Budaya

Batu Ruyud Writing Camp (1) | Tubung Pelanok Untuk Mengikat Budaya Indonesia

Selasa, 6 Desember 2022, 14:48 WIB
Dibaca 164
Batu Ruyud Writing Camp (1) | Tubung Pelanok Untuk Mengikat Budaya Indonesia
Generasi penerus Lengilo'

Ketika muncul pertanyaan, apa sajakah ciri khas alat musik alam budaya manusia Lengilo’ di Krayan Tengah?

Alat musik tradisonal di masing-masing daerah tentu berbeda-beda. Pada saat kegiatan literasi di Batu Ruyud Writing Camp di Fe’Milau. Saya sebagai putra asli daerah, menyaksikan antusiasme para rombongan atau peserta literasi yang hadir. Mereka menyaksikan tari-tarian penyambutan yang biasa dilakukan oleh masyarakat di Krayan Tengah. Tarian-tarian penyambutan itu memberi makna bahwa tuan rumah menyambut baik sekaligus mempersilahkan para tamu untuk menikmati indahnya alam, budaya, dan nilai-nilai yang ada di wilayah Lengilo’.

Hadir para tokoh-tokoh adat di Dataran Tinggi Borneo, pemerintah kecamatan, keamanan, pendidik, serta masyarakat dengan ciri khas baju yang dikenakan. Baju yang terbuat adari kulit kayu, kami menyebutnya “Bakad Talun”. Bakad Talun ini bisa di kenakan saat acara-acara adat, pernikahan, dan penyambutan tamu, semua mengenakan baju talun— dari orang dewasa sampai anak-anak, hanya motifnya yang berbeda. Baju talun ini menandakan nilai, ciri, identitas yang hakiki pada diri masyarakat lokal di Krayan Tengah.

Pada sisi lain, ada barisan anak-anak yang berbaris rapi, di depan mereka ada bambu yang digantung di kayu terbentang, anak-anak memegang kayu sebagai pemukul tubung pelanok. Pada saat penyambutan, tubung pelanok menjadi bagian penting dalam menyambut tamu-tamu yang datang, pada saat Batu Ruyud Writing Camp hadir dilokasi pondok Biru, Fe’ Milau di Krayan Tengah. Buyi-bunyi pukulan dari tubung pelanok ini menambah kesan tersendiri bagi para rombongan yang datang. Pada saat itu ada ratusan tubung pelanok yang disiapkan panitia dalam penyambutan rombongan literasi. Tubung Pelanok merupakan alat musik lokal yang terbuat dari bahan bambu atau berbahan kayu.

"Suara alam mulai mendayu, ikut ketukan tubung pelanok."

Menurut penjelasan pada saat di Batu Ruyud Writing Camp, Tirusel STP, mengatakan “Saat ini kita menggunakan bahan Bambu (Bahasa Lengilo’: Bulu’ Betung) kalau Tubung Pelanok ini terbuat dari kayu maka sebaiknya dibuat dari bahan Kayu yang tekstur isinya tidak terlalu keras seperti kayu Angeh, Kayu Binasing, Kayu Bayur dan kayu-kayu tertentu yang tidak muda pecah dan ringan.” Katanya.

Foto: Herman

Untuk alat musik berbahan bambu, masyarakat tidak sembarang menggunakan bahan bambu, sebab ada bambu yang mudah pecah atau tipis. Karena itu, masyarakat setempat memilih bambu yang benar-benar kuat, selain itu harus bambu yang tua. Di Karayan Tengah, pokok bambu tersedia melimpah, kita bisa memandang lambaian pokok-pokok bambu di penggir-pinggir sungai. Tidak heran, bambu juga dipakai untuk bahan kerajinan.

“Tubung Pelanok ini merupakan hasil kearifan lokal secara turun temurun telah dipelihara dari satu generasi kegerasi berikutnya sampai saat ini oleh Suku Dayak Krayan (Lengilo’) di sepanjang sungai Krayan,” lanjutnaya. Iya, masyarakat lokal setempat secara turun temurun mewariskan kearifan lokal tersebut. Sehingga, tidak terputus melestarikan alat musik tubung pelanok.

Lebih lanjut Tirusel STP  menjelaskan model atau ciri kahs Tubung Pelanok, “ Adapun ciri-ciri tubung pelanok yang sederhana, namun apa bila mendapat sentuhan seni maka penampilan Tubung Pelanok akan memiliki keunikan tersendiri.” katanya.

Tubung Pelanok selalu dipakai di dalam acara-acara penting masyarakat Adat Dayak Krayan (Lengilo’) di sepanjang Sungai Krayan, seperti Acara Irau/Pesta, Acara penyambutan Tahun Baru, acara penyambutan tamu.

Untuk itu, “Peradaban manusia Dayak Krayan (Lengilo’) yang pertama kali mulai mengenal dan memakai Tubung Pelanok sebagai alat untuk berkomunikasi dan juga sebagai alat seni musik adalah dimulai sejak kehidupab si Paren Langet dan si Sana’an Langet.” pungkasnya,

"Daun pohon-pohon Belaban, Ikut Melambai-lambai. Suara musik alam, ikut mengiringi."

Kita tahu bahwa, karakteristik masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk. Kita dapat melihat kemajemukan ini dalam dua sisi, yaitu kemajemuakan budaya dan kemajemukan sosial. Kemajemuakan budaya misalnya, itu dapat kita ketahui dengan mengetahu genetic sosial masyarakatnya, seperti ras, etnis,dan suku, bahasa, agama, maupun wilayahnya. Kemudian kemajemukan sosial dapat kita pahami dari sisi kelas, status, dan lembaga. Karena itu, masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat lokal Lengilo’ di dataran tinggi Borneo, karakteristik masyarakatnya yang ramah, arif, suka menolong, toleransi, dan saling menghormati. Melalui alat musik tubung pelanok kita dapat memaknai karakteristik budaya Lengilo’ yang terbangun kuat.

Pada akhirnya, Tirusel STP menegaskan, “Peradaban manusia Dayak Krayan (Lengilo’) yang pertama kali mulai mengenal dan memakai Tubung Pelanok sebagai alat untuk berkomunikasi dan juga sebagai alat seni musik adalah dimulai sejak kehidupan si Paren Langet dan si Sana’an Langet. Sebab itu, tubung pelanok memiliki cerita khusus, maka bisa dibuat sebagai cendera mata (Souvenir) dan dapat di promosikan untuk menarik perhatian, minat para penggemar musik tradisional Dayak Krayan (Lengilo’) sebagai simbol kenangan dari Sungai Krayan. ”tutupnya.

Pada akhirnya, jika dilihat dari potensi lokal, maka tubung pelanok memiliki latar sejarah panjang bagi manusia sepanjang sungai kerayan yang ada di Dataran Tinggi Boreno yang terus dipertahankan dan di lestarikan. Untuk itu, pemerintah sebagai pemangku kepentingan perlu pemikiran untuk mengembangkan potensi lokal ini kedepannya dalam berbagai strategi untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat di perbatasan.

***