Riset

Pedasnya Harga Cabai

Kamis, 11 Maret 2021, 09:43 WIB
Dibaca 248
Pedasnya Harga Cabai
dokpri

Harga cabai di berbagai daerah meroket tajam, sehingga membuat sebagian masyarakat yang setiap hari makan cabai menjadi pedas sungguhan.

Sebab tidak hanya cabainya yang pedas tapi juga harganya yang tiba-tiba melambung. Kantongnya juga ikut kepedesan.

Sebenarnya bukan salah siapa-siapa juga karena memang kondisi cuaca yang demikian, curah hujan yang masih tinggi menjadi salah satu factor penyebab utamanya.

Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan kondisi tanah menjadi lembab, dalam kondisi yang demikian menyebabkan bakteri, jamur, pathogen berkembang dengan cepat sehingga menyebabkan tanaman mudah terserang penyakit. Tidak hanya terjadi pada tanaman cabai tetapi sesungguhnya hampir di semua jenis tanaman budidaya.

Pada titik ini sesungguhnya petani sudah berjuang dengan luar biasa untuk mengoptimalkan hasil pertanian khususnya cabai akan tetapi pada akhirnya semuanya bergantung karo seng ngecet lombok (kepada Tuhan) kalau dalam ungkapan orang jawa.

Dilansir dari bulog.co.id pemerintah bergerak untuk mengatasi tingginya harga pasar cabai dengan melakukan operasi pasar. Perlu diapresiasi langkah pemerintah dalam mengatasi tingginya harga cabai sehingga menolong para pengusaha dan pedagang sehingga keberlangsungan ekonomi dapat terus berlangsung bagi para pengusaha yang berkaitan dengan salah satu komoditi ini yaitu cabai.

Tetapi di sisi yang lain petani sesungguhnya juga mendapat apresiasi karena tingginya lantas tidak serta merta petani mendapat untung yang besar. Itu hanya untuk bagaimana supaya petani tidak rugi terlalu besarnya setidak tidaknya bisa balik modal lah untuk modal tanam berikutnya.

Petani kita patut dihargai karena kerja kerasnya sesungguhnya bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk orang lain. Pedasnya cabai memang sangat terasa Ketika masa-masa seperti ini harganya juga membuat orang teriak-teriak.

Keadaan seperti pada ini barangkali sudah pernah terjadi pada masa-masa yang dulu. Sebuah cerita dalam peradaban manusia dimana bangsa Israel harus membeli gandum ke negeri mesir yang pada waktu itu Yusuf yang menjadi orang kedua di Mesir dibawah Firaun mampu mengantisipasi kelaparan pada zaman itu. Dengan menyimpan gandum pada masa 7 tahun kelimpahan.

Barangkali itu dapat menjadi inspirasi kita baik petani, pemerintah, maupun pengusaha untuk menghadapi persoalan pedasnya harga cabai di waktu-waktu yang akan datang.

Memang tidak mungkin juga kita menyimpan cabai, akan tetapi pada saat cabai melimpah ada baiknya pemerintah tetap menjaga harga cabai agar tidak jatuh. Sehingga petani mampu menginvestasikan dananya untuk mengembangkan teknologi dalam budidaya cabai sehingga dapat menolong semuanya agar pedasnya harga cabai dapat kendalikan pada masa-masa yang akan datang.

Maju petani kita, sejahtera bangsa kita.