Wisata

Museum & Galeri SBY - Ani

Selasa, 23 Februari 2021, 11:37 WIB
Dibaca 151
Museum & Galeri SBY - Ani
Maket Museum & Galeri SBY-Ani (Foto: pacitanku.com)

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai presiden Republik Indonesia dua periode (2004-2009, 2009-2014) tentu memiliki beragam koleksi serta rangkaian cerita saksi sejarah SBY hingga menapaki karir di dunia militer hingga akhirnya sebagai presiden RI. Untuk itu SBY menghadirkan Museum & Galeri SBY - Ani di kabupaten Pacitan, tanah kelahiran SBY yang juga untuk menyimpan koleksi seni dan foto hasil jepretan almarhumah Ani Yudhoyono.

SBY terinspirasi saat melakukan kunjungan ke museum kepresidenan Amerika Serikat seperti Truman, Eisenhower, Clinton dan Bush.

Museum adalah gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum seperti peninggalan sejarah, seni dan ilmu, tempat menyimpan barang kuno. Memuseumkan berarti memasukkan, menyimpan ke museum, tidak menggunakan lagi (KBBI).

Museum & Galeri SBY - Ani yang diresmikan pembangunannya di awal bulan Februari 2020 lalu di jalan lingkar selatan (JLS) Pacitan, diharapkan menjadi objek wisata edukasi yang mengilhami generasi muda, selain efek domino ekonomi bagi masyarakat Pacitan dalam jangka panjang. Target pembangunan museum selesai pada Maret 2021 dan dibuka untuk umum pada tahun 2022 mendatang, menjadi museum ketiga di Indonesia bagi seorang presiden, setelah Museum Bung Karno dan Museum Soeharto.

Sumber dana pembangunan museum ini berasal dari mandiri dan sejatinya jika melihat aturan Undang-undang maka ada dana yang dialokasikan untuk pembangunan museum baik museum dari pemerintah maupun masyarakat. Dalam hal ini Pemerintah provinsi (pemprov) Jawa Timur (Jatim) sudah menjalankan sesuai aturan tersebut mengingat lokasi museum ada di wilayah pemerintahannya.

Baca Juga: Pemimpin-pemimpin Muda Dunia

Dengan menghibahkan dana sebesar Rp9 milyar sebenarnya dana yang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan pembangunan Grha Megawati yang menelan biaya hingga Rp90 milyar yang berasal dari pemerintah pusat, pemprov Jawa Tengah dan pemkab Klaten, masa bakti sebagai presiden RI 3,5 tahun (23 Juli 2021-20 Oktober 2004), dan pembangunan sarana makam Gusdur menelan biaya hingga Rp100 milyar yang berasal dari pemprov Jatim dan pemkab Jombang dan akan meminta bantuan pemerintah pusat, masa bakti sebagai Presiden RI 1,5 tahun (20 Oktober 1999 - 23 Juli 2001).

Keinginan terbesar dari setiap pemimpin daerah jika wilayahnya dapat maju dari semua sisi, mengingat dari wilayah tersebut telah lahir banyak tokoh bangsa yang membanggakan, hal umum jika kemudian dikemas dalam bentuk yang menarik, menginspirasi bagi perkembangan sosial budaya masyarakat di wilayah tersebut. Pada akhirnya berdampak lahir lebih banyak lagi tokoh-tokoh bangsa di masa selanjutnya.

Jika pola seperti ini menjadi rumus dan pegangan bagi setiap pemimpin daerah, maka tidak sulit mewujudkan pembangunan yang mencerdaskan bangsa, bukti Indonesia sebagai negara beradab karena selalu mengedepankan pengetahuan.

Ketentuan soal bantuan pemerintah baik pusat atau pemerintah daerah untuk pembangunan dan pemeliharaan museum tercantum pada Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum, yang berisikan pasal 50 Ayat (1) PP menyatakan, pemerintah atau pemerintah daerah dapat memberikan bantuan pendanaan kepada setiap orang atau masyarakat hukum yang memiliki museum. Kemudian Pasal 50 Ayat (2), disebutkan bahwa bantuan pendanaan tersebut dapat digunakan untuk pembangunan museum, revitalisasi museum, dan/atau peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Semoga masyarakat Indonesia semakin melek dan terbuka pikirannya, ada hal yang memang menjadi prioritas apalagi di masa pandemik seperti sekarang, namun tidak berarti munculnya pandemi menghentikan gerak ekonomi, disadari bahwa kehidupan akan terus berlanjut.

Bagi pemimpin tentu memiliki skala prioritas dalam situasi yang dihadapi namun tidak serta merta karena harus menghalau virus tidak melakukan upaya baik di sisi lain sebagai kebutuhan masyarakat yang secara fisik (jasmaniah) tetapi juga kebutuhan batin (rohaniah), jika kedua hal ini dapat berjalan seiring maka saat wabah menurun dan hilang, masyarakat tersuguhi hal baru yang menginspirasi dan mengedukasi mereka dari sejak setahun harus berada di rumah saja akibat Covid-19.

Mengingat sektor wisata Pacitan selama ini lebih ke laut dan pantai, maka dengan hadirnya Museum & Galeri SBY - Ani memberi warna baru tersendiri bagi Pacitan yang fungsinya semakin mencerdaskan. Bukan semata menjadi kebanggaan Pacitan tetapi juga kebanggaan Jawa Timur dan Indonesia.

Jika alm Gusdur fokus pada wisata religi (sesuai latar belakang ilmu) maka SBY fokus pada wisata edukasi (sesuai latar belakang ilmu).

***