Literasi

Banyak Pakar Kok Belum Menulis Buku

Kamis, 27 Agustus 2020, 09:47 WIB
Dibaca 87
Banyak Pakar Kok Belum Menulis Buku
Kolase pribadi

Dodi Mawardi

Penulis senior

Seorang kawan mengeluhkan kondisi dirinya, ketika berdiskusi tentang menulis buku. Menurutnya, dia tidak akan mampu menulis sebuah buku karena dia belum menjadi pakar di bidang apapun. Ketika saya tanya bermacam kemampuannya, semua dijawab dengan kata ’rata-rata air’ sebagai gambaran kemampuannya yang pas-pasan. Sampai membicarakan minat/hobi sekali pun, dia tetap ’keukeuh’ semuanya tidak layak dibukukan karena dia tidak memiliki apapun yang istimewa.

           

”Ya sudah lah...”  jawab saya menyerah.

 

Saya katakan kepadanya, untuk menjadi seorang penulis tidak butuh KEPAKARAN. Anda seorang pakar atau bukan, tidak menjadi masalah. Yang dibutuhkan hanyalah penguasaan materi. Menguasai materi belum bisa masuk kategori pakar, karena yang menentukan kepakaran seseorang bukan kita sendiri melainkan pihak lain. Misalnya media massa atau kampus atau komunitas tertentu dan sebuah buku. 

 

Dengan patokan seperti itu, maka setiap orang pasti menguasai sejumlah hal, mulai dari yang sepele sampai pada tingkat yang rumit. Seorang pemulung misalnya, pasti menguasai teknik memulung terbaik yang mampu menghasilkan pemasukan terbesar buatnya. Dia tahu lokasi memulung potensial, dia mengerti jenis barang yang harus dipulung, dan dia pun paham kapan waktu paling tepat untuk memulung. Dia menguasai semuanya, tapi tidak bisa disebut sebagai pakar bidang memulung.

 

Jika semua pengetahuannya tersebut dibagikan kepada orang lain dalam bentuk apapun termasuk buku, bisa jadi pemulung tersebut mendapat predikat baru – PAKAR MEMULUNG. Atau paling tidak, dia akan mendapatkan pengakuan sebagai pemulung yang T.O.P. B.G.T.

 

Menulis Bukulah Anda akan Menjadi Pakar!

Nah, jika Anda belum-belum sudah mencap diri tidak memiliki keistimewaan apapun, belum menjadi pakar dan lain sebagainya, sampai kapan pun tidak akan bisa menulis buku. Ubah paradigma tersebut dan yakinkan diri sendiri bahwa ”Saya punya sesuatu untuk dibagikan kepada orang lain...” Sekarang belum jadi pakar, tapi nanti setelah menghasilkan buku – boleh berharap – ”Saya akan menjadi pakarnya!”

 

Banyak orang yang memulai kepakarannya atau makin kuat tingkat kepakarannya setelah menulis buku. Seorang Tung Desem, melonjak tingkat kepakarannya berkali-kali lipat, salah satunya karena buku ’Financial Revolution’. Seorang Safir Senduk diakui kepakarannya sebagai perencana keuangan keluarga (padahal pada saat menulis buku tidak punya sertifikat perencana keuangan apapun), karena menulis buku di samping menulis di media massa. Padahal, sebelum menulis buku (dan muncul di media massa) dia bukan siapa-siapa.

 

Jadi, sekali lagi balik paradigmanya, kalau sekarang belum merasa menjadi pakar, menulis bukulah! Lalu siap-siaplah mengambil ’gelar’ pakar itu.

 

Banyak Penulis yang Bukan Pakar!

Rekan saya Faif Yusuf, ketika menulis buku bukanlah seorang pakar. Dia seusia saya atau malah lebih muda. Baru beberapa tahun menekuni dunia entrepreneurship. Secara ’definisi’, mas Faif belum bisa dianggap pakar di bidang entrepreneur. Tapi dengan keluarnya buku ”Rahasia jadi Entrepreneur Muda” yang berisi kumpulan kisah para pengusaha muda yang mampu mengarungi dunia usaha dengan ’baik’, mas Faif mulai mendapatkan gelar pakar. Pakar entrepreneur khusus untuk anak muda. Apalagi jika keluar lagi buku kedua, yang kian memperkuat buku pertama.

 

Atau rekan saya yang lain, Masbukhin Pradana. Dia belum pakar ketika menulis buku ”Cara Brilian Menjadi Karyawan Beromzet Miliaran”. Tapi setelah buku itu dipasarkan dan mendapatkan respon sangat positif dari masyarakat, Masbukhin mendapatkan predikat baru ’pakar usaha sampingan’. Sering sekali pria 30-an tahun tersebut mendapatkan undangan dari serikat pekerja untuk membagi kepakarannya.

 

Satu penulis lain yang selalu saya jadikan contoh adalah Raditya Dika. Awalnya, anak muda ini bukan pakar, bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Tapi, mampu menulis buku tentang DIRINYA SENDIRI. Cerita-cerita unik tentang dirinya sendiri itu, ditulisnya di blog lalu naik pangkat menjadi buku. Maka mengalirlah naskah-naskah tentang dirinya sendiri tersebut dalam beberapa buku, mulai dari kisahnya kuliah di Australia, kisah cintanya yang tidak pernah sukses, sampai pengalaman-pengalaman aneh dalam hidupnya.

 

Dan luar biasa, karena semua bukunya laris manis seperti ’Kambing Jantan’ dan ’Radikus Makan Kakus’. Radit memberikan pelajaran berharga, bahwa diri kita masing-masing punya keistimewaan. Sayang, kita sering tidak menyadarinya. 

 

Jadi... untuk menulis buku tidak perlu menjadi PAKAR dulu.

 

Banyak Pakar yang Tidak Menulis Buku!

Sebaliknya, silahkan Anda hitung sendiri berapa banyak pakar atau yang dianggap pakar, yang BELUM menulis buku. Banyak bukan? Paradigma ‘baru menulis setelah menjadi pakar’ kembali mentah, karena faktanya banyak orang yang sudah menjadi pakar justru BELUM (mampu atau mau) menulis buku. 

 

Mentor saya Andrias Harefa pernah bertemu dengan seorang pakar, yang sampai detik ketika bertemu dengannya, belum juga menulis buku. Setiap kali ditanyakan, selalu saja ada jawaban yang mementahkan penulisan buku. Akhirnya, Harefa mengatakan sebuah kalimat yang – menurut saya – sangat tajam. Kira-kira bunyinya, ”Apakah bapak tidak merasa berdosa karena ilmu yang bapak kuasai, tidak disebarkan kepada orang lain, kepada generasi mendatang?”

 

Kesimpulannya: Tidak ada alasan untuk tidak menulis buku. Yang belum pakar, pasti bisa menulis buku. Yang sudah menjadi pakar, justru HARUS menulis buku.

 

Selamat menulis buku! 

--------

Plasa Tendean Desember 2009