Budaya

Jejak Peradaban Dayak Lundayeh di Krayan (1): Ruyud (Kerja Bergilir) Untuk Ciptakan Keadilan

Jumat, 23 April 2021, 14:18 WIB
Dibaca 214
Jejak Peradaban Dayak Lundayeh di Krayan (1): Ruyud (Kerja Bergilir) Untuk Ciptakan Keadilan
Foto: Istimewa Ruyud Manusia Dayak Lundayeh

Mendengar Pak Lewi Gala Paru, Kepala Adat Besar Krayan Hulu ada di Nunukan, saya tidak sabar cari tahu di mana beliau menginap. Setelah menelpon sini-sana, akhirnya saya pastikan tempat beliau singgah. Saya segera menjemput.

Jujur, saya rindu ide-ide segar beliau. Ide-ide luar kotak (out of the box). Karakter bandel dan ngotot dalam arti luas. Lama saya tidak ngobrol serius dengan beliau.

Saya kenal beliau secara intim sejak tahun 1999. Saat pulang kuliah. Menetap di kampung dengan idealisme yang tinggi sebagai seorang aktifis 98. Berhadapan dengan realitas budaya dan keseharian masyarakat yang berbeda dengan ilmu di meja kuliah. Dari beliau saya banyak belajar dan dapat ilmu baru. Tidak ada di kampus. Hanya ada di masyarakat.

Malam itu, saya sangat beruntung bisa jumpa dan berbincang-bincang lebih dari pukul 5  dengan beliau. Kesempatan yang jarang akhir-akhir ini. Kalaupun jumpa selama tiga tahun terakhir, banyak orang, ada keluarga, teman, dll. Jadi tidak bicara spesifik, tidak fokus.

Ini kesempatan, pikir saya. Jadi saya berusaha maksimal bertanya tentang serba-serbi --- topik gado-gado rasa berkualitas. Beliau sudah saya anggap orangtua dan sekaligus guru saya dalam banyak hal.

Pertanyaan berawal dari migrasi desa Long Pasia, Liang Lunuk dan Long Birar ke Krayan Hulu. Kapan pindah, singgah di mana, berapa lama, dst. Lain kali saya tulis soal ini. Kali ini saya bicara soal nilai, soal ruyud atau kerja bergilir. Beda gotong-royong, yang umumnya terkait pekerjaan milik umum (fasilitas umum).

"Dulu, kami menghargai waktu dengan kebersamaan dan kekeluargaan, tapi sekarang waktu selalu di nilai dengan uang. Rasa solidaritas terkikis dgn nilai rupiah. Jaman sekarang, hampir tidak ada kerja tanpa  timbal balik uang, baik kegiatan pribadi atau fasilitas umum" demikan pak Lewi menjelaskan.

"Misalnya soal jalan di Krayan. Kalau kita mau jujur, ada beberapa hal yang bisa dikerjakan oleh masyarakat secara swadaya. Faktanya tidak. Semua mengeluh. Semua menunggu. Pemerintah tidak peduli, tidak perhatikan kami, dst. Semua berharap kepada pemerintah. Tanpa pemerintah, seolah-olah tidak ada harapan berbuat." tambahnya

Dalam diskusi dengan beliau ada hal yang menarik di ucapkannya, katanya "Di samping itu, pemimpin desa sekarang tidak seperti kami dulu. Sekarang ego tinggi dan tidak mau dengar saran atau masukan orang lain. Sifat individualistik tinggi."

Lebih lanjut ia katakan, "Dulu kami selalu diskusi. Kami selalu rapat apabila melihat ada kegiatan dan pekerjaan yang perlu melibatkan tenaga orang banyak, dst. Ketika ada kesepakatan, semua bergerak. Tidak ada yang tinggal di rumah. Ada perasaan malu kalau tidak ikut kerja umum."

Pada tataran ini semangat ruyud bermakna. Dalam prakteknya, jenis pekerjaan tidak sama. Tergantung masing-masing keluarga tempat kerja. Ada yang cangkul tanah, menebas, ambil atap daun, buat pondok, buat pagar kerbau, dst. Ada saat kerja, laki-laki pisah dengan perempuan. Tergantung jenis pekerjaan.

Dengan pola ruyud seperti ini, orang yang secara fisik tidak kuat, terbantu. Pekerjaan yang berat bisa diselesaikan. Misalnya, seorang janda tidak bisa buat pagar kerbau atau tidak mampu mengambil daun ilad untuk atap, bisa terbantu dengan tenaga laki-laki yang tergabung dalam ruyud (baca:group).

Kalau kita cerna dari pola kerja dan semangat pelaksanaannya, ruyud dimaksudkan untuk menciptakan keadilan untuk semua masyarakat.  Supaya semua memiliki. Yang lahan sawahnya tidak bersih, menjadi bersih. Yang hasil panennya sedikit, menjadi banyak. Yang atap lumbung padinya bocor, menjadi tidak bocor. Yang tidak punya pondok, menjadi punya, dst.

Solidaritas kemanusiaan tinggi. Semangat kebersamaan untuk menolong dan meringankan beban sesama sangat tinggi. Tidak ada pekerjaan berat tanpa keterlibatan warga 1 kampung.

Jadi adalah wajar mereka bisa menghasilkan papan ukuran lebar 1 meter dan panjang belasan meter hanya mengandalkan alat bakung  aja (sejenis kampak). Berminggu-minggu mereka habiskan untuk menyesaikan satu lembar papan dipuncak gunung nun jauh dari kampung. Mereka rela ke gunung cari kayu damar (meranti) karena mau kayu yang mudah dikampak. Kayu yang seratnya lurus. Mudah dipecahkan. Meraka ruyud membuat sampai memikulnya ke rumah.

Dalam sela diskusi kami, ada hal yang kuat saya tangkap dari diskusinya, "Saat kami menetap pertama kali di Long Pasia, semua masyarakat sekitar-- Pa' Kaber, Pa' Upan, Pa' Dalan, Pa' Sing, dll datang membantu kami buat ladang. Tidak ada upah saaat itu. Semua bawa bekal beras dan sayur (daging) masing-masing. Tujuannya supaya kami --sebagai warga pendatang baru -- memiliki padi juga seperti masyarakat yang lain," pungkas pak Lewi.

 ***