Budaya

Merawat Kearifan Lokal Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo

Kamis, 2 Februari 2023, 20:30 WIB
Dibaca 656
Merawat Kearifan Lokal Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo
Foto Diono

Sering saya diajak ke tempat-tempat peninggalan orang Dayak orang tua dulu, mereka yang merasakan bagaimana hidup bertahan dari ancaman-ancaman di sekitar yang sangat terbuka, itulah yang disebut ngayau (saling bunuh, ambil kepala manusia) sebagai bentuk simbol kekuatan, keberanian dan bentuk kedewasaan.

Katika berbicara tentang kekuatan, keberanian dan kedewasaan, masyarakat Dayak Lengilo yang bermukim di sepanjang Sungai Krayan mempunyai masa kehidupan yang mereka lalui dengan mempertahankan diri dari orang diluar komunitas mereka, karena akibat dari gaya hidup mereka yang mengayau ditempat lain juga membuat mereka membentuk sebuah tempat pertahanan untuk keluarga dan komunitas mereka dari musuh mereka (mereka menyebutnya Bunu').

Suatu hari tanggal (21/12/22) , saya bersama beberapa masyarakat yang bermukim di Long Padi, kami berjumlah kurang lebih 16 orang mengecek atau melihat batas Desa yang disepakati oleh beberapa desa yang berdekatan. Kamipun memulainya dengan berjalan kaki dari rumah ke sebuah titik kumpul yang disepakati. 

Namun, sayang saya dan beberapa teman sampai di titik kumpul tersebut tidak menemukan satu orangpun, mungkin karena mereka yang duluan sudah bosan menunggu kami yang menyusul dari belakang, kami hanya melihat jejak kaki mereka yang duluan saja.

Dan kami melanjutkan perjalanan ke titik kumpul kedua dan sekaligus titik dimana akan kami bermalam atau menginap, dalam perjalanan suasana alam yang masih asli atau belum diganggu kayu, rotan dan kekayaan alam lainnya sangat terasa, sesekali kami berhenti bercerita bernostalgia dengan suasana dulu, mengingat ada satu orang tua yang ikut dengan rombongan saya pada waktu itu, dimana dia sudah sekitar dua puluh tahun lebih tidak pernah jalan jauh atau masuk hutan seperti dulu lagi.

Dalam perjalanan juga saya dan teman yang lain dikasih tau dengan jenis kayu yang ada di hutan oleh mereka yang paham dengan jenis tumbuhan, termasuk salah satu kayu yang paling mahal yaitu kayu Gaharu, kami bertemu dengan beberapa kayu dimana harga kayu ini sangat fantastis harga satu kilonya.

Sampai dimana tempat kami akan bermalam, saya sangat senang dengan suasana alam yang ada disekitar kami, kami bergerak tanpa perintah membuat tenda untuk menjaga siapa tau hujan, kurang lebih tiga puluh menit tenda pun sudah jadi, kami bagi tugas, ada yang pergi berburu, memancing dan memasang pukat, ada juga yang tinggal di pondok memasak nasi, air dan mempersiapkan makanan untuk kami.

Setelah kami yang tinggal di pondok mempersiapkan makanan untuk santapan kami malamnya, kami satu persatu mulai masuk ke dalam sungai untuk mandi, dimana tenda yang kami pasang berdekatan dengan pinggir sungai Padi, ditempat itu ada sebuah limbu besar yang mereka beri nama Rimong, atau sangat dikenal penduduk setempat Ru'eb Rimong.

Saya sempat berenang mandi di air Sungai yang jernih dan dingin kurang lebih lima belas menit, akhirnya saya tidak mampu bertahan karena dingin. Malam pun tiba kami duduk mengelilingi api sambil bercerita dan bercanda gurau dengan peserta lainnya. Namun, sebelumnya saya sempat memasang pancing, sambil-sambil memancing ikan yang disungai, saya pun ada dapat beberapa ekor ikan, dan teman-teman bakar untuk disantap pada malam itu. Hatipun senang tidak ada beban pikiran yang ada hanya kebahagiaan.

Malam pun sudah larut, kami satu persatu masuk ke tempat tidur yang sudah dipasang, seperti ayunan dari parasut dan ada juga yang tidur di tanah beralaskan tikar. 

***

Pagi sebelum kami menelusuri batas Desa, kami pun sempat berfoto bersama di pinggir sungai, dalam perjalanan menelusuri batas desa, saya banyak berbicara dengan Ketua Adat Desa dan beberapa orang tua yang ikut, bertanya dengan mereka dan menceritakan banyak hal tentang orang Dayak Lengilo' yang tinggal di daerah itu, waktu itu sempat juga dalam hati mengatakan, "tidak mungkin ada orang yang hidup ditempat yang seperti ini". Mengapa pertanyaan yang begitu muncul dalam hati saya waktu itu? Karena saya sudah berjalan hampir setengah jam jalannya hanya menanjak seperti naik tangga, keringatpun berkucuran dibadan membasahi baju yang dipakai. 

***

Sampai kami pada suatu tempat dipuncak gunung, kami pun bertemu dengan bongkahan batu besar berdiameter kurang lebih lebar satu kaki lebih dan panjang yang terlihat dari permukaan tanah tujuh puluh Centimeter. Saya juga cukup kaget dan terharu melihat tempat ini, dimana ada tiga bongkahan batu yang berdiri menghadap tiga penjuru, saya pun mulai bertanya lagi dengan model batu ini, mengapa batu ini didirikan dan menghadap ke tempat yang berbeda? 

Saya berusaha bertanya dengan mereka yang tua-tua hadir ditempat itu, mereka mulai menceritakan tempat itu merupakan tempat dimana komunitas masyarakat Dayak Lengilo' yang tinggal di daerah itu dulu sebagai tempat pertahanan terakhir mereka dari serangan musuh dari luar, logika saya awalnya tidak percaya ada orang tinggal di tempat itu, karena pertama diatas bukit pasti dingin dan rawan longsor, kedua susah air minum sehari-hari, ketiga Medan tempat berkebun atau bercocok tanam tidak luas.

Saya berusaha merenung dari atas tempat itu dan sambil melihat ke berbagai arah, dimana pohon sangat rimbun ditempat itu, kayu-kayu besar masih ada, saya sempat mendokumentasikan dengan handphone yang saya bawa. 

Apa yang saya dengar selama ini dari orang tua, akhirnya terjawab sudah kegelisahan hati saya waktu itu mengapa mereka tinggal disitu, ternyata itu adalah benteng terakhir mereka dari serangan musuh. Sangat luar biasa mereka menggunakan kekuatan alam untuk mampu bertahan dengan serangan musuh mereka.

***