. Alasan klasik, mereka merasa pemerintah tidak menyediakan tempat yang layak dan leluasa yang memungkinkan mereka mengembangkan kemampuan khususnya.

Senyampang itu, banyak juga orang-orang terbaik lulusan sekolah di Tanah Air yang sengaja bekerja di luar negeri, tidak menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk negeri ini. Secara sinistis saya menyebut "Indonesia hanya memiliki sumber daya manusia ahli dan terdidik kelas dua".

Bukan apa-apa, ada banyak siswa-siswi berprestasi yang juara olimpiade matematika dan sains di luar negeri, tetapi tidak pernah terlacak kemana para juara olimpiade itu setelah melanjutkan kuliah dan lulus kuliah.

Memang disparitas antara perolehan materi di sini dan di luar negeri, meminjam pepatah sarkas, ibarat langit dan comberan. Sangat jauh beda, khususnya kesempatan untuk berkembang.

Merit system murni berlaku di luar negeri, di sini masih mengandalkan "kedekatan dengan si kuat" atau katebelece lain yang harus dipenuhi. Ribet dan menyiksa diri.

Atas fakta ini, setidaknya yang saya tulis di buku itu, pemerintah atau negara tidak abai lagi terhadap prestasi spektakuler mereka di luar negeri. Beri kemudahan bagi mereka, sediakan insentif yang tidak kalah menarik dengan apa yang mereka peroleh jika bekerja di luar negeri. Buat "roadmap" yang jelas buat pengembangan karier mereka.

Wajarlah kalau pemerintah berkepentingan meraih, merengkuh dan mengajak mereka kembali ke Tanah Air sebelum orang lain (baca: negara lain) menampung mereka lebih lama dan mengembangkan kemampuan mereka.

Jangan sampai kita hanya menjadi penonton terbangnya orang-orang berkelas "premium" ke negara lain, sementara Indonesia sendiri hanya terisi sumber daya manusia kelas kesekian.

***