Sosok

Bedara' : Upacara Adat Peletakan Batu Pertama Institut Teknologi Keling Kumang, Sekadau

Jumat, 20 Mei 2022, 09:47 WIB
Dibaca 351
Bedara' : Upacara Adat Peletakan Batu Pertama Institut Teknologi Keling Kumang, Sekadau
Untuk kenangan akan adat

Berdara' adalah suatu tradisi adat budaya yakni upacara adat di kalangan suku bangsa Iban. Terutama, tradisi berdara' ini hidup di kalangan suku bangsa ibanik di Kalimantan Barat.

Itulah yang terjadi dan kita saksikan di lokus pendirian gedung rektorat Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK) di Sekadau. Lokus gedung rektorat baru ITKK, dan kampusnya, dibangun di areal sekitar 5 hektar. Di Jalan Sekadau-Sintang, sepelempar batu dari jembatan Penanjung, Sungai Sekadau.

Upacara adat bandara' itu diadakan pada tanggal 20 Mei 2022, diikuti oleh seluruh petinggi, staf, dan anggota keluarga besar gerakan Keling Kumang. Adapun ketua adat datang dari sungai Utik, Apai Janggut yang dianggap sebagai "bapak rohani" gerakan Keling Kumang ini.

Sudah menjadi kebiasaan di lingkungan gerakan pemberdayaan ekonomi kerakyatan Keling Kumang di Kalimantan Barat terutama di Sekadau, Sintang, dan Kapuas Hulu bahwa setiap ada upacara besar misalnya peletakan batu pertama diadakan upacara bendera.

Upacara tersebut boleh dikatakan sebagai kearifan lokal masyarakat setempat. Institut Teknologi Keling Kumang sebagai salah satu perguruan tinggi satu-satunya di kabupaten Sekadau, menunjukkan kepada masyarakat sesuai dengan visi misinya dari Sekadau untuk bangsa. Bahwa apa pun yang dilakukan, diawali dengan upacara adat.

Upacara adat ini apabila dilihat dari kacamata pandangan Gereja bukan berarti okultisme. Akan tetapi, sesuai dengan jiwa Konsili Vatikan II, yakni Dokumen Lumen Gentium dan Ad Gentes bahwa Gereja hadir menghadirkan Kristus yang nyata ke dunia, Allah Bapa dan Allah Roh Kudus yang abstrak menjadi nyata, sesuai dengan konsep alam nyata dan budaya masyarakat setempat. Itulah inkulturasi.

Oleh karena itu, kalau setiap ada kegiatan akademik atau kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan ITKK, senantiasa mengawalinya dengan upacara adat.

Upacara adat ini selaras dengan iman Gereja. Yakni sebelum memulai karya-karya besar sebagaimana Yesus Kristus dahulu kala sebelum mulai karya-karya besar, selalu berdoa dan meminta restu kepada Allah bapa di surga. Agar semua yang dilakukan direstui dan berkenan kepada yang maha kuasa. Itulah tadi yang kita saksikan di dalam ritual bedara'. Di mana hewan kurban sembelihan ayam dan babi, itu adalah bukti bahwa kita memberikan yang terbaik kepada Sang Pencipta Langit dan bumi. Hal yang kita lakukan itu adalah suatu bukti nyata bahwa kita memberikan yang terbaik kepada pencipta langit dan bumi. Akan tetapi, daging dan hati babi yang dianggap sebagai hati itu adalah intisari dari kehidupan. Apai Janggut sebagai ketua adat dan bapak rohani dan pegiat lingkungan diminta untuk melihat apakah yang ditandakan dari hati babi tersebut, ternyata hasilnya sangat bagus.

Dari hasil yang dilihat di tengarai bahwa semuanya baik adanya, meski ada sedikit luka di bagian hati itu menunjukkan bahwa kekuatan buruk kekuatan-kekuatan yang tidak baik itu akan dikalahkan invictus sesuai dengan motto dari Gerakan  CU Keling Kumang.

Seperti diketahui Institut Teknologi Keling Kumang saat ini memasuki tahun yang kedua. Menurut Rektor ITKK, sekaligus Ketua Pengurus CU Keling Kumang, Dr. Drs. St. Masiun, "Sebagian besar mahasiswa adalah putra-putri terbaik dari Kalimantan Barat, terutama siswa-siswa tamatan dari kabupaten Sekadau Sanggau, Sintang, dan Kapuas Hulu. Akan tetapi, mahasiswa ITKK juga menerima aktivis dan anggota CUKK sebanyak 60 mahasiswa. Diharapkan tahun yang kedua mahasiswa ITKK berjumlah 200 mahasiswa."

Ketua Yayasan Pendidikan Keling Kumang (YPKK), Musa Narang membeberkan bahwa Gedung Rektorat ITKK dasarnya dibangun dari partisipasi anggota CUKK yang saat ini berjumlah 207.000. Ia memberi nama gerakan partisipasi untuk membangun gedung Rektorat, yang direncanakan 3 lantai, "G-20".

"Ge singkatan dari gerakan. Sedangkan 20 adalah nilai rupiah yang diharapkan masuk, dan diterima Panitia. Sehingga 207.000 x Rp20.000, diharapkan cukup untuk membangun pondasi gedung Rektorat," terang Musa sembari menjelaskan bahwa makna dari pondasi dan partisipasi anggota Gerakan CUKK ini sangat dalam.