Ekonomi

Kilas Balik: Bandar Udara S. Tipa Padan Binuang Krayan Tengah

Senin, 28 November 2022, 08:26 WIB
Dibaca 585
Kilas Balik: Bandar Udara S. Tipa Padan Binuang Krayan Tengah
Foto: Bandar Udara ST Padan (sekarang)

Lapangan Pesawat terbang paling banyak di Dunia ada di tanah Dayak wilayah Krayan, diantaranya bandar udara S. Tipa Padan.

Adapun lokasi landasan pesawat tersebut, berada di Binuang, kemudaian ada bandar udara Yuvai Semaring di Long Bawan, lapangan pesawat terbang Long Umung, Bungayan, Lembudud, Lewi G. Paru di Long Layu, Pa’ Tera, Pa’ Upan, Long Rungan dan Long Padi. Sampai saat ini bandar udara perintis ini ada beberapa saja yang berfungsi karena akses jalan darat sudah mulai terbuka antara desa-desa di wilayah Krayan.

Adapun, wilayah Krayan ini terbagi dalam lima Kecamatan yaitu Kecamatan Krayan (Long Bawan), Kecamatan Krayan Selatan (Long Layu), Kecamatan Krayan Tengah (Binuang), Kecamatan Krayan Timur (Long Umung) dan Kecamatan Krayan Barat (Lembudud).

Dulu saya berpikir, bandar udara pesawat perintis itu di Indonesia pasti ada disetiap desa atahu kampung, ternyata saya salah berpikir seperti itu karena tidak tahu, setelah  saya tahu mulai berpikir lagi mengapa di wilayah Krayan ada banyak bandar udara Perintis? Saya berusaha mencari tahu jawabannya. 

Padahal, Indonesia menyatakan merdeka dan diakui oleh bangsa di Dunia kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejak Indonesia merdeka masyarakat yang ada di Wilayah Krayan tetap merasakan betapa sulitnya untuk mendapatkan hak sebagai warga negara Indonesia, walaupun sudah dinyatakan Merdeka dari penjajahan, mereka masyarakat perbatasan masih sulit mendapatkan akses ke ke daerah lain (kota), ambil contoh hanya untuk mendapat satu liter minyak tanah untuk penerangan harus berminggu-minggu jalan kaki atau ingin anak-anak sekolah harus diantar jalan kaki berminggu-minggu juga, belum lagi kalau ada yang sakit butuh pertolongan ke rumah sakit. Rintangan yang masyarakat rasakan pada masa itu memang sangat sulit. Namun, semangat darah juang mereka mendidih mendorong mereka untuk tetap bertahan dengan kondisi sulit seperti itu. 

Lewat tulisan ini, saya lebih fokus penulisan ini terhadap salah satu bandar udara perintis yang boleh dikatakan bandar udara paling Tengah di wilayah Tanah Dayak Krayan, dimana dari perbatasan dengan negara tetangga (Malaysia) dan dari daerah Perkotaan Indonesia bandar udara S. Tipa Padan Binuang inilah paling Tengah.

Bandar udara S. Tipa Padan Binuang ini mulai dikerjakan oleh masyarakat sekitar tahun 1960-an.

Pada waktu itu, seorang anak muda yang Bernama Samuel Tipa Padan perihatin dengan kehidupan masyarakat disekitarnya, beliau mulai berpikir bagaimana membawa sebuah perubahan, kemajuan, kesejahteraan dan kedamaian untuk masyarakatnya. Melalui sosok beliau, berbekal pengalaman, keberanian dan semangat, beliau mengumpulkan orang tua, tokoh masyarakat dan pemuda untuk menyampaikan ide membangun sebuah Lapangan Pesawat perintis di Kampung Ba Binuang (sekarang disebut Desa Binuang). Akan tetapi, ide ini tidak disambut baik oleh beberapa orang yang menganggap itu sebuah ide yang tidak mungkin dapat terwujud, namun satu sisi ada juga masyarakat yang mendukung ide tersebut. 

Namun, sosok Samuel Tipa Padan, tidak patah semangat untuk mendorong semangat untuk mewujudkan sebuah perubahan yang beliau yakini dapat membawa mereka keluar dari terisolir, terpencil dan terpinggirkan dari daerah perkotaan.

Sosok pemuda seperti Samuel Tipa Padan tidak berhenti disitu saja, karena beliau tahu masih banyak orang-orang disekitar beliau akan mendukung ide pembangunan Bandar udara Perintis di Ba Binuang, beliau meminta ijin pada orang tua atau kepala Kampung (sekarang desa) untuk mensurvei tempat bandar udara dan beliau mendapat restu dari tokoh masyarakat. 

Pada awalnya, tempat lokasi rencana bandar udara perintis ini masih berbentuk hutan lebat, beliau tidak habis pikir memerintahkan salah satu anak muda untuk memanjat pohon dan mengikat baju seperti bendera dan dikibarkan diatas pohon sebelah utara dari bandar udara S. Tipa Padan Binuang yang sekarang ini, beliau dan teman-teman yang lain berjalan ke arah selatan sekitar satu kilo meter dari titik tempat baju dikibarkan untuk melihat posisi baik untuk sebuah bandar udara nantinya. Setelah mereka mendapatkan posisi dimana bandar udara akan dibangun, mereka sadar bahwa tenaga yang mereka miliki tidak mampu mewujudkan ide besar itu, dan ditambah berita mutasi tempat kerja Samuel Tipa Padan ke Pa Upan sebagai guru sekolah disana, membuat rencana mereka membangun bandar udara di Ba Binuang tidak dapat mereka teruskan.

Menurut cerita, Daud Ipid seorang tokoh masyarakat yang menyaksikan langsung kejadian saat itu konfrontasi Indonesia – Malaysia tahun 1965, pasukan dari Indonesia melewati Ba Binuang menuju perbatasan di Long Bawan yang banyak dibantu masyarakat untuk menggendong perlengkapan perang, seperti senjata, peluru dan makanan perbekalan pasukan selama mereka mempertahankan nama Bangsa Indonesia dimata Dunia, pesawat heli mengangkut logistik dan amunisi sempat mendarat di Ba Binuang, saat itu terkendala dengan tempat mendarat, pesawat heli pengangkut logistik pasukan mendarat dekat dengan rumah masyarakat Ba Binuang mengakibatkan banyak atap rumah masyarakat rusak dibawa kuatnya angin pesawat heli, salah satu alternatif cepat mereka harus menebang pohon buah durian yang besar dekat dengan rumah mereka supaya pesawat heli dapat mendarat agak jauh dengan rumah mereka dan itu pun sebenarnya masih dianggap dekat dengan rumah masyarakat. 

Muncul ide mereka waktu itu lagi kenapa tidak dibuatkan helipad untuk pesawat heli di tempat rencana pembangunan bandar udara yang dibawa seorang pemuda waktu itu yaitu Samuel Tipa Padan dan mereka menebang pohon membersihkan tempat akan dibangun tempat pesawat heli mendarat, pada saat mereka mengerjakannya tidak ada yang mengeluh yang ada adalah canda-tawa menghilangkan rasa lelah, mereka mengumpulkan kayu bulat dibuat berjejer dan diikat dengan rotan, siap untuk heli mendarat, setelah jadi, landasan untuk pesawat heli. Namun ternyata pesawat heli tidak pernah mendarat di tempat yang sudah mereka buat.

Ditengah kesibukan beliau Samuel Tipa Padan sebagai guru, beliau sesekali pulang ke kampungnya untuk mengunjungi keluarga, pada saat itu beliau mengambil kesempatan untuk mengajak masyarakat, melalui kepala Kampung Ba Binuang untuk membentuk sebuah panitia yang mengatur seperti apa cara kerja pembangunan bandar udara Ba Binuang, mereka bersepakat untuk membuat panitia kecil, panitia yang dimaksud bukan panitia seperti panitia pembangunan rumah atau panitia lainnya yang ada hanya Koordinator mengkoordinir orang kerja saja dan cara kerjanya sederhana dengan perlengkapan seadanya seperti cangkul (cangkul pun terbatas), kayu, tandu dari bambu.

Menurut cerita bapak Daud Ipid ditunjuk sebagai koordinator kerja, mereka Bersama masyarakat lainnya sama-sama mengukur dan akan dibuat nomor dan diundi nomornya siapa mendapat bagian dimana mereka akan kerjakan sampai selesai, tanpa ada upah kerja semua dilakukan dengan sukarela. 

***

Singkat cerita, setelah bandar udara dapat digunakan, pesawat dari MAF mendarat dengan baik sebagai pesawat misi kemanusian membantu masyarakat dalam kesulitan mereka. 

Dibandar udara persis di ujung bandar udara ini terdapat sebuah lobang pertahanan dari tentara Indonesia dalam mempertahankan sebuah bandar udara perintis dari serangan musuh pada saat itu (Konfrontasi Indonesia – Malaysia), saya sempat melihat langsung lobang tersebut berbentuk huru U, masyarakat mengenalnya sebagai lobang tempat tentara Indonesia memasang senjata untuk menjaga pesawat musuh menyerang mereka. Namun, sayang tempat bersejarah atahu peninggalan tentara Indonesia ini harus digusur karena kepentingan pengembangan bandar udara dan jalan di sekeliling badara. 

Atas ide, semangat almarhum Samuel Tipa Padan membawa masyarakat bebas dari terisolir masyarakat memberi nama Bandar udara perintis yang berlokasi di Ba Binuang bernama Bandar Udara S. TIPA PADAN BINUANG. Dituangkan dalam Surat Keputusan Kepala Adat Besar Krayan Tengah Bapak Kam Pangiran.

Sebelum pemerintah membenah atau membangun landasan Bandar udara yang ada di ibu Kota Kecamatan Krayan Tengah ini, Gubernur Kalimantan Utara Bapak Zainal Arifin Paliwang dan Wakil Gubernur Yansen TP. M.Si. (2021-2024) meresmikan akan dimulainya Pembangunan Bandar udara S.TIPA PADAN BINUANG yang dihadiri seluruh masyarakat yang ada di Wilayah Krayan Tengah dan tamu undangan. 

Pada Tahun 2021 pemerintah pusat menggelontorkan anggaran untuk pembangunan bandar udara ini dari landasan tanah menjadi aspal, pada tahun 2022, saya berkesempatan mencoba mendarat pertama kali Bersama salah satu pilot dari MAF, saya tidak menyangka akan mejadi masyarakat lokal pertama mendarat di bandar udara S. TIPA PADAN setelah landasannya beraspal. Sore itu, saya di telpon salah satu karyawan dari kantor MAF untuk mendapingi pilot MAF untuk mengecek kesiapan badara S. Tipa Padan Binuang, membantu pilot untuk dapat berkomunikasi dengan pemerintah, masyarakat dan pengerja bandar udara apa-apa saja yang kurang di landasan bandar udara.

Sebelumnya ada juga pesawat Smart Avition mencoba dan mengecek kesiapan bandar udara tersebut. 

Diakhir tulisan ini saya memikirkan mengukir sejarah masa kini untuk masa depan, tidak lepas dari semangat terdahulu sampai saat ini untuk mewujudkan sebuah kehidupan yang lebih baik, menunjang sebuah langkah baik dalam membangun wilayah yang ada di dataran Tinggi Borneo.

***

Binuang, 14 Agustus 2022