Filosofi

Manusia Silver dan Manusia Badut

Kamis, 28 Oktober 2021, 08:02 WIB
Dibaca 37
Manusia Silver dan Manusia Badut
Manusia silver (Foto: okezone.com)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Pernah melihat orang melumuri sekujur tubuhnya dengan cat pilox warna perak sambil membawa kotak karton di lampu setopan? Saya menyebutnya "manusia silver". Pekerjaannya meminta belas kasian siapa saja tuan berjiwa dermawan.

Pernah melihat orang membalut tubuhnya dengan boneka Masha yang kepalanya besar dan berat di lampu setopan? Saya menyebutnya "manusia badut". Pekerjaannya meminta sedekah, barangkali ada puan penderma yang sudi memberinya nafkah.

Di masa pandemi ini, setidaknya yang saya amati dan rasakan, semakin banyak saja "manusia silver" dan "manusia badut" menengadahkan tangan meminta belas kasihan, bersaing dengan pengemis dan pengamen jalanan di lampu setopan.

Reaksi orang yang berada di kabin mobil berpendingin udara boleh jadi beragam. Ada yang marah, jengkel, dan merasa terganggu. Boro-boro menyediakan recehan buat mereka, membuka kaca jendela pun tak sudi.

Tetapi ada juga yang tergerak memberi mereka uang recehan, sekadar mengusir lebih dini agar mereka lekas pergi dan jangan ganggu lagi. Kaca mobil yang sedikit melorot pun lekas-lekas dinaikkan kembali.

Pernahkah tercetus dalam hati wahai puan dan tuan berpunya untuk menyediakan uang utuh -bukan recehan lima ratusan, seribu atau duaribuan- dengan nominal lima, sepuluh, duapuluh, limapuluh atau seratus ribuan khusus untuk mereka?

Jika ya, hormat dan takzim saya sampaikan kepada tuan dan puan. Tetapi bagi yang belum tergerak hati, coba kita bermain simulasi empati sejenak "andai aku dia". Gantilah kata "dia" dengan "manusia silver", "manusia badut", pengemis atau pengamen. Posisikan andai tuan dan puan adalah mereka.

Barangkali, ini cuma barangkali, mereka melakukan itu semua karena sangat membutuhkan uluran tangan. Kepada siapa lagi mereka meminta kalau bukan kepada tuan dan puan?

Kadang kita tidak bisa menolerir kehadiran pengemis dan pengamen bahkan di beberapa tempat ada aturan yang memberi sanksi berat kepada penderma yang memberi pengemis atau pengamen uang. Ironis, memberi sedekah bukan hanya dilarang, tetapi dikenai sanksi.

Untuk masa pandemi ini, mari kita turunkan derajat purbasangka kita kepada mereka apalagi tidak memberi sedekah dengan dalih takut terkena sanksi.

Pernah terbaca di media, ada razia "manusia silver" dan kepada polisi mereka mengaku korban PHK, yang terpaksa melumuri tubuhnya dengan cat karena terdesak keadaan. Ternyata mereka bukan kamuflase, tetapi memang butuh makan untuk dirinya, untuk keluarganya.

Kalau tidak rela menyediakan uang utuh, sediakanlah uang recehan buat mereka, itu sudah sangat berarti, yang penting keralaan itu datangnya murni dari hati nurani sendiri.

Kalau suatu waktu ada yang mengetuk-etuk pintu hatimu, jangan lekas-lekas membanting untuk menutup pintu hatimu rapat-rapat. Hadapi dan sapa sejenak, mana tahu dia sangat memerlukan kebaikanmu.

***