YTP Rayeh

Menjelajahi Misteri Perbatasan - Batu Ruyud Writing Camp I 2022

Senin, 24 Oktober 2022, 21:11 WIB
Dibaca 144
Menjelajahi Misteri Perbatasan - Batu Ruyud Writing Camp I 2022
Batu Ruyud Writing Camp

Dodi Mawardi

Penulis senior

 “Perbatasan ini banyak dibicarakan, dibahas, tapi tidak banyak yang tahu seperti apa kondisi sebenarnya di sana….” ujar Dr. Yansen TP., M.Si., pegiat literasi Krayan dan penulis 7 judul buku Gramedia.

“Saya berharap, kita semua yang ikut Batu Ruyud Writing Camp, bisa melihat langsung kondisi perbatasan, dan menghasilkan karya yang bisa dilihat khususnya oleh para pengambil keputusan,” pungkas pria yang menjabat sebagai Wakil Gubernur Kaltara sejak 2021 ini.

 

Pesta literasi rakyat dimulai. Ini bukan sekadar writers festival seperti di Ubud atau di Makassar. Ini adalah pesta rakyat perbatasan di Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, yang amat melek literasi. Wilayah Krayan berbatasan langsung dengan Sarawak Malaysia. Jalan darat menuju negeri jiran itu terbentang mulus. Sebaliknya, belum ada jalan darat dari Krayan menuju kota-kota lain di Indonesia. Hanya pesawat terbang yang bisa hinggap di kecamatan paling luar ini.

 

Sebanyak 11 penulis dan pegiat literasi yang berasal dari Jakarta, Yogyakarta, Solo, Bogor, Tangerang, Serang, dan Pontianak, hadir sebagai mentor sekaligus peserta Batu Ruyud Writing Camp I 2022 (BRWC). Ditambah oleh empat serangkai pegiat literasi termasuk Yansen TP., yaitu Masri Sareb Putra, pria asal Jangkang Kalimantan Barat, yang produktif menulis buku (lebih dari 110 judul), Pepih Nugraha mantan wartawan Kompas, pendiri Kompasiana, kelahiran Tasikmalaya yang sudah menghasilkan 6 judul buku, serta Dodi Mawardi, penulis buku laris Gramedia, yang juga sudah menghasilkan lebih dari 75 judul buku.

 

Penerbit Elex Media Komputindo (Gramedia Group) turut memeriahkan acara ini dengan menyumbangkan sejumlah buku bagi warga setempat. Elex juga mengirimkan Managing Editor-nya turut serta ‘bertapa’ di hutan belantara selama sepekan. Selain pegiat dan pelaku literasi, BRWC I juga dimeriahkan oleh pentas kuliner, seni, dan budaya Dayak Lundayeh, termasuk penampilan spesial seniman dan budayawan Dayak Lundayeh, Ellyas Yesaya.  

 

Pesta literasi rakyat, cocok disematkan untuk acara ini, karena peserta terbanyak justru adalah masyarakat se-kecamatan Krayan Tengah. Mereka akan mengikuti beragam acara, pelatihan, workshop, pendampingan, diskusi, secara maraton selama tujuh hari tujuh malam. Laiknya pesta hari bahagia sebagian masyarakat di berbagai belahan Nusantara. Warga berbondong-bondong mendaftar, sejak beberapa pekan sebelum acara. Dengan kondisi serba terbatas, mereka sangat antusias berliterasi.

 

Dengan persiapan yang matang, didukung oleh perangkat desa Ba’ Binuang serta warga setempat, BRWC dengan tema  “Menjelajahi Misteri Perbatasan” bisa terwujud. Beberapa lokasi dan produk khas di sana seperti batu peneropong musim, jejak peradaban manusia sungai Krayan, sumber alami garam gunung, minyak ulat Klantang, padi Adan, sumber air dari batang pohon, dan kehidupan manusia perbatasan, siap dijelajahi seluruh peserta.

 

“Pak Gamawan Fauzi, ketika menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, terbang di atas hutan perbatasan Kalimantan dan terkagum-kagum, betapa luasnya Indonesia,”sambung YTP, ketika membuka rapat persiapan akhir peserta pada 23 Oktober lalu. “Dari perbatasan ini, kita berharap lahir karya literasi yang akan mewarnai Indonesia…”

 

Batu Ruyud Writing Camp I akan dibuka secara resmi pada Jumat, 28 Oktober 2022. Sekaligus meresmikan prasasti literasi Batu Ruyud dan mengumandangkan Sumpah Literasi untuk Indonesia.

 

Oh ya, selama kami di sana, mohon maaf --- kami tidak akan bermedsos dan ber-facebook-an, atau WA-an. Bukan tidak mau, tapi memang tidak bisa, karena jaringan internet belum sampai ke tengah hutan.