Yansen TP dan Masri Sareb: Persaudaraan Menggerakkan Literasi Borneo
Ada persaudaraan yang tidak lahir dari pertalian darah, melainkan dari kesetiaan pada sebuah gagasan.
Begitulah relasi antara Yansen TP dan Masri Sareb Putra. Mereka adalah saudara literasi. Dalam keluarga besar Yansen, Masri bukan orang asing. Ia diterima sebagai bagian dari keluarga dan dianugerahi nama adat "Derayeh Lingu Tawak Lengilo", sebuah kehormatan yang mengandung amanat budaya.
Derayeh Lingu Tawak Lengilo, Amanat Menjadi Suara Sejarah
Tawak adalah gong, alat yang memanggil, mengabarkan, dan menyatukan. Sementara "Lingu Tawak Lengilo" dapat dimaknai sebagai sosok yang membunyikan kabar tentang Lengilo, salah satu subrumpun Dayak Lundayeh.
Nama itu bukan sebatas hanya penghormatan. Di dalamnya tersimpan harapan agar Masri dapat menjadi suara yang terus menggemakan sejarah, budaya, dan jati diri masyarakat Lengilo kepada dunia yang lebih luas.
Dalam banyak kesempatan, entah ketika naik pesawat maupun menghadiri acara-acara besar dan penting masyarakat Dayak, Masri mengenakan busana (baju adat) khas Lundayeh yang dirancang oleh Yansen TP. Kadang diam saja dengan balutan kain itu sudah menjadi sebuah pernyataan. Tidak semua sikap memerlukan pidato. Ada kalanya sehelai tenun lebih fasih berbicara daripada seribu kata.
Busana itu bukan sebatas penutup sekaligus pembalut tubuh. Di dalam setiap motifnya tersimpan jejak perjalanan sebuah suku yang menjaga ingatan, merawat martabat, dan menolak tercerabut dari akarnya. Ketika dikenakan, yang hadir bukan hanya seorang pribadi, melainkan sebuah sejarah yang berjalan perlahan di tengah zaman yang bergegas.
Masri menyadari bahwa identitas tidak selalu diteriakkan. Ia cukup dihidupi. Dalam kesunyian langkah, dalam tatapan yang sederhana, dan dalam penghormatan kepada karya seorang sahabat, budaya menemukan rumahnya kembali. Yansen TP tidak sekadar merancang pakaian. Ia merancang cara agar sebuah peradaban tetap tampak, tetap dikenali, dan tetap dicintai oleh generasinya sendiri.
Di sanalah persaudaraan literasi itu memperoleh maknanya yang paling hening. Seorang menulis dengan kata-kata, seorang lagi menulis dengan benang, warna, dan motif. Keduanya sedang mengerjakan pekerjaan yang sama: menyelamatkan ingatan. Sebab sebuah bangsa tidak hanya hidup oleh apa yang dibangunnya, tetapi juga oleh apa yang dipilihnya untuk terus dikenang.
Persaudaraan itu melahirkan kerja intelektual yang panjang. Narasi mengenai Jejak Peradaban Manusia Sungai Krayan mula-mula lahir dari percakapan mereka tentang sejarah, migrasi, dan jejak kebudayaan di dataran tinggi Borneo.
Percakapan itu berkembang menjadi riset lapangan, dialog dengan para tetua adat, serta penelusuran berbagai sumber sejarah. Hasilnya kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku yang memperkaya khazanah literasi Dayak.
Bagi Yansen TP dan Masri, menulis bukan semata-mata hanya merangkai kalimat. Menulis adalah cara menyelamatkan ingatan kolektif agar tidak hilang ditelan zaman. Mereka percaya bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang hidup di dalamnya, tetapi juga oleh mereka yang bersedia mencatatnya. Sebab, sejarah yang tidak ditulis lambat laun akan lenyap dari kesadaran generasi berikutnya.
Dari Percakapan di Ladang hingga Lahirnya Jejak Peradaban Sungai Krayan
Tak ada pekan berlalu tanpa diskusi di antara keduanya. Bahkan nyaris tak ada bulan tanpa gagasan baru yang lahir dari percakapan mereka. Ketika Yansen TP hendak ke kebun, selama telepon masih menangkap sinyal di perbukitan Krayan, panggilan video kepada Masri hampir selalu dilakukan. Ruang diskusi mereka bisa berpindah dari jalan setapak, ladang, hingga beranda rumah.
Yang mereka bicarakan hampir selalu sama. Literasi, sejarah, kebudayaan, pendidikan, dan penguatan identitas Dayak menjadi tema yang terus berulang. Percakapan itu bukan obrolan sesaat, melainkan proses berpikir yang melahirkan berbagai gagasan dan gerakan. Dari dialog yang sederhana itulah tumbuh banyak inisiatif yang kemudian memberi dampak lebih luas.
Menggerakkan Literasi Dayak, dari Batu Ruyud hingga Kongres Internasional di Sekadau
Kesamaan visi itu akhirnya menemukan bentuk gerakan bersama. Pada Deklarasi Literasi Dayak di Batu Ruyud, Krayan, tahun 2022, Yansen TP dan Masri Sareb Putra menjadi dua penggerak utama yang menyatukan berbagai elemen masyarakat. Gerakan tersebut menjadi titik awal lahirnya jejaring Literasi Dayak yang semakin berkembang di berbagai wilayah Borneo.
Empat tahun kemudian, gagasan itu mencapai tonggak baru melalui Kongres Internasional I Literasi Dayak dan The 1st Dayak Book Fair di Sekadau, pada 15 sampai 16 Mei 2026. Di balik penyelenggaraan kegiatan itu, keduanya bekerja tanpa banyak sorotan. Mereka menyusun konsep, membangun jejaring, menghubungkan para pegiat literasi, serta memastikan bahwa literasi menjadi ruang perjumpaan bagi masyarakat Dayak lintas generasi.
Barangkali ada hari ketika mereka tidak sempat bertemu secara langsung. Namun hampir tidak ada hari yang berlalu tanpa percakapan tentang literasi.
Bagi Yansen TP dan Masri, literasi bukan sekadar membaca dan menulis. Literasi adalah jalan merawat peradaban, memperkuat identitas, dan memastikan bahwa kisah Dayak tetap hidup melalui karya yang diwariskan kepada generasi yang akan datang.
Jakarta, 23 Juli 2026