Budaya

Setiap Pemimpin Punya Sejarahnya Sendiri dalam Membangun Masyarakat

Minggu, 7 Maret 2021, 06:12 WIB
Dibaca 426
Setiap Pemimpin Punya Sejarahnya Sendiri dalam Membangun Masyarakat
Foto: Istimewa

Menengok sejarah para pemimpin di berbagai belahan dunia, setiap pemimpin akan selalu mempunyai sejarahnya sendiri. Ada saja kebijakan yang menjadi catatan sejarah kemudian, yang akan dikenang atau dicatat sebagai prestasi maupun kelemahan.

Mari kita tengok negeri Uncle Sam. Sejarah yg masih segar dalam ingatan. Sepanjang sejarah AS, kabinet Obama mencatat rekor terbanyak menteri perempuan, yaitu 8 orang. Sementara Trump hanya 4 orang. Tapi Presiden Biden, mencatat rekor di atas Obama yaitu 9 org dari 25 anggota kabinet atau pejabat setingkat menteri. Rekor Presiden Biden juga menerobos batas-batas yang lajim selama ini. Wapres dan Kabinetnya multi-ras.

Ada 9 menteri atau pejabat setingkat menteri, diisi perempuan. Dan 2 posisi penting yang selama ini selalu diisi oleh laki2 sepanjang sejarah AS, oleh Biden diisi perempuan, seperti Janet Yellen (Menteri Keuangan) dan Avril Haines (Badan Inteligen Nasional). Kemudian ada Deb Haaland (Indian, Mendagri), Kathterine Tai (Taiwan, Kepala Perdagangan), Marcia Fudge (Afrika, Menteri Perumahan), Linda Thomas (Afrika, Dubes PBB),  Needa Tandem (India, Direktur Kantor Anggaran), Cecilia Rouse (Ketua Komite Penasehat Ekonomi), Jenifer Granholm (Menteri ESDM).

Juga dalam sejarah AS, belum pernah ada anggota kabinet dari suku asli AS, tetapi Biden mendobrak sejarah tersebut dengan mengangkat Deb Haaland dari suku Laguna Pueblo (Indian) sebagai Mendagri (ada 574 suku asli di AS yangg diakui secara federal).

Kembali ke Indonesia, khususnya Kalimanatan Utara (Kaltara). Pada kampanye Pilgub lalu, kita bermimpi--bicara menciptakan pradaban dayak, dimana YTP akan menjadi putra dayak pertama menjadi Wakil Gub Kaltara. Dan hari ini, mimpi tersebut telah menjadi kenyataan. YTP telah menjadi Wakil Gubernur Kaltara.

Belum sebulan menjabat, pak Zainal-Yansen mendobrak batas dengan mewajibkan ASN memakai batik Kaltara dan juga mewajibkan pengusaha kuliner memanfaatkan bahan lokal. Juga soal wajib belajar 16 tahun.

Langkah atau trobosan inovatif demikian, patut kita apresiasi dan dukung. Disinilah letak perbedaan setiap pemimpin. Pemimpin yang mempunyai visi dan karakter kuat. Pemimpin biasa-biasa dan memimpin visioner yang berani mendobrak kelajiman demi pembangunan masyarakatnya.

Kembali soal batik. Ini bukan semata2 soal batik dan UKM, tetapi yg paling fundamental dari ini adalah kehormatan,  harkat dan martabat "pemilik batik". Batik adalah kearifan lokal dalam bentuk karya. Batik akan mengambarkan si pemilik, tempat si pemilik dst. Dengan mengenakan batik, orang luar akan dengan mudah mengambarkan atau mengetahui asal si pemakai. Artinya batik Kaltara adalah identitas masyarakat Kaltara. Demikian juga soal bahan lokal kuliner, dst.

Pada tataran ini, kita tidak sedang bicara menonjolkan budaya sekelompok orang (dalam hal ini suku Dayak) yang ada di Kaltara tetapi kita sedang bicara menghidupkan kearifan lokal sebagai identitas Indonesia. 

Batik adalah keatifan lokal dalam bentuk karya. Ada banyak macam-macam bentuk kearifan lokal, antara lain kearifan lokal dalam karya, dalam pemanfaatan SDA, dalam pertanian dan dalam filosopi (nilai) atau panduan hidup.

Contoh, salah satu bentuk filosopi (etos kerja) yg ada hampir dalam setiap masyarakat hukum adat Nusantara adalah "Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". Filosopi ini dapat dimaknai bahwa kita harus berjuang keras mendapatkan sesuatu. Juga dalam tradisi masyarakat hukum adat Lundayeh Kaltara pun filosopi ini pun ada dengan bahasa yg berbeda, "Kalau mau mulut basah, tumit harus basah".

Kalau kita ingin sesuatu kita harus keluar rumah untuk mencarinya (tumit basah, dulu tdk ada sepatu).

Dewasa ini, kearifan lokal tumbuh dalam masyarakat tetapi hanya asesoris, tidak diimplementasikan dalam pratik hidup keseharian. Hanya ibarat benda pusaka saja (hanya disimpan). Dan yang paling tragis, arus pembangunan dan modernisasi acap kali membunuh secara paksa kearifan lokal, seperti penghapusan secara paksa rumah panjang. Padahal dalam Rumah Panjang tumbuh dan berkembang kearifan lokal, seperti Budaya makan bersama (berbagi makanan), budaya goyong royong, keharmonisan masyarakat, dst.

Soal budaya gotong-royong yg merupakan identitas nasional --- juga mulai pudar --- yg oleh bung Hatta disebut ekonomi gotong-rotong (tercermin dalam semangat Koperasi). Dengan hadirnya pemimpin baru di Kaltara dengan konsep Kaltara Rumah Kita, mudahan semangat ekonomi gotong-royong ini bisa didorong melalui implementasi konsep pembangunan RT dan desa. Dengan demikian semua mssyatakat akan terlibat, berjerih payah dan pada akhirnya menumbuhkan rasa memiliki dan memelihara pembangunan itu sendiri sebagai mana mereka merawat rumah sendiri (Kaltara Rumah Kita).

Secara faktual, harus kita jujur mengakui bahwa selama ini terjadi pengingkaran terhadap kearifan dan budaya lokal di Kaltara. Memang dewasa ini masyarakat Kaltara terdiri dari multi etnis dan budaya tetapi seharusnya alasan pembangunan dan modernisasi tidak boleh mengingkari kearifan lokal suatu daerah yang merupakan kekayaan Indonesia.

Kita harus ingat, bangunan Indonesia yg diinginkan oleh para pendiri bangsa bukan Indonesia yang homogen tetapi Indonesia yg hiterogen dalam bingkai ke-Indonesian. Dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mengatakan bahwa Indonesia harus dibangun atas dasar keberagaman nilai budaya Nusantara--nilai-nilai yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat dari Sabang sampai Merauke, yang oleh Soekarno disebut Pancasila.

Pada kesempatan lain setelah kemerdekaan, Soekarno mengatakan, " Kalau kamu jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi, kalau kamu jadi Islam jangan jadi orang Arab, kalau kamu jadi Hindu, jangan jadi orang India, dst." Kita harus menjadi Kristen, Islam, Hindu Nusantara. Artinya adalah kita harus menjadi diri kita sendiri.

Nah, dalam konteks Kaltara, poinnya adalah Kaltara harus dibangun atas dasar ciri khas sendiri. Tidak boleh ada peningkaran terhadap kearifan lokal masyarakat yg mendiami bumi Kaltara ini. Sebab ini adalah kekuatan Kaltara di masa depan.

Pada akhirnya, kembali lagi kepada pemimpin pada semua tingkatan (provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa), menghidupkan kearifan lokal, membutuhkan pemimpin yg mempunyai visi dan karakter kuat (komitmen kuat) seperti Pak Zainal-Yansen. Mereka telah memulainya untuk menciptakan sejarah mereka sendiri sebagai pemimpin untuk Kaltara dan untuk Indonesia.

***