Literasi

Batu Ruyud Writing Camp | Stigma Dayak dan Unintended Consequences (13)

Senin, 1 Agustus 2022, 00:34 WIB
Dibaca 272
Batu Ruyud Writing Camp |  Stigma Dayak  dan Unintended Consequences  (13)
Citraan Dayak: dahulu vs kekinian.

Ketika kuliah Epistemologi (Filsafat Ilmu). Saya dikenalkan dengan istilah "Unintended Consequences" (UC).

Sebagai salah satu sistem berpikir, saya sangat menikmati olah-pikir ini. Antara lain, karena UC dapat menjelaskan apa yang tidak dapat dijelaskan ilmu lain, kecuali ilmu sosial.

Dan dengan UC itu pulalah perkenankan saya coba menjelaskan. Mengapa Carl Bock (1985) [1], Miller (Black Borneo, 1942) , dan Nieuwenhuis (1894) di kemudian hari menimbulkan sebab-yang-tak terduga. Terutama oleh kami, para penulis dan pegiat literasi untuk meluruskan, atau menambahkan akurasi substansi narasi yang telah mereka nukilkan.

Pastor Ding Ngo, seorang Kayan terpelajar, misalnya. Salah seorang penulis hebat Dayak asal Kayan ini (akan dikisahkan satu narasi khusus nanti) banyak mengritik karya Nieuwenhuis. Menurut hematnya, karya ini banyak tidak akurat (Sellato, 1994: xxi). [2]

Demikian pun yang paling parah adalah narasi yang dibangun Blair dan Helmi. Mereka  menulis Dayak sebagai manusia liar Borneo. Serta merta, pencitraan "wild"/liar oleh penulis barat sangat mempengaruhi stereotip tentang etnis itu kelak kemudian hari.

Dosa asal mispersepsi orang tentang Dayak sebagai suku bangsa pengayau, diawali Bock. Lewat The Headhunters of Borneo (1881, cetak ulang 1985).  Bock telah berhasil menstigma Dayak dengan label tersebut.

Seperti dapat disaksikan pada ilustrasi. Inilah lukisan hasil imajinasi pelukis barat terhadap kehidupan Dayak Punan yang diberi judul "Wild people at home" (Blair dan Helmi, 1991: 76). Perhatikan dengan saksama judul tersebut yang memvonis orang Dayak sebagai "manusia liar yang tinggal di gubuk" (sederhana). Bahkan tidurnya di bawah naungan pepohonan, gua, dan di sembarang tempat.

Ada pepatah, "Quod scripsi, scripsi". Apa yang kutulis, tetap tertulis. Namun, hal itu tidak berlaku bagi ilmu dan sejarah. Ilmu dan sejarah harus siap diverifikasi. Ia dianggap sebagai benar, selama belum ada data/novum yang meruntuhkannya.

Dalam ilmu sosial, konsekuensi yang tidak diinginkan (kadang-kadang konsekuensi yang tidak diantisipasi atau konsekuensi yang tidak terduga) adalah hasil dari tindakan bertujuan yang tidak dimaksudkan atau diramalkan.

Istilah ini dipopulerkan pada abad kedua puluh oleh sosiolog Amerika Robert K. Merton yang diperluas oleh ekonom Thomas Sowell dan psikolog Stuart Vyse.[2]

Konsekuensi yang tidak diinginkan dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis:

1) Manfaat tak terduga: Manfaat positif tak terduga (juga disebut sebagai keberuntungan, kebetulan, atau rejeki nomplok).

2) Kelemahan tak terduga: Kerugian tak terduga terjadi di samping efek yang diinginkan dari kebijakan (misalnya, sementara skema irigasi menyediakan air bagi masyarakat untuk pertanian, sementara sistem irigasi pun dapat meningkatkan penyakit yang ditularkan melalui air yang memiliki efek kesehatan yang merusak, seperti schistosomiasis).

3) Hasil sesat: Efek menyimpang yang bertentangan dengan apa yang semula dimaksudkan (ketika solusi yang dimaksudkan membuat masalah menjadi lebih buruk).

Itulah variasi sejumlah Untintended Consequences. Dapat salah satu. Dapat pula ketiga-tigaya terjadi pada satu tindakan, rancangan, atau perbuatan manusia.

Demikianlah para penulis dan antropolog yang menulis tentang Dayak. Mereka memframing, membranding, dan menstigma Dayak di masa lalu. Sedemikian rupa, sehingga hingga kini citraan Dayak masih melekat-kuat di benak banyak orang. Lupa bahwa semuanya telah berubah.

Dan Dayak, sebagaimana suku bangsa lainnya, sedang di ambang apa yang sering saya sebut: masuk tahap prakapitalisme  yang mulai tumbuh kuat di kampung-kampung dengan gerakan pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang dipelopori oleh Credit Union (CU).

Citraan mereka, hari ini, telah berubah jauh. Ada 35 profesor, dari berbagai disiplin keilmuan. Ada CEO. Ada Gubernur. Banyak bupati. Ratusan bergelar akademik tertinggi, Doktor, di berbagai bidang. Bahkan, memiliki pula perguruan tinggi khas, yang didirikan orang-orang Dayak.

Citraan Dayak: dahulu versus kekinian, telah bertolak belakang. Dahulu kala, digambarkan tidur sembarangan, di setiap tempat. Bahkan, di bawah naungan pohon kayu dan gua batu pun jadi. Kini tidur di kamar ber-AC, bersih, lantai dari marmer. Dahulu, ke mana mana dilukiskan membawa serta tombak dan sumpit -seperti dalam ilustrasi. Kini ke mana mana membawa gawai dan laptop, perangkat untuk hidup. Sama fungsinya: alat kerja.

Kebudayaan Dayak, khususnya "sistem matapencaharian" yang dalam pustaka orang asing, pelancong, antropolog barat dan para peneliti yang menulis sistem matapencaharian orang Dayak "bertani dan berburu", haruslah direvisi. Dan ditulis ulang. Sebab, telah tidak sesuai lagi gambaran/ tulisan itu dengan kenyataan. Banyak orang Dayak tajir, tuan takur, CEO, bahkan menjadi orang kaya baru.

Sementara itu, di kampung-kampung Dayak. Kini ke sawah dan ladang, tidak lagi berjalan kaki. Tapi naik motor, bahkan mobil. Tiap orang memiliki gawai. Satu keluarga, setidaknya mempunyai 1 hektar lahan, yang siap digarap untuk kehidupan dan penghidupan.

Sedemikian rupa, sehingga "kebudayaan Dayak", khususnya "sistem matapencaharian" yang dalam pustaka orang asing, pelancong, antropolog barat dan para peneliti yang menulis sistem matapencaharian orang Dayak "bertani dan berburu", haruslah direvisi. Dan ditulis ulang.

Mengapa demikian? Sebab, telah tidak sesuai lagi gambaran/ tulisan itu dengan kenyataan.

Siapa yang terpanggil untuk menulis-ulang (re-write) semua itu? Sekaligus, memframing diri-sendiri (Dayak) karena kita yang paling tahu siapa diri kita?

Tidak ada! Kecuali: kita. Dayak harus menulis dari-dalam.
(bersambung)

Catatan akhir:
[1] Lewat karyanya The Headhunters of Borneo (cetak ulang). Singapore: Oxford University Press (1985), Bock telah menstigma Dayak dengan label tersebut. Dosa asal mispersepsi orang tentang Dayak sebagai suku bangsa pengayau, diawali dari Bock.

Buku Bock dengan jumlah halaman lebih dari 400 halaman itu sendiri, edisi perdananya terbit di London pada 1881.

Bock, meski orang Barat, pandir dan tidak cukup berpengetahuan dalam hal ini. Ia tidak tahu, ngayau tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada tata-laku dan tata caranya. Bock tidak paham, bahwa terdapat 5 alasan ngayau, yakni:
1) melindungi pertanian,
2) mendapatkan tambahan daya (rohaniah),
3 balas dendam,
4) sebagai penambah daya tahan berdirinya bangunan,
5) mempertahankan diri, wilayah/ klan. Jadi, tidak sembarang mengayau –topik ini akan ditulis tersendiri nanti.

Buku dengan sudut pandang "barat dan kompeni Hindi Belanda ini" sebenarnya ditelisi dan diterbitkan atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mengetahui kondisi wilayah tenggara Kalimantan. Karena itu, tidak mengerankan, peta, etnografi suku bangsa penghuni Borneo di masa lampau atas dasar kepentingan penjajah (bdk. Collins, 2017).

[2] Pendahuluan untuk buku Di Pedalaman Borneo: Perjalanan dari Pontianak ke Samarinda (PT Gramedia Pustaka Utama, 1994) yang asli bukunya oleh Anton Nieuwenhuis berjudul In Centraal Borneo. Bernard Sellato salah seorang  peneliti, penulis, dan cendekiawan barat yang cukup disegani, dan banyak kami acu karyanya sebagai referensi; meski tidak menelan mentah-mentah begitu saja.

[3] Robert K. Merton, Versatile Sociologist and Father of the Focus Group, Dies at 92, Michael T. Kaufman, The New York Times.