Literasi

Perjalanan Data Dian (9) Tiga Teman yang Terpaksa Harus Kami Tinggal

Minggu, 18 September 2022, 19:30 WIB
Dibaca 58
Perjalanan Data Dian (9) Tiga Teman yang Terpaksa Harus Kami Tinggal
Ulfah dan Arisa (Foto: Pepih Nugraha)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Sesuai rencana, kami mulai bergerak dari Malinau Kota menuju Bandara Kol. RA Bessing pada 14 September 2022. Sesuai kesepakatan dengan pihak MAF, pengelola pesawat perintis carteran, kami boleh membawa orang dan barang maksimal 800 kilogram.

Dengan beban maksimal ini, KKI Warsi mengalokasikan 9 penumpang plus barang, toh tidak semua berat badan masing-masing calon penumpang 90 kilogram sehingga terbang tanpa barang. Jika berat badan kami rata-rata 65 kilogram, maka barang yang bokeh kami angkut seberat 215 kiligram. Begitu hitung-hitungnya.

Namun beberapa menit sebelum keberangkatan, Yul Qadri dari Warsi mengabarkan berita buruk dari MAF, bahwa pesawat terbang yang kami carter hanya membolehkan maksimal beban angkut manusia dan barang maksimal 500 kilogram, dipangkas hampir setengahnya. "Terpaksa ada yang harus ditinggal, tidak bisa ikut ke Data Dian," katanya.

Padahal, kesembilan penumpang sudah berada di tempat penimbangan orang dan barang di bandara yang mengambil nama tokoh pejuang Malinau itu.

Ulfah Fauzia dan Arisa Sitinjak, fasilitator Warsi dan Joshua Mikail, penduduk Data Dian yang ikut pelatihan menulis, sudah berada di bandara saat detik-detik penimbangan barang dan orang dilakukan. Mereka bertiga sudah bersama keenam orang lainnya yang juga akan berangkat.

Namun sesuai penekanan peran dan tugas saat berada di Data Dian, akhirnya Ulfah, Arisa dan Joshua yang harus ditinggal. Bukan mereka tidak masuk prioritas, lebih pada peran dan tugas itu tadi. 

Tugas Arisa misalnya, justru penting karena dialah yang akan mengajarkan pegawai desa dan warga "legal drafting". Tujuannya agar warga desa mampu membuat peraturan desa. Sayangnya, aturan "legal" dari pihak MAF tidak bisa ditawar-tawar.

Pesawat terbang, sekecil apapun dia, harus melalui prosedur "zero accident" sebelum mengangkasa. Pesawat ukuran mikrolet itu sudah harus membawa beban avtur yang banyak dari Tarakan di saat cuaca buruk, karena kemungkinan pesawat bermanuver lebih lama di udara lebih besar. Beban avtur terpaksa mengurangi beban muatan kami.

Kalau sudah pihak MAF yang mengoperasikan pesawat sudah "bersabda", kami harus patuh dan pengurangan beban muat -barang dan orang- tidak mengurangi biaya carter yang disebut "donasi" sebesar Rp39juta per sekali terbang ke Data Dian dari Kol. RA Bessing.

Pemandangan yang cukup mengharukan terjadi saat kami berenam harus mengucapkan selamat tinggal pada Ulfah dan Arisa, sementara Joshua harus menunda perjalanannya sampai pekan depannya lagi, tanggal 21 September 2022 saat pesawat yang kami carter akan menjemput kami di Data Dian. 

Rupanya Ulfah dan Arisa yang sudah siap dengan "peralatan tempur" lapangan harus kembali ke markas KKI Warsi di Malinau Kota, sementara kami berenam akan segera terbang ke Data Dian.

"Hati-hati, ya, selamat bertugas!" kata Ulfah setelah kami selesai ditimbang dan menuju ke ruang tunggu.

(Bersambung)