Budaya

Mengapa Suku Dayak Membawa Mandau?

Rabu, 3 Maret 2021, 05:15 WIB
Dibaca 1.200
Mengapa Suku Dayak Membawa Mandau?
dokpri

Lihatlah Mandau Dari Sudut Pandang Kebudayaan Dayak

Menanggapi pro dan kontra tentang keberadaan mandau, yang selalu dibawa ke tempat umum sebagai salah satu senjata tradisional di pulau Borneo.

Sering terdengar bahwa Dayak mau perang, Dayak bar-bar. Tindakan kriminal dan lain-lain, ketika melihat orang Dayak membawa Mandau ke tempat-tempat umum.

Tidak etis kalau kita terlalu memaksakan diri melihat mandau orang Dayak hanya dari sudut pandang agama Islam, yang lahir dari kebudayaan Arab, atau dari sudut pandang agama Kristen yang lahir dari kebudayaan Yahudi. Lihatlah mandau dari sudut pandang religi Dayak yang lahir dari kebudayaan Dayak. Demikian ungkapan dari sekrekretaris Jenderal Dayak International Organization, Dr Yulius Yohanes, M.Si.

Beliau juga mengatakan, bahwa keberadaan mandau harus dilihat dari sudut pandang kebudayaan Dayak dari dalam. Secara jujur dan bermartabat.
Jika mandau dilihat dari sudut pandang kebudayaan luar, dan sama sekali tidak mau menyelami fungsi mandau di dalam religi Dayak yang lahir dari kebudayaan suku Dayak, maka bisa saja dikemudian hari diklaim melanggar hukum.

Sebagai contoh saja, jika dikebudayaan Jepang ada benda mati dan benda hidup yang menyertai kehidupan manusia. Misalnya saja samurai/pedang merupakan benda yang dihormati. Disakralkan dan hanya bisa dijelaskan dari sudut pandang agama Sinto yang lahir dari Kebudayaan Jepang.

Orang Jepang yang membawa samurai ke tempat umum tidak pernah ditangkapditangkap. Sebab para aparat penegak hukum di Jepang sangat memahami kebudayaan Jepang yang melahirkan agama Sinto.

Sesungguhnya, mandau yang biasa dibawa oleh orang Dayak ke tempat umum bukanlah senjata tajam yang mengancam nyawa. Bukan seperti yang sering digunakan oleh para begal di wilayah perkotaan.

Tidak ada maksud bagi orang Dayak untuk menyakiti, apalagi menakut-nakuti orang luar. Karna pada dasarnya, tanpa menakut-nakutipun, suku Dayak sejak dahulu kala merupakan salah satu suku yang paling ditakuti di dunia.

Mandau merupakan ciri khas dan identitas orang Dayak. Sebagai suku yang gemar berburu, berladang, membuat ukiran, dan menjelajah hutan. Mandau ibarat pakaian dan tubuh yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan Dayak

Mandau Sakral Warisan Leluhur

Dalam bahasa Dayak Uud Danum (auh etok), mandau disebut " iso ahpang". Bagi suku Dayak Uud danum, ada mandau yang sangat sakra dan tidak boleh dibawa keluar rumah. Tidak boleh dipegang apalagi dikeluarkan dari sarungnya. Mandau yang sakti dan sakral merupakan salah satu benda pusaka peningalan sejarah nenek moyang suku Uud Danum.

Mandau senantiasa dijaga dengan sebaik-baiknya. Di gantung ditempat yang tinggi di dalam ruang khusus atau disimpan pada tempat yang aman dan rahasia.

Mandau/iso ahpang hanya boleh dikeluarkan dan digunakan pada saat kondisi yang sangat darurat. Mendesak, dan apabila diserang oleh pihak yang tidak bertangung jawab, dan yang berkaitan dengan peristiwa yang mengancam keselamatan nyawa banyak orang.

Sedangkan bagi pemilik mandau. Ada ritual adat khusus jika hendak membawa dan mengeluarkan mandau dari sarungnya. Apabila mandau yang sakral telah dikeluarkan dari tempat persembunyianya, maka harus ada tumbalnya. Hal ini pernah terjadi pada masa mengayau dan perang melawan penjajah Belanda dan Jepang. Tidak boleh sembarangan orang yang memakai mandau yang sakral, dan tidak semua orang yang memilikinya. Ada ahli warisnya dan syarat tertentu bagi seseorang yang menyimpan dan menjaga benda pusaka (iso ahpang).

Dr Yulius Yohanes M.Si, sekrekretaris Jenderal Dayak International Organization mengatakan, bahwa ada mandau peninggalan pejuang kemerdekaan provinsi Kalimantan Barat. Yaitu almarhum Mayor Mohammad Alianjang yang mandaunya masih disimpan oleh anak-anaknya di Pontianak.
Mandau peninggalan Alianjang seringkali bicara sendiri setiap periode tertentu. Mandau Alianjang yang pandai bicara pada periode tertentu, hanya bisa dijelaskan dari sudut pandang religi Dayak yang lahir dari kebudayaan Dayak.

Alianyang merupakan tokoh pejuang kemerdekaan yang berasal dari suku Dayak Uud Danum. Keluarga besar dan kampung halamanya masih ada hingga kini di hulu sungai Uud Danum.
Bagi kami suku Dayak Uud Danum, di dalam mandau yang sakral terdapat roh dan jiwa leluhur. Itulah sebabnya pada waktu perang, ketika mandau terbang bukan menebas sembarangan atau menyasar sembarangan seperti peluru nyasar. Tetapi mandau terbang dikendalikan oleh leluhur kami suku Dayak Uud Danum.

Makna dan Filosofi Mandau
Bagi masyarakat Dayak, khususnya suku Dayak Uud Danum, mandau mengandung makna filosofis dan makna sosial. Makna filosofis yang terkandung dari mandau, yakni sebagai simbol persaudaraan, simbol kedewasaan, simbol ksatria, simbol penjaga, simbol kemerdekaan, dan tanggung jawab.

Mandau juga merupakan simbol kemakmuran bagi suku Dayak Uud Danum. Motif dan ukiran yang terdapat pada mandau menunjukan status sosial seseorang. Semakin rumit motif yang terdapat pada mandau, menunjukkan bahwa pemilik mandau tersebut adalah orang yang terpandang. Orang yang berpengaruh dan berilmu. Ukiran mandau dapat dilihat mulai dari bagian luar sarung, tangkai, ikat pingang, pernak-pernik, hingga pada bagian bilah mandaunya.

Mandau Sebagai Simbol Kemenangan dan Kemerdekaan

Bagi suku Dayak Uud Danum, mandau juga merupakan simbol kemerdekaan.

Kita tidak mungkin menampik fakta sejarah, bahwa mandau Dayak telah berperan penting dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

Masyarakat Kalimantan Barat pasti lebih memahami, dan selalu mengenang tentang peristiwa sejarah kelam yang terjadi di negri ini. Akibat dari kekejaman penjajah Jepang. Tragedi tersebut dikenal dengan peristiwa "Mandor berdarah" yang terjadi pada tangal 28 Juni 1944.

Tentara Jepang membantai penduduk Indonesia yang ada di kota Pontianak dan kecamatan Mandor, Kalimantan Barat. Pembantaian yang dilakukan oleh Jepang hingga menghabiskan satu generasi yang terdiri dari semua usia. Bahkan masyarakat dipaksa untuk mengali kuburnya sendiri.

Masyarakat dan para saksi meyakini, bahwa korban jiwa yang dibantai oleh penjajah Jepang jumlahnya lebih dari 21.037 jiwa. Pembantaian ini dilatarbelakangi desas-desus yang terdengar oleh Jepang.

Untuk membalas kekejaman penjajahan Jepang, masyarakat Dayak
yang ada di Kalimantan Barat menyatukan kekuatan.

Baca Juga: Piet Pagau: Magis Mandau dan Pesona Asmara

Nenek moyang dulu sering bercerita bahwa hampir semua laki-laki dari suku Dayak UUD Danum, baik pemuda maupun orangtua juga turut berperang untuk melawan penjajah. Tak lupa senjata tradisional ala Uud Danum iso ahpang/Mandau terbang juga di bawa ke medan pertempuran.

Mereka menyusuri sungai-sungai dan hutan untuk bisa sampai ke TKP yang ada di Pontianak dan Mandor.

Dayak Uud Danum bersatu dengan pasukan Dayak yang lainnya, mereka bersatu untuk berperang melawan penjajah Jepang. Hingga perangpun berakhir dengan kemenangkan ditangan suku Dayak.

Sebagai suku Dayak, saya justru berharap suatu hari kelak akan ada monument khusus berbentuk mandau di tanah Borneo, khususnya di Kalimantan Barat. Saya terinspirasi ketika melihat bambu runcing yang menjadi ikon kota Pontianak. Karena bambu runcing merupakan salah satu senjata tradisional yang digunakan oleh masyarakat Kalimantan Barat untuk berperang melawan penjajah.

Mandau merupakan milik masyarakat Dayak di seluruh tanah Kalimantan (Borneo). Namun dalam hal pengunaannya, haruslah bijaksana. Jangan sampai ada diantara suku Dayak yang menodai mandau, yang merupakan lambang kehormatan dan jati diri orang Dayak.

***