Ekonomi

Imagine This (Part One) - Agriculture

Senin, 8 Agustus 2022, 18:27 WIB
Dibaca 320
Imagine This (Part One) - Agriculture
Leuit Baduy atau lumbung tempat menyimpan hasil panen ladang padi pada masyarakat Baduy. Leuit menjadi penanda ketahanan pangan warga Baduy. @gajeboh Baduy Luar.

Imagine This

(part one) - Agriculture

Bayangkan dirimu dan anak-anakmu 20 – 30 tahun ke depan. Masa di mana kita menua dan anak-anak kecil generasi hari ini mulai memasuki realita kehidupan dan sedang membangun peradabannya.

Namun, sebelum kalian melamunkan ke masa 20 – 30 tahun mendatang, mari kita lihat dunia hari ini. Peradaban yang kita jalani hari ini, sesungguhnya juga sudah jauh berbeda dengan dunia pada masa 20 – 30 tahun lalu, Dunia robot, kecanggihan internet dan artificial intelligent (kecerdasan buatan atau lebih sering disingkat AI) baru hadir pada dunia imajenasi para pemimpi teknologi dan dunia hayal film-film bergenre fiksi teknologi masa depan.

Hari ini, dunia fiksi 20 – 30 tahun lalu sudah menjadi kenyaataan, kita tidak lagi hidup dalam dunia fiksi, hari ini di dunia negara negara dengan industrinya yang maju, kerja-kerja berat sudah dilakukan oleh robot dan mesin-mesin canggih yang seolah-olah memiliki pikirannya sendiri, dengan tingkat akurasi, presisi dan produktifitas yang sangat tinggi. Salah satu bidang yang sudah secara massif mengintegrasikan seluruh ilmu pengetahuan dan teknologi tingkat tinggi adalah bidang pertanian. Pertanian bukan lagi sebuah pekerjaan yang hanya dibutuhkan pekerja dengan low skill, tapi pertanian modern membutuhkan orang-orang hebat yang berpikir besar dalam inovasi teknologi.

Dunia pertanian hari ini, tidak lagi ditentukan oleh seberapa luas lahan pertanian yang kita miliki, tapi seberapa hebat inovasi teknologi yang kita miliki dan gunakan. Belanda telah membuktikan hal itu, tahun lalu berdasarkan situs https://dutchreview.com/culture/innovation/second-largest-agriculture-exporter/, Belanda berhasil membukukan nilai eksport pangan yang bersumber dari peternakan dan pertaniannya sebesar 100 Miliar Euro atau Rp. sebesar 1523.755.267.000.000 (seribu lima ratus dua puluh tiga trilyun tujuh ratus lima puluh lima milyard, dua ratus enam puluh juta). 

Jika dibandingkan dengan total eksport hasil pertanian indonesia pada tahun yang sama, berdasarkan dari sumber berita berikut  https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2022/02/04/di-tengah-pandemi-ekspor-pertanian-indonesia-terus-meningkat,  Indonesia hanya mampu mengeksport sekitar 1/3 nya dari total ekspor Belanda, atau hanya sekitar 625 Trilyun. Padahal jika dibandingkan luasan wilayahnya  Indonesia itu memiliki luas 44.815 kali lipat dari luas wilayah Belanda,   Iya betul, luas wilayah Indonesia itu hampr 45 ribu kali lipat luasnya dibandingkan dengan Belanda, tapi hanya mampu mengahasilkan eksport pangan kurang dari 1/3nya total eksport Belanda. 

Lalu apa yang membuat Belanda berhasil menjadi negara pengeksport hasil pertanian/peternakan terbesar di dunia? Ini karena Belanda telah mengintegrasikan seluruh sistem pertanian dan peternakannya ke dalam teknologi modern, penggunaan AI sampai ke modelling dan climate engineering atau iklim buatan pada bidang pertaniannya. 

Pertanian dan peternakan tentu saja membutuhkan sumber daya pakan dan air yang memadai serta cuaca yang sesuai. Bagi Belanda tantangan ini sudah bisa teratasi, sumber daya pakan peternakan Belanda saat ini banyak berasal dari sampah organik, sampah domestik maupun sisa makanan yang diolah sedemikian rupa untuk menjadi pakan ternak. kebutuhan air dan nutrisi telah mereka atasi dengan model inovasi pemberian air yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, tidak ada over flow atau kelebihan air yang terbuang.  Tanaman diberikan instrument untuk "bicara'.  Tanaman diberikan suara yang bisa diterima/didengar oleh teknologi untuk menyatakan haus atau lapar dan kenyang. Dengan teknologi ini tanaman tidak lagi bisu, tanaman bisa bicara sesuai dengan kebutuhannya. Teknologi otomotisasi melalui AI menyediakan minuman dan nutrisi secara otomatis sesuai dengan input sinyal "suara" yang diberikan tanaman.

Tak hanya itu, Belanda bahkan mampu melakukan modifikasi iklim pada ruang terbatas, hal ini memungkinkan Belanda bisa memiliki produk2 tanaman tropis, sekalipun Belanda berada pada wilayah subtropis. Belanda membuktikan bahwa cuaca dan iklim bisa direkayasa melalui climate engineering tersebut.

Belanda juga telah membuktikan bahwa penguasaan pengetahuan dan teknologi, pengembangan riset dan desain menjadi kunci keberhasilan. Menjadi Petani di Belanda, bukanlah seperti petani dalam bayangan kita di sini, tapi petani dengan skill set pengetahuan modern yang mumpuni. Pertanian dan peternakan tidak hanya dilakukan di alam terbuka, Pertanian dan peternakan hari ini tidak hanya ditopang oleh kecanggihan riset-riset di laboratorium, tapi pertanian dan peternakan dengan skala massif justeru sudah dilakukan di dalam laboratorium. 

Dunia Pertanian termasuk peternakan bahkan sudah melangkah jauh ke depan. Sektor ini bahkan boleh dibilang sedang melakukan revolusi besarnya. Dalam bidang biologi, untuk memperkaya vegetasi dan melakukan perekayasaan genetic telah lama dilakukan Kultur jaringan atau lebih dikenal sebagai “tissue culture” . Hal ini sudah umum dilakukan sebagai tenik mempercepat pengembangan vegetasi/tanaman dengan mengembangkan sistem jaringan sel untuk tumbuh mandiri dan dewasa. Pun begitu, pemurnian gen dan penyuntingan gen untuk menghasilkan kualitas terbaik dari tanaman sudah menjadi kunci keberhasilan negara2 maju dalam mendongkrak pertainanya. 

Lalu bagaimana dalam bidang peternakan, saat ini dunia sedang menatap sebuah terobosan baru, di mana peternakan tidak lagi diperlukan untuk memelihara ternak/hewan , namun hanya diperlukan menumbuhkan jaringan sel di dalam laboratorium. Saat ini kita sedang menapaki pijakan baru, dunia daging tanpa harus membunuh binatang ternak.

Berternak ayam, sapi atau mengembangkan budi daya udang tidak lagi dilakukan di sebuah peternakan yang bau atau di dalam tambak-tambak udang yang basah, berternak ayam dan budidaya udang saat ini bisa dilakukan di dalam laboratorium tanpa harus memelihara ayam dan memelihar udang.  Jika kita menyukai daging ayam, sapi ataupun udang atau daging lainnya, maka kita cukup mengembangkan sel daging ayam dan sel daging udang di dalam laboratorium untuk dipanen.

Teknologi peternakan modern tanpa berternak ini disebut dengan teknologi culture meat atau lab grown meat.  Melalui culture meat para peneliti sudah berhasil mengembangkan sel untuk menjadi sel tumbuh menjadi daging ayam, sapi, ikan dan daging lainnya. Daging ini bukan merupakan daging sintesis, bukan sama sekali daging pengganti, ini adalah daging aseli karena daging ini memiliki sel yang sama persis dengan daging yang diperoleh dari sel binatang ternak, sehingga baik tesktur maupun rasanya akan sama. Bahkan, melalui perekayaan genetik, kualitas daging bisa disesuaikan dengan selera dan kebutuhan. Yang berbeda dengan daging dari hewan ternak adalah cara pengembangbiakannya.

Pada peternakan biasa sel berkembang pada hewan tubuh ternak dari kecil menjadi besar sampai dipanen, sementara culture meat hanya ditumbuhkaan dagingnya saja di laboratoriun tanpa harus memelihara ternak/binatangnya.  Ini bukan fiksi, ini adalah kenyataan hari ini, jika anda ke Singapore, Eropa, Amerika atau Israel yang cukup masif dalam pengembangan culture meat, maka bisa jadi daging yang anda makan bukanlah hasil pemotongan hewan, tapi hasil dari pengembangan sel daging di laboratorium.

Dunia sekali lagi mengalami lompatan peradaban yang mengagumkan, hari ini, kita bisa makan daging tanpa harus membunuh hewan.  Hari ini kita bisa menikmati daging tanpa harus memberikan dampak emisi yang cukup besar dari sektor peternakan dan pertanian. Dalam laporan badan pangan dan pertanian dunia (FAO) yang dibuat tahun 2018 lalu dengan link berikut;  https://www.fao.org/3/cb3808en/cb3808en.pdf 

Dilaporkan bahwa sektor pertanian menyumbangkan sekitar 17% pelepasan emisi gas rumah kaca (green house gas).

Dan tampaknya trend sumbangan emisi akan terus meningkat jika model pertanian saat ini tidak berubah, laporan terakhir bahkan ada yang menyatakan sumbangan sector pertanian terhadap sumbangan emisi gas rumah kaca telah sampai di angka 23% seperti yang ada dalam artikel berikut;  https://www.polytechnique-insights.com/en/braincamps/planet/agriculture-can-we-lower-emissions-whilst-feeding-the-world/how-to-reduce-greenhouse-gas-emissions-from-agriculture/ Pertanian dan peternakan adalah salah satu penyumbang perubahan iklim di dunia. Ini adalah tantangan yang cukup besar, karena jika praktek pertanian tidak berubah, dengan semakin luas pembukaan lahan pertanian dan peternakan, maka sumbangan emisi yang dihasilkan akan makin banyak dan memperparah perubahan iklim.

Tantangan pemenuhan kebutuhan pangan penduduk dunia bukanlah hal yang baru, setidaknya hal ini juga pernah disampaikan oleh bapak demografi dunia, Thomas Robert Maltus, lebih dari dua ratus tahun lalu.

Malthus, sempat mengkhawatirkan bahwa kenaikan populasi yang berjalan secara geometri tidak akan mampu diimbangi oleh kemampuan manusia menyediakan pangannya yang berjalan secara aritmetika.

Dengan kata lain, pertumbuhan penduduk itu jauh melebihi dari kemampuan manusia mengembangkan produksi pangannya. Sementara laporan FAO tahun 2017 lalu juga menyatakan bahwa pada tahun 2050, diprediksi jumlah manusia akan melewati angka 9.1 miliar. Pada phase itu diperkirakan sistem pangan dunia yang ada hari ini tidak akan mampu memenuhi kebutuhan pangan dengan jumlah penduduk tersebut. Ketersediaan pangan ini juga diperparah oleh sistem penguasaan yang tidak merata dan membuat negara-negara miskin akan semakin kekurangan, bahkan laporan lainnya menyatakan pada tahun 2023 (satu tahun dari hari ini) akan ada banyak negara yang kelaparan karena struktur dan distribusi pangan yang tidak merata dan kurang berkeadilan.  https://www.globalcitizen.org/en/content/world-running-out-of-food-by-2023/#:~:text=The%20United%20Nations%20Food%20and,enough%20food%20to%20feed%20everyone

Dunia harus dan perlu segera melakukan revolusi sektor pangan, kita tidak lagi bisa menggunakan praktek kegiatan pangan dengan cara yang biasa atau bussiness as usual /BAU karena kegagalan dalam menjawab tantangan ini akan mengakibatkan mandeknya peradaban, tragedi kemanusiaan dan konflik antar negara yang diakibatkan oleh perang-perang yang memperebutkan sumber daya pangan.

Tantangan itu,  sudah mulai dijawab secara perlahan. Revolusi dunia pertanian dan peternakan saat ini sedang terjadi, Sebuah revolusi  yang memberikan tingkat efesiensi sektor pangan dalam seluruh kegiatan produksinya.  Dunia berharap bahwa di masa depan teknologi dalam bidang ini mampu memberikan pemenuhan kebutuhan sumber pangan berkelanjutan, dimana produksi terus meningkat sementara dampak lingkungan yang dimunculkannya semakin menurun.

Dunia agrikultur merupakan salah satu kunci penting peradaban modern. Dunia agrikultur bukan lagi dunia yang identik dengan bau kotor serta pekerjaan yang dianggap rendahan, tapi pekerjaan yang berpakaian rapi, bersih, wangi dan memerlukan set skill yang mumpuni dalam lintas disiplin beragam ilmu pengetahuan. Belum lagi ditambah bahwa pekerjaan ini bisa diset dengan menggunakan AI dan mekanisasi robot.  Dunia pertanian telah menunjukan kepada kita, bahwa dunia hari ini sedang berubah. Perubahan itu bukan lagi akan datang, tapi perubahan sudah hadir, dan kita berada di dalamnya. Jika kita tak segera menyadarinya, maka kita akan segera terlindas, dan tertinggal jauh oleh peradaban modern.

Sampai jumpa di Imagine this Part Two

Tabik,

HP. 08.08.21