Hobi

Galeri Flora | (2) Kecombrang

Jumat, 11 Juni 2021, 16:45 WIB
Dibaca 194
Galeri Flora | (2) Kecombrang

          Kecombrang (E. Elatior) merupakan salah satu tanaman rempah Indonesia yang termasuk dalam famili Zingiberaceae. Tanaman ini berbentuk semak.

Tingginya sekitar 1-3m. Kecombrang memiliki batang yang tegak, berpelepah, dan berbentuk rimpang. Ada jenis kecombrang yang berwarna hijau dan ada juga yang berwarna merah. Kecombrang yang berwarna merah mirip dengan tanaman hias pisang-pisangan, sedangkan kecombrang yang berwarna hijau mirip dengan tanaman lengkuas. Pertulangan daunnya menyirip dan sedikit bergelombang. Pangkal daunnya berbentuk runcing.

          Kecombrang memiliki bunga berwarna merah jambu. Putiknya berwarna putih berukuran kecil. Mahkota bunganya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk elips berwarna coklat kehitaman yang diselubungi salut selaput berwarna kemerahan. Rasanya asam. Kecombrang juga memiliki buah kecil dan berwarna hijau saat belum matang.

Buahnya yang ranum akan berubah menjadi warna merah. Bagian lain dari kecombrang yaitu akar serabut yang berwarna kuning kehitaman.

 

Sebutan Dalam Bahasa Daerah dan Penggunaan Kecombrang

          Beda daerah, beda pula penyebutan dan penggunaan bagian tanaman ini. Orang Sumatera menyebutnya kola atau cekala. Orang Maluku menyebutnya petikala kecombrang. Orang Ternate menyebutnya petikala, Gayo dengan sebutan kalo, dan orang Jawa menyebutnya honje atau rombeka. Suku Dayak, khususnya subsuku Dayak Hibun dan Pandu menyebutnya tipo. Kecombrang kerap dijadikan bumbu penyedap makanan di Nusantara. Di Jawa Barat, kuntum bunganya dijadikan lalapan atau direbus sebagai campuran sambal. Di Tanah Karo, bagian kuncup bunganya dijadikan penetral bau amis sewaktu memasak ikan. Kuncup bunganya dipakai sebagai campuran daun singkong untuk masakan khas Tapanuli bagian selatan yaitu gule bulung gadung. Di Pelabuhan Ratu, buah dan bagian pucuknya digunakan sebagai campuran sambal saat menikmati ikan laut bakar.

 

Menjadi Logo Sebuah Lembaga

          Sudah pernahkah Anda mendengar CU Lantang Tipo (CULT)? CU Lantang tipo adalah salah satu Credit Union (CU) terbesar di Indonesia yang sudah eksis sejak 1970-an. CU Lantang Tipo berkantor pusat di Desa Pusat Damai, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Saat didirikan, para pendirinya memilih nama lantang/lantong tipo dari bahasa subsuku Dayak Hibun dan subsuku Dayak Pandu. Lantang/lantong berarti tunas atau bakal tumbuh, sedangkan tipo adalah tumbuhan yang banyak tumbuh di daerah berdirinya CULT, yaitu wilayah Kecamatan Parindu. Jika berkunjung ke wilayah Kecamatan Parindu yang masih banyak hutannya, Anda dapat melihat tanaman ini tumbuh liar di pinggaran jalan. Dalam perspektif para pendirinya, Lantang Tipo adalah spirit untuk tumbuh bersama dalam suatu keharmonisan menuju kehidupan yang lebih baik. Tanaman yang termasuk rumpun tanaman lengkuas ini dipilih oleh para pendiri karena sarat filosofi.

**

          Ada dua jenis kecombrang yang sering saya temui,  ada yang berwarna merah dan berwarna putih.

Manfaat keduanya sama saja. Di suku Dayak, khususnya subsuku Dayak Hibun dan Pandu di Kabupaten Sanggau, tanaman ini selain disebut tipo, ada sebutan lainnya yaitu umbut kala, atau sumpak kala. Tipo biasanya digunakan sebagai bumbu penyedap makanan. Sama seperti umbut rotan, tipo juga dapat disulap menjadi sajian lezat. Salah satu cara mengolahnya yaitu dibakar (caranya dapat dilihat di artikel https://ytprayeh.com/riset/p-4162f062b62133b/rotan-jenis-dan-manfaatnya ).

Sebagai pengganti lengkuas, saya sering menggunakan batang muda tipo untuk menghilangkan amis saat memasak daging ular. Selain itu, bunga tipo juga saya gunakan sebagai campuran cincalok (fermentasi udang).

Bayangkan saja sendiri betapa lezatnya.

 **