Budaya

Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional - ICDN

Selasa, 25 Agustus 2020, 23:36 WIB
Dibaca 300
Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional - ICDN
Mubes ICDN Kaltara. Apa pun yang dibuat Yansen itu baik adanya --demikian label yang disematkan pada lelaki tinggi besar dengan kulit bersih itu.

Jangan remehkan kelompok diskusi, atau paguyuban. Ia mula-mula setitik noktah dalam maha-samudera. Berputar-putar, lama-kelamaan menjadi badai topan.

Inilah tamsil yang pas buat pergerakan kebangsaan nasional Indonesia pra-kemerdekaan. Saya ingin menyandingkannya dengan gerakan intelektual cerdik cendikia Dayak kiwari: Ikatan Cendikiawan Dayak Nasional - ICDN.

Zaman kolonial,  tokoh pribumi yang kritis dan potensial mengancam, dikirim ke Holland. Para exile di Negeri Belanda memanfaatkannya untuk menimba ilmu baik secara formal maupun nonformal. Salah satunya  Ki Hadjar Dewantara yang mendapatkan Europeesche Akte.

Sepulang dari Belanda tahun 1919, Ki Hadjar bersama teman-teman menyelenggarakan sarasehan di halaman rumahnya (sekarang Pendopo Tamansiswa), dikenal dengan Sarasehan Malem Slasa Kliwonan. Dari forum ini muncul gagasan pendidikan. Selanjutnya, Ki Hadjar ditunjuk menangani pendidikan anak dan kaum muda, sedangkan Ki Ageng Suryomentaram ditunjuk menangani pendidikan kaum dewasa.

Telah lama saya tidak aktif dalam sebuah organisasi. Jika bukan orang dekat, dan saya kenal, mengajak gabung, no no no. Barangkali saja, di wadah ini nanti, saya lebih bisa berkiprah khusus vak saya: riset, literasi, dan publikasi. Suatu gejala yang saya saksikan, dan yakini, masih sangat sangat lack di kalangan cendikiawan, termasuk akademisi.

Saya hadir dan menikmati Mubes I ICDN Kaltara, di Tarakan 24-25 Mei 2019. Saya jadi ingat awal pembentukan Taman Siswa, bertemu --kumpul-diskusi (sarasehan) beberapa orang, ugahari, sederhana, tak semeriah ICDN, namun gaungnya ke mana saja berabad lamanya.
***
Sebelum terjun ke dunia pendidikan, Ki Hadjar Dewantara terkenal sebagai wartawan, penulis, politisi, dan budayawan. Ia sempat bekerja di Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara (1908 dst), aktif di Boedi Oetomo (1908 dst), Indische Partij (1912 dst), Sarasehan Malem Slasa Kliwon (1919 dst). Pada tahun 1913 bahkan pernah “diinternir” ke Belanda, dan dimanfaatkan untuk menimba ilmu baik secara formal maupun nonformal. Ia mendapatkan Europeesche Akte.

Sepulang dari Belanda tahun 1919, Ki Hadjar bersama teman-teman menyelenggarakan sarasehan di halaman rumahnya (sekarang Pendopo Tamansiswa), dikenal dengan Sarasehan Malem Slasa Kliwonan. Dari forum ini muncul gagasan pendidikan. Selanjutnya, Ki Hadjar ditunjuk menangani pendidikan anak dan kaum muda, sedangkan Ki Ageng Suryomentaram ditunjuk menangani pendidikan kaum dewasa.

Tepat pada tanggal 3 Juli 1922 bersama Soetatmo Soerjokoesoemo, Pronowidigdo, Soejopoetro, dkk, Ki Hadjar memproklamasi berdirinya Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa di Jogjakarta.

ICDN adalah ibarat lamin, rumah panjang,  rumah besar -wadah berkumpul kaum cerdik cendekia Dayak zaman now.

Saya ingin menyandingkan ICDN dengan Taman Siswa, karena memang berakar pada ONDERWIJS, pendidikan yang membebaskan.

Onderwijs, pendidikan, adalah "jembatan menuju". Ia sarana mencapai, bukan tujuan. Jika Taman Siswa diberdirikan lewat sarasehan, dan berdampak besar, apalagi ICDN yang dilahirkan lewat Pramunas.

Demikianlah ICDN. Ikatan ini didirikan di kota Palangka Raya, Kalteng, Sabtu 19 Januari 2019. Sebanyak 274 cendekiawan Dayak berbagai daerah di NKRI mendeklarasikan berdirinya Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN). Dr. Yansen TP tercatat sebagaipengarus-utama lahirnya ICDN, ia yang memimpin sidang-sidan penting saat dibidani kelahirannya.

SK Susunan Pengurus (sementara) ketika itu: Dewan Pelindung: Dr. Ir. Isrannor, H. Habib Said Ismail, H. Syahrizal, Dr. Yurnalis Ngayoh, Dr. Martin Billla, H.M. Alamsyah, Dr. Alue Dohong, Prof. Ferdinand, Brigjen Pol Purn. Damianus Jackie, Sabran Achmad, Arthon S. Dohong, Sabran Achmad, Ferdy M. Yoseph.

Ketua dimandatkan pada Dr. Willy M. Yoseph, ditopang-kuat para wakil ketua, antara lain: Prof. Dr. Hamid Darmadi (Kalbar), Dr. Wardinan S. Lidim (Kalsel), Dr. Yansen TP (Kaltara), Frederick (Kaltim), dan Edi L. (Kalteng), Brigjen Damianus Jackie (DKI Jakarta).

Tujuan ICDN:

- Rumah besar, wadah berkumpul kaum cerdik cendekia Dayak
- Dibangun dalam semangat kebersamaan
- Untuk tujuan: meningkatkan ekonomi masyarakat Dayak
dan kemajuan daerah Kalimantan

Merawat Ingatan, Mengikat Sejarah

Setajam-tajamnya ingatan, jauh lebih tajam tinta yang paling buram --demikian pepatah petitih Tiongkok kuna. Apalagi kini zaman digital. Rekam jejak ICDN, ingin saya rawat agar ingatan kita bersama tidak lupa sejarah berdirinya.

di Kota Palangka Raya, Kalteng, Sabtu 19 Januari 2019.
sebanyak 274 cendekiawan Dayak berbagai daerah di NKRI mendeklarasikan berdirinya Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN).
Yel-yelnya:

Dayak Bangkit

Dayak Maju

Dayak Indonesia

gagasannya dari Dr. Yansen Tipa Padan.

Tags : budaya