Literasi

Obrolan Literasi yang Berkualitas & Inspiratif

Kamis, 24 Juni 2021, 17:30 WIB
Dibaca 265
Obrolan Literasi yang Berkualitas & Inspiratif

Sore yang mendung tak menyurutkan langkah kami menuju ke rumah Dinas seorang kawan kerja. Pada akhir tahun pelajaran ini, ia mengakhiri pula masa kerjanya dan pindah ke kota lain.

Miss satu ini perangainya bak putri solo. Nada bicaranya lembut tapi penuh daya, terdengar sangat luwes. Berkulit putih, rambutnya terurai lurus. Sosok yang mempesona.

Suasana terasa cukup sedih karena kami terbiasa bekerja sama dalam pekerjaan. Saling melengkapi dan menopang.

Awalnya hanya ingin sebentar saja kami datang sekedar bersua. Tetapi melihatnya membereskan rumah itu. “datang bersih, pergi bersih” begitulah tata krama yang kami pegang.

Tak tega juga langsung meninggalkan. Tak hanya kami yang cukup sedih anak-anak kami yang mulai akrab pun harus berpisah.

“Bro (biasa dia memanggilku-masbro) jangan buru-buru pulang ya, temani kami beres-beres. g usah bantu g papa yang penting di sini saja,” pintanya.

Tanpa pikir panjang saya ok saja. Apalagi suami mbakyu sudah berrangkat duluan mengawal barang-barang. Meski celana basah kena hujan selama perjalanan tadi. Ditambah lagi anak-anak kami yang asyik bermain. Rumah yang tadinya sepi kini riuh dengan teriakan-teriakan mereka.

Tidak hanya kami sekeluarga yang malam itu hadir menemani mbakyu. Begitu aku memanggilnya. Seorang rekan kerja yang beberapa tahun lalu bersama. Namun sekarang sudah pindah ke tempat lain. Terakhir kabarnya sedang menyelesaikan studi Magister-nya di negeri seberang.

Tak berkesan rasanya jika perpisahan tidak ada sesuatu yang diberikan sebagai tanda kenangan. Karena waktu yang cukup terbatas. Maklum kami baru ngeh kalau besok mbakyu sudah berangkat. Sejenak aku berpikir apa yang bisa aku bawa. Kulihat di rak buku eh.. masih ada buku yang masih tersegel.

Nah, ini saja, gumamku.

Sebuah buku kumpulan cerpen karangan seorang senior, Paran Sakiu. Menariknya adalah judul buku itu. Rasanya cukup untuk mengungkap suasana perpisahan malam ini. Hari Terakhir.

Sontak kami tertawa. Sejenak kemudian kami terdiam. Tak kata. Juga tanpa air mata. Sadar bahwa kami selama ini telah bersahabat dan menjadi rekan kerja yang baik.

Ketika mbakyu menerimanya, nampak raut muka senang. Namun sesaat kemudian, nampak dahinya berkerut.

“Judulnya ini, kok ya pas bro,” serunya.

Sontak kami tertawa. Sejenak kemudian kami terdiam. Tak kata. Juga tanpa air mata. Sadar bahwa kami selama ini telah bersahabat dan menjadi rekan kerja yang baik.

"Ok! aku tak lanjut beres-beres ya," seru Mbakyu dengan logat Jawanya seketika Memecah keheningan.

Tertinggal kami berdua.

Miss Es gimana kabar? Tanyaku.

Baik pak, jawabnya dengan penuh senyuman.

Miss satu ini perangainya bak putri solo. Nada bicaranya yang lembut tapi penuh daya, terdengar sangat luwes. Berkulit putih, rambutnya terurai lurus. Sosok yang mempesona. Maaf tak kulanjutkan takut banyak yang memimpikan.

Kami duduk tak berhadapan. Meja makan persegi panjang memberi kami posisi itu. Bersebelahan. Ia duduk di sisi kananku.

Kami saling bersapa tentang kabar dan aktifitas sekarang. Sampai pada topik tentang literasi. Lalu sedikit saya berinisiatif memberikan pandangan.

“Miss kan sudah S-2 dari luar negeri lagi. Miss sudah punya dua buku itu. Ya, dua buku. Skripsi dan tesis. Naskah yang sudah jadi bahkan tanpa perlu diuji. Hanya perlu disentuh dalam bahasa buku. Kalau miss mau, kirim saja coba saya sentuhkan sedikit untuk jadi gambaran seperti apa kalau jadi buku nanti.

Ok! Sebelum kesana sekarang kan tren menerbitkan buku secara indie (menerbitkan buku secara mandiri). Cara menerbitkan buku seperti ini punya keuntungan tersendiri: bisa cetak sesuai permintaan dan royalti lebih besar. Harga silahkan ditentukan sendiri. Ya, sedikit belajar berjualanlah.

Bagaimana dengan pembeli. Hari ini, teman, komunitas adalah market alias pasar. Kalau miss ada teman 50 saja, sudah bisalah terbitkan buku. Kalau takut harga kemahalan ya patok harga minimal yang penting balik modal. Jadi modal terbitkan buku berikutnya.

Sayang kan kita sudah capek-capek nulis tapi tak dinikmati kalayak.

Nah, prosesnya Miss kirim naskah, kemudian kami proses, kalau ok! Silahkan Miss kasih DP sekedar tanda jadilah. Kami akan siapkan cover dan ISBN. Cover akan kami kirim dalam bentuk image untuk promosi dan memastikan siapa yang siap membeli buku Miss.

Sayang kan miss sudah nulis tapi tak dapat dinikmati kalayak. Mungkin saja ide miss itu malah bisa menjawab atau setidaknya menginspirasi banyak orang. Lalu, mungkin miss bertanya apa buku saya akan dibaca orang? Soal itu Miss. Saya rasa miss sesungguhnya tahu jawabannya.

Tidak setiap buku kita baca dari awal sampai akhir. Mungkin hanya mencari ide saja, atau mana yang kita perlukan saja bukan? Lalu kita kan tahu siapa pembeli kita. Tapi yang jelas buku itu telah dibeli. Selesai! Buku yang dibeli juga tidak serta-merta untuk dibaca. Tapi pembeli merasa sangat senang dan bangga karena penulis adalah sahabat atau rekan. Ya, kira-kira seperti itu miss." 

“Ya, juga ya! Sayang kan kita sudah capek-capek nulis tapi tak dinikmati banyak orang,” Ujar Miss, yang seakan setuju dengan penjelasanku.

“Eh, sebentar ya, pesanan kami datang” seru Miss.

Tak lama, Miss kembali dengan 2 bungkus makanan.

“Yuk, kita makan,” serunya.

“Kami juga membawa sate ayam khas Madura,” sahutku.

Kami pun makan bersama.

Obrolan pun terus berlanjut seputar literasi dan penggunaan teknologi untuk mempermudah berliterasi. Lain waktu saya jelaskan. Intinya, berlitarasi dan khususnya menulis pada masa kini jauh lebih mudah.

Tak lama pintu di ketuk. Kami sudah menduga itu si bro Ming. Datang bawa wedang ronde. Sesuai janjinya sejam lalu.

“Kalau kalian masih mau nunggu aku belikan wedang ronde” serunya saat video call.

Sembari menikmati wedang ronde yang masih panas, obrolan kami berlanjut.

“Pengakuan lain pun terucap. Padahal dulu aku suka-suku nulis-nulis. Tapi kemudian tak lagi. Karena tak tahu lagi mau diapain tulisan-tulisan itu. Tapi sekarang rasanya jadi semangat menulis lagi,” ungkap miss.

Pengakuan lain pun terucap. Padahal dulu aku suka-suku nulis-nulis. Tapi kemudian tak lagi. Karena tak tahu lagi mau diapain tulisan-tulisan itu. Tapi sekarang rasanya jadi semangat menulis lagi.

Ungkapan seperti itu sering saya dengar ketika memperbincangkan tentang menulis. Saya yakin bahwa banyak orang ingin dan berusaha menulis atau bahkan sudah menulis. Minimal menulis tentang dirinya sendiri.

Namun ada ungkapan yang lebih unik lagi, “wah dimana ya skripsiku dan tesisku, padahal topiknya bagus itu. Harusnya sudah bisa jadi buku. Nanti saya carilah pak”.

Baru sadar, barang itu ternyata sangat berharga. Lebih-lebih mengingat perjuangan ketika menulis dan menyusunnya.

Tak terasa waktu sudah memasuki tengah malam.

Ku lihat mbakyu sudah selesai beres-beres. Namun anak-anak kami masih asyik bermain. Sudah waktunya mereka tidur. Kami bersiap untuk pamit. Namun sebelum kami beranjak. Saya mengajak sejenak berdoa untuk mbakyu dan keluarga sekaligus untuk perjalanan kami pulang.

“Hati-hati! dik Tania,” seru Moty.

Sayang Tania tak menjawab, entah malu atau sedih kami tak dapat menerka.

Sayang Tania tak menjawab, entah malu atau sedih kami tak dapat menerka.

Sesampai di rumah. Saya kirim pesan via WA, mengucapkan terima kasih ke Mbakyu, Miss, dan Bro Ming.

Namun, balasan yang cukup menarik perhatianku hingga kutuliskan ini.

Pesan dari Miss, “Saya yg thanks buat obrolan yg bkualitas n menginspirasi!”

Biarlah tulisan jadi kenangan abadi, perpisahan malam ini. 

Selamat bertugas di tempat baru Mbakyu. Tuhan menolong!

****