Budaya

Bukan Bandit Ugal-ugalan, Melainkan Pejuang Kemerdekaan

Sabtu, 10 September 2022, 20:11 WIB
Dibaca 171
Bukan Bandit Ugal-ugalan, Melainkan Pejuang Kemerdekaan
Vicky Kaushal sebagai Udham Singh

"Adakah sesuatu yang yang bisa kulakukan untukmu?" tanya inspektur polisi pada Udham Singh yang menghadapi hukuman mati.

"Ya. Beri tahukanlah kepada dunia, aku ini seorang revolusioner," jawab Udham Singh.

Film ini menjalankan tugas itu: memaparkan bahwa Udham Singh bukanlah bandit ugal-ugalan, melainkan pejuang kemerdekaan India yang penuh perhitungan matang.

Sardar Udham (Shoojit Sircar, 2021) dibuka dengan catatan tentang pembantaian di Jallianwala Bagh, Amritsar, pada 13 April 1919. Di akhir babak pertama, Udham Singh melakukan aksi penembakan di Caxton Hall di Westminster, London, pada 13 Maret 1940, menewaskan Michael O'Dwyer, pejabat Indian Civil Service (bandingkan dengan VOC di masa kolonial Belanda), yang turut bertanggung jawab atas pembantaian keji itu. Udham warga Amritsar, tapi sedang tidak di lokasi ketika pembantaian terjadi. Lalu, mengapa ia mengincar O'Dwyer?

Secara telaten dan pelan-pelan selama hampir 3 jam, dengan sinematografi yang memikat, tata produksi dan tata kostum yang sukses menghidupkan era lampau, dan musik latar yang memperkuat atmosfir pergolakan batin tokoh kita, melalui kilas balik selama proses interogasi dan pendampingan pengacara, film mengajak kita ulang-alik lintas negara dan lintas waktu sepanjang 21 tahun, menelisik siapakah Udham (diperankan dengan patos yang kuat oleh Vicky Kaushal, tampil sebagai pejuang yang kesepian), apa saja kegiatannya, bagaimana ia menyusun dan mempersiapkan kemerdekaan, dan, pada babak akhir, melalui percakapan dengan inspektur polisi tadi, terkuaklah jawaban atas pertanyaan mengapa tersebut. Alasan Udham menegaskan bahwa tindakannya bukanlah aksi kriminal brutal, melainkan teriakan protes atas kejahatan kemanusiaan keji yang dianggap sepi.

Untuk itu, film secara cerdik memperbandingkan penembakan di Caxton Hall dan pembantaian di Jallianwala Bagh. Adegan penembakan di Caxton Hall sampai penangkapapan Udham berlangsung kira-kira 5 menit di akhir babak pertama, sedangkan adegan pembantaian di Jallianwala Bagh sampai proses evakuasi mayat berlangsung hampir 40 menit di babak terakhir, lengkap dengan pemandangan tubuh-tubuh tumbang bersimbah darah dan nyawa-nyawa yang masih meregang sekian jam kemudian dan seorang bocah yang kehilangan ibunya dan berselang-seling dengan kekalutan di rumah sakit darurat (Dalam Gandhi, film garapan orang Inggris, peristiwa ini digambarkan selama 5 menit. Bisa dimaklumi karena memang bukan fokus kisah. Namun, adegan terkesan berjarak dan kurang membetot emosi: serangkaian ledakan senapan dan tubuh-tubuh bergelimpangan, nyaris tak memperlihatkan darah yang tertumpah).

Dengan begitu, terlihatlah perbandingan yang njomplang. Penembakan di Caxton Hall menewaskan O'Dwyer dan melukai seorang pejabat lain; pembantaian di Amritsar, menurut seorang dokter bedah, menghabisi nyawa 1.526 warga sipil. Penembakan di Caxton Hall dicap sebagai aksi kriminal; pembantaian di Amritsar diklaim sebagai penumpasan terorisme. Udham ditangkap, diinterogasi, disiksa kelewat batas, diadili secara tidak adil, hingga akhirnya dijatuhi hukuman mati. Adapun O'Dwyer hanya dicopot dari jabatannya setahun kemudian.

Di lapisan dalam, film ini seakan berbisik: Salah satu penyebab sulit padamnya api peperangan dan penindasan antarbangsa adalah rasisme.

Meloncat ke masa kini, perang Rusia versus Ukraina memperlihatkan sisi balik rasisme tersebut. Tahukah Anda kenapa Barat/NATO begitu sigap menjatuhkan sanksi terhadap Rusia? Antara lain karena alasan yang rasis: karena yang diserang sesama Eropa, sesama kulit putih, sesama rambut pirang, sesama mata biru. Seandainya yang menjadi korban adalah bangsa non-Eropa, akankah mereka segercep itu? Lihat saja reaksi mereka terhadap invasi-invasi Amerika Serikat selama ini. Bungkam!

Sehubungan dengan pembantaian Amritsar, sampai saat ini, sudah lebih dari 100 tahun, Inggris belum juga meminta maaf secara resmi. O'Dwyer, yang rajin ibadah di gereja, juga tak memperlihatkan penyesalan. Di matanya, pembantaian itu adalah tindak pengamanan yang diperlukan untuk membungkam para perusuh. Di matanya, bangsa non-Eropa adalah bangsa biadab, belum manusia seutuhnya, memerlukan juru selamat kulit putih agar mengalami pencerahan.

Tak usah jauh-jauh, bangsa kita juga bernasib mirip. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte meminta maaf soal kekerasan ekstrem dan sistematis saat perang kemerdekaan Indonesia, tetapi belum mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Di mata Belanda, kedaulatan Indonesia adalah pemberian mereka melalui Konferensi Meja Bundar (KMB). KMB, seingat saya, di sekolah-sekolah diajarkan sebagai kemenangan diplomatik para pemimpin Indonesia. Namun, yang setahu saya tidak diceritakan di sekolah-sekolah, penyerahan kedaulatan itu mesti dibayar dengan Indonesia ikut menanggung sekitar 4,3 miliar gulden utang pemerintah Hindia Belanda. Sudah dijajah, masih harus ikut menanggung utang si penjajah!

India dan Indonesia hanyalah sedikit contoh bagaimana bangsa Barat belum memandang dan memperlakukan bangsa-bangsa lain secara setara. Sampai sekarang. Sardar Udham saat satu pengingat pahit akan realitas rasisme tersebut.

Film ini juga meneguhkan salah satu keyakinan saya: Perang itu keji, tetapi rasisme jauh lebih keji lagi. Orang bisa jadi terpaksa ikut berperang atau melawan dengan kekerasan demi menegakkan keadilan atau memperjuangkan kemerdekaan, seperti yang dilakukan oleh Udham, tetapi rasisme, seperti diwakili oleh  O'Dwyer, adalah petaka kemanusiaan yang dengan alasan apa pun tidak dapat dibenarkan. ***