Literasi

Proses Kreatif: Dari Skripsi Menjadi Buku

Rabu, 20 Januari 2021, 14:18 WIB
Dibaca 425
Proses Kreatif: Dari Skripsi Menjadi Buku
dokpri

Kata penulis senior, “tidak ada buku yang tidak laku, hanya buku yang belum ketemu pembeli”.

Skripsi! Tugas akhir mahasiswa sarjana yang seringkali menjadi momok. Tak sedikit yang stagnan, ada juga yang mundur dari yang ditentukan. Lebih parah lagi gagal mencapai gelar. Tak dapat dipungkiri memang ada banyak faktor yang menyebabkan mahasiswa kesulitan menyelesaikan skripsi.

Secara mendasar menulis skripsi dimulai dari masalah. Meneliti sebuah masalah dan berusaha menjawabnya? Masalah coba dijawab melalui studi pustaka dan penelitian yang mendalam.

Mengapa masalah? Salah satu penilaian skripsi atau sebuah karya ilmiah adalah kontribusi. Baik kontribusi kepada masyarakat secara langsung maupun pada ilmu pengetahuan itu sendiri. Ya, setidak-tidaknya secara teori atau idealnya.  

Sayangnya skripsi seringkali hanya menjadi pajangan di perpustakaan. Bagaimana kalau skripsi ini menjadi sebuah buku yang dipublikasi dan dibaca kalayak? Menarik bukan!

Salah satu keunggulan karya ilmiah ini adalah sudah teruji. Sidang skripsi. Bahkan direvisi atau diperbaiki sebelum akhirnya diserahkan. Artinya naskah skripsi sudah tidak diragukan lagi, tinggal mengolahnya ke dalam ‘bahasa buku’ yang sesuai standar penerbitan. Nah! soal ini, tugas editor lah.

Nah, sekarang bagaimana cara menerbitkannya?

Di era milenial ini kesempatan menerbitkan buku tidak harus melalui penerbit mayor. Anda dapat menggunakan jasa penerbitan indie atau menerbitkan buku secara mandiri. Ada banyak penerbit model indie, salah satu yang saya kenal adalah penerbit Lembaga Literasi Dayak (LLD). Naskah skripsi dapat diterbitkan dalam bentuk cetak maupun elektronik (E-book).

Kendalanya penulis harus membiayai sendiri penerbitan. Modal dulu. Tetapi, apa lantas itu menjadi halangan? Tergantung penulis!

Beberapa hal berikut bisa mungkin memberikan semangat dan gambaran.

Carilah sponsor. Berdayakan komunitas. Membuat pemetaan pasar (calon pembeli).

Para pembeli buku Anda tidak harus pembaca buku. Mereka adalah orang yang menghargai Anda tidak sekedar sebagai penulis. Namun, karena Anda adalah teman, kolega, sahabat dan kerabat.

Ingatlah! mereka membeli buku kita dengan berbagai tujuan.

Apresiasi. Sering saya dengar, “saya belilah sebelum menjadi penulis terkenal”.

Dihadiahkan untuk orang lain. Dapat juga dipakai sebagai referensi. da

Sekali lagi tidak semua pembeli buku adalah pembaca buku. Nilai relasi dan apresiasi seringkali lebih diutamakan.

Apalagi bagi Anda yang bergabung dalam beberapa komunitas. Itulah pasar Anda.

Kata penulis senior, “tidak ada buku yang tidak laku, hanya buku yang belum ketemu pembeli”.

Jangan lupa persiapan acara launching buku yang berkesan. Sebagai contoh launching dengan menghadirkan tokoh (penggiat literasi, politik, dll) atau ‘nitip’ pada sebuah acara seminar, dll. Sederhana, unik, berkesan dan tentu saja menaikkan nilai jual.

Bisa terjadi buku itu akan dipesan oleh lembaga atau seorang tokoh dalam jumlah banyak. Kesempatan semacam sangatlah terbuka.

Jangan ragu! Anda hanya perlu memulai. Apalagi jika Anda memiliki modal yang tidak sekedar uang.

Dari pengalaman pribadi awalnya memang ada keraguan. Tetapi begitu saya list nama-nama calon pembeli dengan mempertimbangkan hal-hal di atas. Saya yakin bisa. Yah, minimal 50 buku pasti ada yang mau beli. Benar saja! Setelah saya menerima cover dari penerbit, saya share hasilnya mengejutkan lebih dari 100 orang mau membeli. Bahkan ada yang membeli lebih dari satu dan dibayarkan lebih dari harga jual buku.

Sekali lagi, relasi dan apresiasi.

Proses penerbitannya?

Menyiapkan DP (down payment) atau uang muka, biasanya setengah dari berapa banyak buku yang akan dicetak. Perlu dicatat, perhitungan pembiayaannya dihitung dari berapa banyak buku yang akan dicetak. Selian itu, Standar penerbit biasanya mencakup jumlah halaman buku (con. di penerbit LLD, jumlah halaman tidak lebih dari 200), kualitas kertas dan percetakan. Sementara untuk hal-hal seperti ISBN, cover, layout, editing sudah termasuk didalamnya.

Menyerahkan naskah kepada penerbit atau editor.

Sementara naskah diedit. Tim layout akan menyiapkan dab mengirimkan cover (image) yang akan dipakai sebagai promosi. Promosi dapat dilakukan melalui sosial media (WhatsApp. Facebook, Instagram, dll). Baik memasarkan langsung melalui pesan singkat secara pribadi atau dapat juga melalui group sosial media.

Baca Juga: Resensi Buku Pintar Kebudayaan Tidung

Dalam promosi cantumkan cover, harga buku, contact person, dan catatan belum termasuk ongkos kirim.

Berikan juga slogan, “saya bukan jualan kacang, tapi jualan ilmu”.

Untuk menambah nilai jual buku Anda, mintalah beberapa tokoh yang berpengaruh untuk memberikan sambutan, atau sekedar testimoni (biasanya ditampilkan pada cover belakang buku)

Setelah Anda mendapatkan kepastian berapa jumlah pemesan barulah naik cetak. Bisa terjadi bahwa permintaan melebihi target awal.

Saat mendistribusikan buku, dapat juga Anda antar langsung ke kantor pemesan. Dan bawalah beberapa buku biasanya ada pembeli tak diduga di sana.

Bagi penulis pemula ini adalah langkah awal yang baik. Selain itu, Anda akan mendapat personal branding sebagai ‘penulis’ yang tentu saja akan mengangkat kapasitas.

Anda akan mendapat tiga keuntungan sekaligus (triple profit), buku (produk), uang, dan nama (personal branding).

Silahkan mencoba? Selain skripsi, tesis, dan disertasi pun sangat layak diterbitkan menjadi buku.

Tidak diragukan lagi, ini akan menjadi energi bagi penulis pemula. Salam literasi!

***