Literasi

Timbang Badan untuk Batu Ruyud Writing Camp

Rabu, 26 Oktober 2022, 19:21 WIB
Dibaca 58
Timbang Badan untuk Batu Ruyud Writing Camp
Timbangan

Dodi Mawardi

Penulis senior



"Baru kali ini, mau ikut acara penulisan harus timbang badan," ujar salah satu peserta.
"Kayak mau tanding tinju, hehe..." kata yang lain. Dalam olahraga tinju, sebelum tanding harus timbang badan sesuai kelasnya.

Demikianlah adanya. Sepekan sebelum Batu Ruyud Writing Camp I (BRWC I) 2022 berlangsung, 15 anggota rombongan sibuk menimbang badan.
"Sudah lama saya gak menyentuh timbangan," kata Kang Herman, "tunggu ya nanti sampai di rumah mau cari timbangan."


Berat badan biasanya jadi isu kaum hawa. Paling rajin nimbang. Sementara, kaum adam relatif jarang yang berakrab ria dengan alat pengukur "beban" hidup itu. Gara-gara Batu Ruyud Writing Camp, beberapa pria perkasa nan berbobot itu, segera naik timbangan.

Dr. Yansen TP., M.Si, si empunya hajat yang biasa disebut YTP, mengingatkan soal berat badan tersebut. Apa pasalnya? Untuk menggapai Batu Ruyud, kami harus menggunakan pesawat mungil. Seukuran mikrolet atau angkot. Pun kapasitasnya. Hanya mampu mengangkut total beban kurang lebih 1.000 kg. Orang dan barang. Tak jauh beda dengan kapasitas lift di gedung-gedung bertingkat.

Kalau masuk lift, kelebihan beban, pasti bunyi "tit tit tit" dan dia enggan bergerak naik atau turun. Pun demikian pesawat mungil milik MAF atau Susi Air yang kami charter untuk mengangkut peserta BRWC I ini. Mereka enggan mengudara kalau berat berlebih. Sudah banyak kejadian penumpang atau barang ditinggal demi keamanan, kenyamanan, dan keselamatan.

"Total 1.010 kg..." tulis pak YTP.
"Maaf pak, ada salah tulis. Satu peserta seharusnya 85 kg, tertulis 65 kg..." tulis saya, sehingga berat total jadi 1.030 kg. Itu baru berat penumpang. Belum termasuk berat barang bawaan.

Apa boleh buat. Pengumuman khusus pun diciptakan panitia.
"Bapak ibu sekalian, mohon hanya membawa barang yang benar-benar penting saja ya. Mohon jangan sampai berat badan melebihi yg sudah dilaporkan."

Total berat badan itu untuk dua pesawat. Satu pesawat hanya mampu menampung maksimal 8 penumpang. Tidak lebih. Kurang boleh. Alhasil, dua pesawat charter kurang, karena jumlah rombongan total dari Jakarta dan Malinau mencapai 19 orang. Dua peserta dari Jakarta terpaksa berangkat lebih awal demi mengejar pesawat lain yang terbang lebih dulu menuju Batu Ruyud. Sekaligus mengurangi beban pesawat berikutnya.

Cukup menghibur urusan berat badan ini. Saya sendiri berdiet sederhana, "mengurangi jumlah makanan yang masuk ke perut." Target maksimal 78 kg sesuai yang dilaporkan. Padahal saat melaporkan itu berat masih 80 kg. Saat menulis artikel ini, berat badan sudah 77 koma sekian Kg.

Berhasil!
"Hore..." seperti pekik Dora the Explorer sambil melompat-lompat.
Semoga peserta lain pun demikian.
Demi berliterasi di batas negeri.