Budaya

Puisi| Empat Sehat Lima Sinovac

Senin, 1 Februari 2021, 11:24 WIB
Dibaca 238
Puisi| Empat Sehat Lima Sinovac
pic: 34st.com

Empat Sehat Lima Sinovac

2040

Cucu,
dahulu kala negeri kita adalah negeri yang aman, damai dan tenteram
saat itu orang-orang bebas berkumpul dan bepergian
bebas bersekolah, bekerja dan melakukan apapun yang diinginkan

namun semuanya berubah sejak negara api menyerang
semua dibuat panik ketakutan
di mana-mana situasi mencekam
orang-orang memakai masker kala bepergian
orang-orang bekerja dari rumah sebab  takut tertular dan menularkan
usai menyentuh barang mereka selalu mencuci tangan

tetapi semua itu tak mampu menghalau serangan negara api
pertumbuhan penularan corona semakin tinggi

kiranya, hanya Avatar yang mampu mengendalikan semua itu
karena dia menguasai elemen ke-5

sayangnya, di saat dunia sedang membutuhkannya dia menghilang
lalu orang-orang berdebat dengan sengit
di media sosial hingga WAG
sampai otot-otot membesar di batang lehernya

tetapi semua itu tak berlangsung lama
kelima elemen berhasil disatukan
Avatar kembali dengan ilmu pengendalian yang sempurna
empat sehat lima sinovac
empat sehat:
      menjaga jarak
      memakai masker
      mencuci tangan
      mengurangi mobilitas
dan kelima:
      vaksin sinovac

lalu ia beraksi
melakukan apa yang harus dilakukan
perlahan namun pasti
negeri kita bangkit kembali
dari keterpurukan ekonomi

Cucu,
bersyukurlah kamu saat ini
Avatar telah menyelamatkan negeri ini
dan kakek masih sempat menceritakan kisah pandemi itu
kepadamu

***

Depok, 28 Januari 2021

 

Banjir

banjir di mana-mana

banjir di gunung
usai pohon-pohon digulung
banjir di hilir
sebab saluran air dipelintir
banjir sampah dan disinformasi
akibat dunia maya tak dibatasi

banjir di kota
tak terhindarkan
banjir di desa
tak tertangguhkan
semua berlomba menutupi bumi
atas nama kesejahteraan
lupa bersahabat dengan alam

air hujan tak lagi menjadi anugerah
ketika jatuh di tanah yang keras

semua mengalir deras
seperti air bah
tanggul-tanggul disingkirkan
manusia makin memuja kebebasan
hidup nyaman dimanjakan teknologi
tanpa sadar harus dibayar mahal
dengan kehilangan etika dan moral

banjir di mana-mana
di planet bumi
di gunung
di lembah
di desa
di kota
di dunia maya
di dunia nyata
banyak yang sibuk menyalahkan
tetapi enggan melihat diri
di depan kaca yang dipecahkannya
sendiri

***

Depok, 23 Januari 2021

Andai Kau Tahu

Apa yang dapat kaukatakan tentang tentang hari ini?  Tanyaku pada bayangan yang menyapa. Di depan cermin kamarku.

Andai hari ini adalah hari terakhirmu menikmati hidangan di meja makan, tentu akan kaupeluk waktu seolah ia hadiah terindah yang teramat berharga untuk kausia-siakan. Sebagaimana hari kemarin yang kaupermainkan dengan sepenuh hati, seolah permainanmu takkan pernah usai.

Andai sinar mentari pagi tak kan kaulihat lagi esok hari. Tak kan sempat kaupahat angan-anganmu dalam mimpi tentang masa depan. Tak kan terbersit keinginan mengenang masa lalu dengan membanggakan kisahnya yang telah usai.

Andai 24 jam menjadi satu-satunya yang kaumiliki hari ini. Yang belum kaumiliki kan berhenti menjadi misteri. Dan kau serasa ingin merentang waktu. Menggelar kertas putih lalu menuliskan cerita-cerita bermakna dengan tinta emas. Agar kelak, kau punya jawaban di hadapan pertanyaan-pertanyaan besar. Di mana tak seorang pun sanggup beralibi.

Andai matahari terbenam tak kan kausaksikan lagi esok hari. Akan muncul di benakmu orang-orang yang pernah kausakiti, kaukecewakan atau kaulupakan janji-janjimu pada mereka. Hingga waktu teramat singkat rasanya, hingga tak cukup untuk menghapus kenangan buruk tentangmu.

Andaikan kau tahu, kumpulan detik adalah mutiara berharga. Yang dititipkan padamu sebagaimana janji yang kauikrarkan sebelum kau ditiupkan di rahim ibu. Kau akan sedikit tertawa dan sibuk merawat cerita tentang dirimu.

Andai saja kau tahu

***

Depok, 21 Januari 2021