Ketika Pepih Nulis Pakai Mulut
Saya mengenal pria Sunda flamboyan ini sudah sangat lama. Kami tumbuh dari rahim perguruan yang sama, meski kemudian menempuh jalan yang sedikit berbeda. Dia mengabdi di Kompas, garis depan jurnalisme harian nasional, sementara saya bergerak di ceruk industri penerbitan. Jalur kami terus bersilangan, mengikat benang pertemanan yang awet melintasi dekade.
Bicara soal sejarah, ingatan saya langsung melompat ke sekitar tahun 2013.
Pada sebuah siang yang gerah. Di pelataran parkir gedung Kompas Gramedia (KG), bilangan Palmerah, Jakarta Pusat. Kami terlibat obrolan serius.
Entah setan apa yang merasuki saya waktu itu, tetapi sayalah orang yang aktif "ngompori" dia untuk mengambil keputusan besar: pensiun dini. Sebuah langkah berani yang akhirnya dia ambil untuk memulai babak baru dalam hidupnya.
Di dunia jurnalistik dan literasi digital, publik mengenalnya sebagai Pepih Nugraha. Namun bagi kalangan dekat, nama pena masyhurnya di masa kejayaan media cetak selalu melekat: King Q. Sebuah nama yang membawa aura karismatik, sepadan dengan pembawaannya yang necis dan penuh energi.
Lelaki ini selalu selangkah di depan soal adaptasi teknologi. Ketika banyak penulis angkatan kami masih setia memelototi papan ketik atau meraba laptop, Pepih sudah beralih ke metode yang lebih efisien. Sejak lama sekali, ia sudah "menulis memakai mulut".
Senjatanya adalah aplikasi modern di ponsel pintarnya: Keep Notes. Cukup aktifkan fitur voice-to-text, lalu mulailah ia berbicara. Kata-kata yang keluar dari mulutnya langsung menjelma menjadi barisan kalimat di layar teks tanpa perlu mengetik satu jari pun.
Gaya menulis yang tidak biasa ini tentu mengundang perhatian. Kawan kami, Dodi, paling hobi menjadikannya bahan candaan. Setiap kali melihat Pepih sedang asyik komat-kamit di depan ponselnya, Dodi pasti langsung menyambar dengan ledekan khasnya, "Nulis kok pake mulut?!"
Ledekan Dodi itu bukan tanpa alasan. Kadang-kadang, melihat Pepih "menulis" memang menyuguhkan pemandangan yang menggelitik. Bayangkan saja, di tengah warung kopi yang bising atau saat kami sedang berkumpul, tiba-tiba Pepih akan menempelkan ponselnya dekat-dekat ke bibir.
Wajahnya serius, matanya menerawang jauh. Lalu mulutnya mulai meracau dengan ritme yang cepat dan intonasi yang tertata. Orang asing yang lewat di dekat meja kami pasti akan menoleh, mengira pria flamboyan ini sedang membaca jampi-jampi atau sedang bertengkar lewat telepon dengan seseorang.
Lucunya lagi, teknologi voice-to-text tidak selamanya sempurna menangkap aksen Sunda-nya yang khas atau istilah-istilah gaul yang kerap ia lontarkan. Pernah beberapa kali, saat sedang asyik mendiktekan opini yang berbobot berat, aplikasi di layarnya malah memunculkan kata-kata melantur yang jauh dari maksud aslinya karena salah deteksi suara.
Begitu sadar teks di layarnya kacau, Pepih tidak kesal. Ia justru akan tertawa terbahak-bahak, lalu dengan santai menghapus bagian yang salah dan mulai "berkhotbah" lagi di depan layar ponselnya. Belum lagi nasib para cantrik, murid atau juniornya, yang kadang dihukum untuk merapikan tulisan-tulisannya. Mereka harus ekstra sabar menyunting spasi yang berantakan atau tanda baca yang hilang akibat metode dikte tersebut.
Pepih biasanya hanya akan membalas semua ledekan kami dengan tawa lebar yang khas. Baginya, mulut bukan lagi semata-mata hanya seperangkat alat untuk berbicara atau berdebat, melainkan jemari baru yang bisa melahirkan ribuan artikel, opini, dan cerita.
Melalui Keep Notes, "King Q" telah membuktikan bahwa kreativitas seorang penulis tidak boleh dibatasi oleh cara konvensional. Penulis tulen akan selalu menemukan jalan untuk menumpahkan idenya, bahkan cukup dengan sepatah dua patah kata yang diucapkan ke udara.
***
HP saya justru dia yang menginstalkan aplikasi Keep Notes.
Kang Pep pulalah yang mengajari cara menggunakannya. Kelihatannya sederhana, seperti jurus pembuka dalam sebuah perguruan. Namun setelah dipraktikkan, hasilnya mustajab. Apa yang terlintas dalam pikiran segera dicatat. Kata-kata keluar dengan bahasa kita sendiri. Tidak perlu bersilat dengan kata-kata yang bukan milik kita.
Di situlah saya melihat jurus Kang Pep. Ia menjaga sumber tulisan tetap berada di dalam diri penulis. Pengalaman menjadi tenaga dalamnya. Ingatan menjadi alirannya. Bahasa sendiri menjadi pedangnya. Maka tulisan tidak kehilangan jejak asal-usulnya.
Plagiat adalah seperti pendekar yang memakai jurus orang lain tanpa pernah menempa tenaga dalam. AI pun kadang demikian. Ia mampu menyusun seribu kalimat dalam sekejap. Namun kalimat yang tampak gagah belum tentu mempunyai darah kehidupan. Banyak yang terdengar meyakinkan, tetapi ketika diuji dengan kenyataan, ternyata kosong. Jauh panggang dari api.
Mesin dapat mengarang. Mesin dapat menyusun. Mesin dapat membuat kalimat yang kelihatan indah. Tetapi pengalaman hidup tidak dapat dipinjam begitu saja. Perasaan manusia tidak tumbuh dari algoritma. Luka, kegembiraan, persahabatan, kegagalan, perjalanan, perjumpaan, dan kenangan adalah perguruan yang ditempuh tubuh dan jiwa sendiri.
Karena itu, tulisan yang hanya dibangun dari rangkaian kata tanpa pengalaman terasa seperti jurus kosong. Gerakannya cepat, bunyinya keras, tetapi tidak mempunyai tenaga dalam. Narasinya melayang di alam abstrak. Tidak menyentuh tanah kehidupan. Tidak mengenal bau hujan, suara manusia, keringat perjalanan, atau getar perasaan ketika sebuah peristiwa benar-benar terjadi.
Sesungguhnya, apakah arti dari sebuah pena ataupun papan ketik bagi seorang pendekar kata yang sejati? Senjata hanyalah alat lahiriah semata.
Mau menggunakan jemari yang menari di atas tuts besi, ataupun menggunakan getaran suara yang dialirkan melalui embusan napas di tenggorokan. Bilamana jiwa sang pendekar sudah dipenuhi oleh samudra ilmu dan ketulusan rasa, maka aksara yang lahir akan tetap tajam menghujam jantung kebenaran.
Pikiran manusia ibarat angin yang tak kasatmata, dan Pepih telah berhasil menangkap angin itu lewat suara, menjadikannya sebaris prasasti yang abadi di dunia persilatan literasi modern.
Tangsel, pagi 6 Oktober 2026