Budaya

Jejak Pradaban Lundayeh di Krayan (2): Rumah Panjang Tempat Norma-norma Tumbuh dan Berkembang

Senin, 26 April 2021, 09:12 WIB
Dibaca 310
Jejak Pradaban Lundayeh di Krayan (2): Rumah Panjang Tempat Norma-norma Tumbuh dan Berkembang
Foto: Ruma Kadang

Ruma kadang dalam bahasa Indonesianya rumah panjang merupakan bentuk arsitektur vernakular (kristalisasi nilai dan budaya) yang sangat khas dengan masyarakat Dayak di Kalimantan. Semua sub-suku dayak yang ada di Kalimantan sangat dekat dengan rumah panjang. Juga suku Dayak Lundayeh Krayan. Nama saja beda masing-masing sub suku dayak. Ciri-ciri bentuknya pakai tiang, panjang, tangga panjang—datar (tidak pakai anak tangga), namun pada bagian belakang setiap kepala keluarga memiliki dapur atau tempat masak sendiri-sendiri.

Saya sangat beruntung pernah hidup dalam rumah panjang. Pernah merasakan suasana kekeluargaan dan kehangatannya. Malam hari, apalagi. Makan malam bersama. Masing-masing ibu rumah tangga bawa nasi dan sayur ke tengah rumah, bawa lampu damar (lawen) masing-masing, dst. Saling menawarkan nasi dan sayur antara satu dengan yang lain. Benar2 hangat, harmonis. Keluarga besar. Beberapa kepala dan ibu rumah tangga hidup dalam 1 rumah.

Soal saling menawarkan makanan: Semangatnya supaya keluarga yang satu bisa merasakan jerih payah keluarga yang lain. Merasa keringat keluarga yang lain. Nilai paling dalam dan hakiki. Saling berbagi berkat, kalau pinjam bahasa para pendeta.

Setelah makan, para perempuan atau ibu-ibu biasa mengayam tikar, anyam bakul, dll dan laki-laki anyam atap (kerja semua, baik laki maupun perempuan), raut rotan, raut tulang atap (delinan), dll. Anak-anak dapat kerja menjaga lampu damar. Kasih pecahan damar atas lawen agar lampu tetap hidup. Dan kalau tidak ada kerja seperti di atas, sebelum bubar, umumnya ngobrol sini-sana soal berburu, soal bersawah, soal berladang, dll. Kemudian tidur. Gelap gulita. Tidak ada cahaya sedikitpun.

Bangun pagi. Tidak ada makan pagi bersama –kalaupun ada, sangat jarang. Kegiatan diawali kasih makan binatang peliharaan: ayam, babi, anjing. Semua keluarga, umumnya pelihara atau punya semua jenis binatang ini. Semuanya hidup bebas di bawah kolong Rumah Panjang. Semua binatang peliharaan, sesuai teori pedagogi— teori kebiasaan –terutama babi dan anjing, kenal suara tuan masing-masing. Saat tuan memanggil makan, semua lari menjemput suara. Lari langsung menuju tempat di mana tuan biasa (berulang-ulang) sediakan makanan pagi atau malam.

Di atas adalah cerita zaman baheula dulu—Soal Rumah Panjang. Kini hanya tinggal cerita. Arus modernisasi dan pembangunan telah meruntuhkan semuanya. Generasi yang lahir tahun 80-an sudah tidak ada yang merasakan suasana kehangatan dan kekeluargaan dalam Rumah Panjang. Mereka hanya dengar cerita. Tidak ada yang bisa membayangkan suasana keseharian di dalamnya. Kalaupun sekarang ada, tetapi sebatas rumah. Fungsi rumah adat, tempat pertemuan, bukan tempat tinggal. Hanya asesoris adat semata.

Banyak hal yang hilang –sejalan runtuhnya kehidupan Rumah Panjang. Bukan soal gedungnya, tetapi norma atau nilai-nilai yang hidup di dalamnya. Nilai budaya, nilai ekonomi, nilai politik. Rumah panjang merupakan pusat edukasi nilai dalam tradisi masyaralat Lundayeh Krayan pada jamannya.

Sekalipun penah hidup dan merasakan keseharian dalam rumah panjang. Saya banyak alpa. Tidak banyak yang saya ingat. Masih muda belia saat itu. Terakhir sekitar 5 tahun – sebelum tinggalkan rumah panjang. Mungkin. Jalan kaki tanpa sepatu sekitar 1 jam dari kampung lama Pa’ Kaber ke sekolah SD di Pa’ Upan. Dinding sekolah terbuat dari kulit kayu. Lantai tanah. Kurang lebih begitu. Belajar “Ini Budi” dan ABC saat itu. Hanya itu yang saya ingat.

Walapun demikian, saya tertolong dengan kedatangan bapak Lewi Gala Paru, Kepala Adat Besar Kerayan Hulu ke Nunukan. Saya bisa mengali ragam hal dengan bertanya. Dapat beberapa poin penting filosopi kehidupan Rumah panjang. Membantu saya membangun narasi dan perspektif – kalau tidak tepat sama sekali – mungkin mendekati.

Menurut Lewi Gala Paru, Kepala Adat Besar Krayan Hulu, ada beberapa alasan kenapa suku bangsa dayak sangat akrab dengan rumah panjang. Pertama, untuk menghindari ancaman dari musuh dalam kaitannya dengan perang saudara (ngayau). Apabila ada serangan, para perempuan dan anak-anak lebih mudah dilindungi atau dikumpul. Para laki-laki leluasa bergerak menghalau serangan musuh; Kedua, apabila satu atau dua kepala rumah tangga (laki-laki) meninggalkan kampung dalam waktu lama, kepala rumah tangga yang lain – yang tinggal di rumah, bisa bertanggungjawab terhadap istri dan anaknya yang ditinggalkan. Misalnya mengambil kayu api, mengambil sayur (daging), dll. Saling menolong dan melindungi.

Dalam konteks masyarakat Lundayeh di Krayan, Rumah panjang tidak hanya sekedar rumah tinggal, tetapi tempat membangun nilai.

Ada banyak keluarga hidup dalam satu rumah besar dan panjang. Tidak mudah. Ada banyak pola pikir, kebiasaan/karakter, kepentingan, dll. Mereka hidup dalam kebersamaan, kekeluargaan, saling peduli, saling menolong, dst. Membangun komunikasi yang seimbang antara satu dengan yang lain untuk menciptakan harmonisasi kehidupan. Semua aspek terjaga baik. Tata krama terukur. Saling percaya, terbuka, tulus dan iklas satu dengan yang lain dalam interaksi timbal balik.

Komunikasi timbal balik yang seimbang dan tulus ini terjadi semua aras. Antara kepala rumah tangga yang satu dengan kepala rumah tangga yang lain. Antara ibu rumah tangga yang satu dengan ibu rumah tangga yang lain. Antara anak yang satu dengan anak yang lain.

Tidak ada masalah sendiri. Masalah semua. Beban berat milik semua. Beban hidup sehari-hari. Semua diselesaikan bersama. Pada tataran inilah kita dapat menarik benang merahnya. Soal makna dan nilai-nailai yang tumbuh dan berkembang dalam Rumah Panjang. Musuh bersama, musuh ngayau. Kerja bersama. Baik berat maupun ringan. Makanan bersama. Luar biasa!

Kini, semua sirna. Kearifan dan keluhuran budaya tak ternilai. Cermin keadaban suatu suku bangsa. Lundayeh di Krayan. Dimakan waktu kelupaan dan kealpaan. Digilas arus modernisasi, pendekatan dan atau kebijakan pembangunan atas nama kemanusiaan. Pelayanan pemerintah, dll.

Sebab nilai-nilai itu adalah identitas suku bangsa Lundayeh hari ini dan masa-masa yang akan datang untuk tetap survive dalam kemajemukan Indonesia. Itulah kekuatan utama untuk tidak punah secara kultural. Juga kekuataan dan kekayaan Indonesia pada akhirnya.

Penulis, Sanuel P. Huntington, dalam bukunya Teori The Clash of Civilizations  (1993) mengingatkan kita soal tersebut. Keluhuran budaya akan mewarnai modernisasi. Yang kuat akan bertahan atau tetap hidup. Dan yang lemah akan dibenturkan atau digilas. Mati sendiri. Ambil contoh,  Bali misalnya. Tetap hidup dengan keluhuran budayanya. Oleh sebab itu, Lundayeh hari ini dan dayak secara umum, harus tetap bertahan. Mungkin tidak gedung Rumah Panjangnya. Tidak juga hidup bersama-sama--beberapa keluarga di dalamnya. Tapi nilai-nilai yang hidup di dalamnya.

Karena itu, nilai-nilai itu adalah identitas suku bangsa Lundayeh hari ini dan di masa yang akan datang untuk tetap survive dalam kemajemukan Indonesia. Itulah kekuatan utama untuk tidak punah secara kultural. Juga kekuataan dan kekayaan Indonesia pada akhirnya.

Bersambung (3)...

***