Sosok

Call Sign: Indonesia, Otobiografi Pilot Termuda Garuda

Selasa, 19 Maret 2024, 08:53 WIB
Dibaca 230
Call Sign: Indonesia, Otobiografi Pilot Termuda Garuda
Buku

Pepih Nugraha

Penulis senior

Saya terlibat sebagai konsultan atas terbitnya buku "Call Sign: Indonesia", buku baru yang diterbitkan Elexmedia, Maret 2024. Ini buku otobiografi Nikmatullah Taufiquzzaman, pilot termuda Garuda Indonesia yang pernah ada.

Ketika didapuk sebagai konsultan, saya terlibat percakapan intensif dengan Pak Niko, demikian saya memanggil penulis otobiografi ini, setelah melakukan beberapa kali pertemuan. Pak Niko punya keterampilan menulis yang baik, tetapi tidak tahu harus mulai menulis darimana. Dalam setiap kali pertemuan, saya memberinya PR (pekerjaan rumah) berupa puluhan dan bahkan seratusan pertanyaan yang harus ia jawab setiap kali pertemuan. Jawaban harus dilakukan secara tertulis, lengkap dengan kondisi dan suasana hatinya.

"Pokoknya tulis sedetail-detailnya," pinta saya saat itu. Pak Niko menuruti dan ia secara berkala nyampaikan jawaban dalam bentuk tulisan. Semula ia ragu, tetapi saya meyakinkannya bahwa tulisan akan saya poles, karena selain sebagai konsultan saya sekaligus juga sebagai editor. Untuk itulah fee yang saya terima double hahaha...

Tentu saja saya menggali drama hidupnya yang paling dia ingat atau kesan dengan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya, entah saudara, teman sekolah atau sesama pilot yang menjadi bahasan utama otobiografinya. Saya menemukan hal menarik dari catatannya, bahwa saat bayi ia hampir tewas dalam ayunan ketika rumah di mana ia dibesarkan terbakar. "Coba eksplorasi bagian ini ya, Pak!" pinta saya.

Ada banyak hal menarik dari catatannya sebagai pilot Garuda Indonesia tatkala Pak Niko terlibat dalam "Operasi Seroja" saat "aneksasi" Indonesia ke Timor Timur yang sekarang menjadi Timor Leste itu. Saat itu sebagai pilot ia hanya mendapat perintah menerbangkan Fokker F-28 ke suatu tempat. 

Pak Niko menggambarkan, saat kondisi remang-remang dan lampu dinyalakan, ia tercengang saat melihat seluruh penumpang di dalam pesawat yang ternyata Tentara Nasional Indonesia, sedang rute yang harus ditempuh adalah Madiun-Denpasar-Kupang. Kapasitas F-28 Mark mampu menampung 65 penumpang, tetapi hanya diisi 40-an orang. "Mungkin karena mereka membawa senjata dan peralatan lengkap," tulisnya.

Hal menarik lainnya, saat latihan kemiliteran yang wajib dilakukan sebelum menjadi pilot, teman angkatan tertuanya bernama Machtino yang sudah berusia 23 tahun, sedang Pak Niko belum genap 17 tahun!

Ia menggambarkan Machtino salah satu calon pernerbang sebagai santai dan rileks. Karenanya kurang tepat waktu dan ia pernah tertidur saat piket malam. Panggilan "Niko" justru diberikan oleh Machtino itu, mungkin daripada memanggil "Nikmatullah". Sayang, Machtino tidak lulus pendidikan dan harus kembali ke Tanah Air.

Lalu siapa Machtino yang berkesan di hati Pak Niko ini? Dialah seorang ayah yang "keterlaluan" dalam menghukum anaknya hingga tewas, Arie Hanggara. Machtino harus berurusan dengan hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sedangkan kisah tragis Ari Hanggara menjadi pemberitaan nasional, bahkan sempat diangkat ke layar lebar.

Bagi saya itu kisah yang menyentuh dan menarik perhatian pembaca karena bagaimanapun Machtino adalah teman seangkatan Pak Niko. Tetapi, ia tidak ingin terlalu jauh bercerita tentang kisah tragis Ari Hanggara maupun ayahnya yang tidak lain adalah teman seangkatannya sendiri. "Cukup selintas karena itu bagian dari sejarah perjalanan hidup saya, terutama saat saya menjalani pendidikan pilot di Belgia," katanya.

Kemarin saya jalan-jalan ke Toko Buku Gramedia Bintaro Jaya dan buku otobiografi Pak Niko sudah terpajang di rak. Buku ini PERLU dibaca oleh penerbang maupun calon penerbang (pilot) karena selain berisi kisah perjalanan hidupnya sebagai pilot Garuda termuda (usia 18 tahun) juga ada beberapa bagian tentang teknik kepilotan, khususnya "do and don't"- seorang pilot. Pebisnis juga DIANJURKAN mambaca buku biografi ini karena manajemen penerbangan tak terpisahkan dari urusan menerbangkan pesawat itu sendiri.

Sebagai konsultan penulisan buku sekaligus editor, saya berbangga hati karena buku otobiografi ini diterbitkan oleh penerbit major, Elexmedia Komputindo, penerbitan di lingkung Kompas-Gramedia yang terkenal sulit ditembus. Saya memberi kata pengantar atau semacam catatan di buku itu.

Selanjutnya saya menanti saja siapapun yang berniat menulis biografi, otobiografi atau buku umum lainnya, tetapi kesulitan dalam mewujudkannya. Insya Allah saya masih punya waktu.

Selamat ya, Pak Nik!

(Pepih Nugraha)