Filosofi

Kadar Keimanan

Selasa, 26 Januari 2021, 06:42 WIB
Dibaca 248
Kadar Keimanan
Ilustrasi mendidik anak dengan kekerasan (Foto: Kompas.com)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Terkadang, saya merasa terlalu keras menyuruh anak di rumah shalat, khususnya shalat subuh. Anak usia 10-13 tahun boleh jadi sedang dalam masa "melawan" dan maunya sendiri. Selain itu malasnya minta ampun. Jangankan disuruh bantu-bantu, bahkan disuruh makan, mandi, dan bangun dari tidur pun susah.

Saya mendapat pelajaran secara turun-temurun, bahwa keras dalam menyuruh anak beribadah dibenarkan dalam keyakinan yang saya anut. Bahkan dalam batas-batas tertentu diperkenankan "memukul" anak, meski bisa dikatakan sebagai "pura-pura" memukul, bukan memukul dalam arti sebenarnya. Agama tetap menyimpan kebijakan sendiri dalam pengasuhan, karena sejatinya anak tidak boleh diperkenalkan dengan kekerasan, apalagi mengalaminya.

Tapi, kadang saya juga merasa tidak adil, mengukur keimanan yang saya miliki sekarang untuk diterapkan kepada anak, padahal dulu orangtua saya santai-santai saja menyuruh saya shalat, tidak memaksa dan tidak menakut-nakuti. Bahkan "pura-pura" memukul pun tidak.

Pokoknya tidak membuka hari dengan perasaan kesal, bersungut-sungut, marah-marah hanya karena saya tidak mau mandi, malas makan, malas shalat dan lain-lain.

Seiring berjalannya waktu, beragama dan berkeyakinan menjadi suatu kewajiban. Keimanan saya mengatakan, melakukan perbuatan dosa masuk neraka, melakukan perbuatan baik (khususnya ibadah) mendapat surga. Saya meyakini itu tanpa perlu pembuktian. Itulah keimanan.

Suatu saat nanti anak saya juga akan menemukan keimanannya sendiri seiring bertambahnya usia, saat ia beranjak dewasa dan menua.

Akhirnya saya harus akui, saya terlalu egoistis untuk kebiasaan yang satu ini di saat anak-anak seusia itu belum begitu peduli dengan pahala-siksa, surga-neraka, tetapi saya paksa ia untuk tahu semua hal tentang ganjaran dan siksaan dalam agama.

***