Sastra

Sesuatu yang Tercapai

Jumat, 25 Februari 2022, 07:34 WIB
Dibaca 91
Sesuatu yang Tercapai
berhasil mencapai tujuan

SESUATU YANG TERCAPAI
Rintik hujan terdengar bergemuruh, suasana sunyi menyelimuti ruangan kamar tidur randa. Kini hanya terdengar suara air menjatuhkan diri ke permukaan bumi. Randa tengah berada pada meja di sudut kamarnya untuk menyelesaikan beberapa tugas yang dikumpulkan besok. Besok merupakan hari Senin yang sibuk. penuh dengan teka teki mengapa suasana pada hari Senin membuat randa sakit kepala, ia sangat tidak menyukai hari tersebut tanpa diketahui alasannya...


Alarm jam berbunyi yang tertera menunjukan jam 7 kurang, Randa lagi lagi lupa untuk memasang alarm di hari sekolah. Randa menggerutu menyalahkan dirinya sendiri, ia bergegas mandi dan siap siap untuk pergi sekolah. Benar saja Randa dihukum untuk berdiri di depan lapangan karena telat dan lagi lagi atribut sekolahnya tidak lengkap.


Setelah upacara yang kian lama akhirnya selesai juga. seluruh siswa kini berada pada kelasnya masing masing untuk mendapatkan pelajaran pertama. Teman sebangku Randa yakni Rara mengejeknya karena randa selalu telat dengan alasan yang sama dan tentunya selalu saja di balas dengan senyum manis randa. Setelah melewati banyaknya jam mata pelajaran, bel istirahatpun berbunyi. semua murid kelas mengucapkan salam, sebagian siswa bergegas untuk keluar dan sebagian lainnya memutuskan untuk di kelas memakan bekal makan siang yang dibawa dari rumah.


Rara dan Randa memutuskan pergi ke perpustakaan terlebih dahulu untuk meminjam beberapa buku dan melanjutkan untuk makan siang di taman belakang, belum sampai pada tempat tujuan yaitu perpustakaan tiba tiba Rara menunjuk kepada satu poster yang terpampang pada mading di depan ruang perpustakaan.
“Randa, lihat ada perlombaan menulis dan membaca puisi!!!” Dengan wajah berseri seri menunjukan posternya.
Randa melirik mengikuti tunjukan tangan rara, dalam hatinya ia sangat ingin mengikutinya namun pikiran tersebut ditepis keras keras.
“oh,”
“yuk masuk Ra, katanya mau meminjam beberapa buku buat referensi tugas ipa?” Jawabnya dengan gugup.


Rara menaikkan alisnya memandang sahabatnya itu dengan heran, bertanya tanya sebenarnya yang ada di dalam otak sahabatnya randa itu apa.
“randa, serius? Aku bilang ada poster menulis puisi, dan kamu hanya menjawab dengan oh? Aku tahu betul bahwa kamu tertarik ran, setidaknya coba dulu ya? Karya karya puisi yang kamu tunjukin ke aku itu udah melebihi keren ran.”


Randa mencoba mengalihkan kontak mata dari mata sahabatnya yang memiliki aura mengintimidasi secara terang terangan
“Randa dengerin aku, kita ini masih pelajar, jangan takut untuk mencoba hal hal baru hanya karna takut salah, setidaknya kesalahan masih bisa di perbaiki pelan pelan.”

Randa adalah seorang anak yang memiliki sedikit masalah pada kepercayaan dirinya, ia sebenarnya anak yang berbakat namun ia juga sangat sulit untuk mengekspresikan dirinya kepada yang lain. setelah banyak berbincang dengan Rara, Randa akhirnya menyetujui untuk mengikuti lomba tersebut dengan kepasrahan dan desakan sahabatnya.


Gelap malam menyelimuti langit sebagian wilayah Bumi, cahaya rembulan yang kini telah menemaninya sejak 5 jam lalu, jam dinding menunjukan sebentar lagi akan memasuki tengah malam, dia tetap berada pada meja di sudut kamarnya. kini hanya lampu belajar yang menerangi ruangan lega itu, kertas kertas berserakan dimana mana, Randa memikirkan ide untuk sebuah puisi yang akan ditampilkan untuk lomba puisi pekan depan, tetesan air mata membasahi kertas kertas kumpulan ide, ia sangat ingin menyerah padahal sama sekali belum memulai. Dan ide ide tersebut hanya satu permulaan untuk semuanya.
“Bukannya seharusnya aku tak meng-iyakan ajakan tersebut?”
Randa beranjak dari mejanya menuju jendela kamar. Tiupan angin seolah menyapa perasaan hambar yang sedang dirasakan. Langit malam sangat cantik dihiasi bintang gemerlap yang memanjakan mata. Benar benar sangat indah. Bulan yang terpotong setengah itu seolah tau apa yang dirasakan seorang gadis yang dipenuhi pertanyaan pada batinnya. Gadis itu menyukai malam, itu adalah alasan kuat dari pertanyaan mengapa ia sering telat. setelah lamunan ringan yang dihabiskan kurang lebih 10 menit dia bertekad untuk mencobanya terlebih dahulu sebagaimana kata sahabatnya.


Hari hari tetap berlanjut, Randa melakuan aktivitas seperti pada biasanya, mulai dari sekolah dan berlatih membaca puisi. Hari perlombaan sudah semakin dekat, memang awalnya ia ingin menyerah namun pada akhirnya sahabatnya selalu mendukungnya sampai di titik naskahnya sudah jadi.
Hari ini merupakan hari perlombaan puisi yang diselenggarakan di tengah lapangan, Randa tak menyangka akan seramai ini yang menonton event tersebut.


Detak jantung randa bergedup kencang rasanya ia sangat ingin kabur pada saat itu juga, namun ia berfikir jika ia kabur sekarang usaha-usaha yang ia lakukan dari membuat ide dan latihan latiahan akan sia sia. Randa meyakinkan dirinya sendiri untuk mencoba melawan rasa takutnya. Terdengar kericuhan mic yang memulai memanggil nama nama peserta, dan tiba pada nomor urut ke 5 yang peserta itu adalah Randa.
Randa menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan lalu berjalan menuju panggung. menampilkan hasil dari usaha usaha kerasnya selama ini. Rara duduk di kursi paling depan untuk menonton sahabatnya secara lebih dekat. Randa mengawali pembukaan dengan ucapan salam dan perkenalan lalu memulai pada kalimat pertama yang ada di naskah yang ia buat. Kegugupan menyelimuti pada pertengahan penampilannya namun ia berhasil mengalahkannya karena membayangkan semua orang yang menonton hanya rekayasa, tidak disangka itu membuatnya lebih nyaman untuk berbicara secara leluasa. ia berhasil menyelesaikan sampai dengan kalimat akhir pada naskah puisi.


Ricuhan tepuk tangan berbunyi kencang setelah Randa menutup penampilannya dengan salam. Masih dalam kegugupan namun hatinya sudah merasa lega karena semuanya berjalan lancar sesuai rencananya. Ia sadar bahwa semuanya tidak sesulit yang dibayangkan ia merasa bahwa kepercayaan dirinya seharusnya tidak diletakan pada sesuatu yang ia tidak bisa melainkan sesuatu yang ia bisa. Randa tidak mempedulikan akankah penampilannya akan meraih 3 terbaik dari semuanya atau bahkan tidak sama sekali. seperti kata Rara ‘setidaknya coba dulu’. Randa sangat berterimakasih kepada sahabatnya Rara yang menemani dan mendukung dari proses pembuatan naskah hingga akhir.
“Terkadang sesuatu yang dianggap biasa saja bagi sebagian orang sangat sulit untuk sebagian lainnya, kepercayaan diri seseorang tergantung Bagaimana seseorang yakin atas kemampuan dirinya. Yang terpenting sekarang adalah jangan takut dalam mencoba sesuatu hal yang baru karna semuanya tidak semenyeramkan yang ada dalam batinmu”