Sosok

Dari Mimpi Masa Kecil hingga Ditahbiskan Menjadi Pendeta, Kisah Perjalanan Pelayanan Pdt. Lolenofianti

Rabu, 30 September 2026, 14:24 WIB
Dibaca 4
Dari Mimpi Masa Kecil hingga Ditahbiskan Menjadi Pendeta, Kisah Perjalanan Pelayanan Pdt. Lolenofianti
Foto: Ditahbiskan sebagai Pendeta

Perjalanan iman Pdt. Lolenofianti, S.Th., dari seorang anak yang bercita-cita menjadi pendeta hingga akhirnya menerima tahbisan pelayanan menjadi sebuah kisah tentang ketekunan, pengorbanan, dukungan keluarga, dan kesetiaan dalam melayani Tuhan.

Bagi jemaat Gereja Kristen Pemancar Injil (GKPI) Jemaat Binuang, nama Lolenofianti, S.Th., bukanlah nama yang asing. Perempuan yang akrab disapa Ibu Loli itu dikenal sebagai sosok yang tekun dalam pelayanan dan memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya ditahbiskan sebagai pendeta.

Lahir di Long Padi, Krayan Tengah, pada 23 Oktober 1993, Lolenofianti merupakan anak pertama dari pasangan Abner Langub dan Yuliana Rining. Ia tumbuh bersama tiga saudaranya dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi kehidupan iman Kristen.

Lingkungan keluarga tersebut turut membentuk kepribadiannya. Sejak kecil, Loli telah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pendeta. Keinginan itu kemudian bertumbuh seiring dengan keterlibatannya dalam berbagai kegiatan pelayanan gereja.

Sebuah Nama dengan Cerita

Ada kisah unik di balik nama Lolenofianti. Nama yang semestinya ditulis Lolinofianti berubah menjadi **Lolenofianti** akibat kesalahan penulisan ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Baca juga: Yansen TP pada Kongres Internasional I di Sekadau: Literasi Jalan Kebangkitan Kembali Peradaban Dayak

Kesalahan tersebut ternyata terus terbawa hingga berbagai dokumen resmi dan menjadi nama yang digunakan sampai sekarang. Bagi Loli, perjalanan tersebut menjadi bagian kecil dari kisah hidup yang mengajarkannya bahwa tidak semua hal berjalan persis seperti yang direncanakan manusia.

Pendidikan dan Pilihan untuk Melayani

Perjalanan pendidikan Lolenofianti dimulai di SD Negeri 26 Long Padi, yang kini dikenal sebagai SD Negeri 04 Krayan Tengah. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Krayan Tengah di Binuang dan kemudian SMA Negeri 1 Krayan di Long Bawan hingga menyelesaikan pendidikan pada 2011.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Lolenofianti menikah pada 2012. Pernikahan tersebut tidak membuat cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan dan mempersiapkan diri menjadi pelayan Tuhan berhenti.

Sebaliknya, dukungan sang suami menjadi salah satu kekuatan penting dalam perjalanan tersebut.“Lanjutkanlah pendidikanmu untuk mencapai cita-citamu,” demikian pesan sang suami yang menguatkan langkah Lolenofianti untuk kembali menempuh pendidikan.

Pada 2015, di tengah tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu muda, Lolenofianti memutuskan melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Teologi Sehati Malinau. Keputusan tersebut bukan tanpa pengorbanan. Ia harus membagi waktu, tenaga, pikiran, dan sumber daya untuk menjalankan pendidikan sekaligus tetap memenuhi tanggung jawabnya dalam keluarga.

Setia dalam Perkara Kecil

Kehidupan pelayanan Lolenofianti sebenarnya telah dimulai sejak usia muda. Tumbuh dalam keluarga Kristen yang aktif dalam kehidupan gereja, ia terlibat dalam berbagai bentuk pelayanan. Ia pernah melayani sebagai liturgos dan pemusik. Baginya, setiap tugas pelayanan merupakan kesempatan untuk mempersembahkan diri kepada Tuhan.

Kesetiaan dalam pelayanan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan panggilannya hingga memasuki tahap pelayanan yang lebih besar.

Tantangan terbesar muncul ketika ia harus menjalankan beberapa peran sekaligus: sebagai seorang istri, seorang ibu bagi dua buah hatinya, Yingluck Martha Formosa DIP dan Ozzie Alvaro DIP, sekaligus sebagai mahasiswa.Namun, perjalanan tersebut terus dijalaninya dengan keyakinan dan pengharapan kepada Tuhan.

Bca juga: Jejak Pengabdian Seorang Gembala: Tiga Dekade Kepemimpinan Pdt. Dr. Yulius Daud di GKPI

Pergumulan di Tengah Pelayanan

Dalam menjalankan pelayanan sebagai gembala Jemaat Binuang, Lolenofianti juga pernah menghadapi pergumulan kesehatan. Ia mengalami radang tenggorokan yang menyebabkan suaranya hilang. Berdasarkan pemeriksaan dokter spesialis THT, kondisi tersebut membutuhkan perhatian serius dan salah satu pilihan yang disampaikan adalah menghentikan aktivitasnya sebagai gembala jemaat agar dapat menjalani proses pemulihan. Situasi tersebut menjadi masa yang tidak mudah bagi Lolenofianti dan keluarganya.

Di tengah pergumulan itu, suami dan anak-anak terus memberikan dukungan. Doa dan pengharapan kepada Tuhan menjadi bagian dari proses yang dijalaninya. Jemaat Binuang juga memberikan kesempatan kepadanya untuk beristirahat selama satu bulan dari pelayanan guna menjalani proses pengobatan dan pemulihan.

Setelah menjalani proses tersebut, kondisi Lolenofianti berangsur membaik hingga akhirnya ia dapat kembali menjalankan pelayanannya.

Ditahbiskan sebagai Pendeta

Pada 25 September 2026, perjalanan panjang tersebut memasuki sebuah babak baru. Sebanyak tujuh vikaris di lingkungan Gereja Kristen Pemancar Injili ditahbiskan dalam sebuah acara pentahbisan pendeta. Salah satu di antaranya adalah Lolenofianti, S.Th.

Pentahbisan tersebut menjadi momentum penting dalam perjalanan panggilannya. Setelah sebelumnya menjalankan pelayanan dalam kapasitas sebagai vikaris, kini Lolenofianti diteguhkan untuk mengemban tanggung jawab pelayanan sebagai seorang pendeta secara lebih penuh.

Bagi keluarga dan jemaat yang selama ini menyaksikan perjalanan pelayanannya, momentum tersebut menjadi sebuah peristiwa penuh syukur. Perjalanan yang dimulai dari sebuah cita-cita masa kecil, dilanjutkan dengan pendidikan, pernikahan, perjuangan membagi waktu sebagai ibu dan mahasiswa, hingga pergumulan kesehatan di tengah pelayanan, akhirnya membawa Lolenofianti pada sebuah tahap baru dalam panggilannya.

Kini, sebagai Pdt. Lolenofianti, S.Th., ia melanjutkan perjalanan pelayanannya dengan tanggung jawab yang lebih besar. Pentahbisan tersebut bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari babak baru pengabdian kepada Tuhan, keluarga, jemaat, dan Gereja Kristen Pemancar Injili.

 Selamat atas pentahbisan Pdt. Lolenofianti, S.Th. Kiranya pelayanan yang dipercayakan kepadanya terus menjadi berkat bagi keluarga, Jemaat Binuang, Gereja Kristen Pemancar Injili, dan masyarakat luas, serta senantiasa dipakai untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

***