Sosok

Damang Batu

Selasa, 18 Agustus 2020, 11:23 WIB
Dibaca 82
Damang Batu
Damang Batu

Damang Batu identik dengan Perjanjian Damai Tumbang Anoi1894. Ia satu-satunya yang menyatakan siap menjadi ‘toean roemah” pertemuan akbar Dayak se-Borneo Raya yang berlangsung hampir 3 bulan. Pertemuan mahapenting ini membentuk identitas suku Dayak, sekaligus berhasil  menghentikan H-3 (hakayau, habunu, hatetek) + H jipen (perbudakan).

Damang Batu, dengan dukungan Kolonial Belanda, berhasil menyelenggarakan Rapat Damai Tumbang Anoi (sekarang masuk wilayah Kabupaten Gunung Mas), yang konon dihadiri oleh perwakilan suku-suku Dayak dari berbagai penjuru pulau Borneo/ Kalimantan pada tahun 1894.

Tumbang Anoi adalah wilayah Kabupaten Gunug Mas, Kalimantan Tengah saat ini adalah lokasi Perjanjian menghentikan H-3 (hakayau, habunu, hatetek) + H jipen (perbudakan). Sejatinya, inisiasi pertemuan oleh Kolonial Hindia Belanda dalam rangka menguasai tanah Dayak dan menundukkan suku bangsa penghuni Tanah Borneo. Dokumen tertulis, dari surat-surat dinas para kontroleur yang berbahasa Belanda menyebutkan: para kontroleur berangkat lewat motor air berminggu-minggu lamanya, ada dari Pinoh, yang lain dari DAS di Borneo. Para Temenggung (138 peserta) sebagaimana dicatat oleh Damang Pidjar--kepala adat Kahayan Hulu.

Pada tahun 1894, sejarah memang mencatat Damang Batu pernah menyatukan para pemimpin Dayak se-Borneo. Jumlah yang datang tercatat lebih dari tiga ribu. Namun, inisiasinya datang dari Pemerintah Kolonial Belanda yang tentu saja punya agenda tersembunyi.

Pertemuan diadakan selama hampir tiga bulan dari 22 Mei – 24 Juli 1894 di Tumbang Anoi, sebuah wilayah yang kini terletak di Kalimantan Tengah, daerah Gunung Mas. Pertemuan itu memang tidak dimaksudkan untuk memilih pemimpin dari antara ribuan pemimpin Dayak yang datang. Namun, cukup penting karena disepakati menghentikan

Senarai tokoh Dayak tanpa Damang Batu, ibarat bangunan tanpa disangga pondasi batu. Rapuh dan mudah rubuh. Betapa tidak! Dialah Gadjah Mada-nya suku bangsa Dayak yang menyatukan seluruh Borneo pada 1894.

Merunut kepada penelitian Yanedi Jagau, Damang Batu dilahirkan di belantara Kaleka Panahan, Tumbang Pama Sungai Pejangei, Kecamatan Tewah kini.

Ayah Damang Batu bernama Jaga Asang, sedangkan nama ibunya tidak diketahui. Saudara kandung ayah Damang Batu adalah Runjan. Sesudah puluhan tahun kemudian, ketika Damang Batu menginjak usia dewasa, ayahnya mengikuti Runjan pindah ke Hulu Sungai Kahayan dan menetap di Tumbang Anoi.

Adalah Runjan, yang kemudian dikenal dengan Temanggung Runjan, yang mendirikan rumah betang di Tumbang Anoi. Ini terjadi sekitar tahun 1870. Rumah betang ini kemudian hari dijual kepada Damang Batu seharga 30 jipen, atau setara F900. Setelah transaksi jual-beli betang ini, Runjan selanjutnya pergi ke Mahakam dan menetap di Long Iram.

Damang Batu meneruskan tradisi dan adat lembaga rumah betang di Tumbang Anoi. Menurut Friady dalam Usop (1996), Damang Batu menikah pada usia 33 tahun dengan Nyai Rantai, seorang wanita dari Tewah.

Sekian tahun menikah, pasangan ini tidak juga dikaruniai anak. Sehingga atas restu dan izin Nyai Rantai, agar mendapat keturunan, Damang Batu kemudian menikah lagi. Istri keduanya adalah wanita dari Sungai Samba Hulu bernama Tumbang Baraoi. Pada usia 73 tahun, Damang Batu menjadi tuan rumah yang menyelenggarakan Pertemuan Damai yang dikenal dengan “Pertemuan Tumbang Anoi”. Ini berlangsung tiga bulan, dari 22 Mei – 24 Juli 1894.

Ada berbagai kisah, mengapa Damang Batu yang terpilih sebagai penyelenggara dan tuan rumah pertemuan bersejarah itu. Dari sekian banyak versi, agaknya kita bersetuju dengan catatan Nahan (1870 – 1930) yang dikenal sebagai penulis Dayak tempo doeloe.

Nahan, antara lain menulis, “Metoh Damang Batoe melai intoe Tbg. Anoi, salenga doemah oloh bara lewoe Tbg. Telaken (Manoehing) area Engkan. Panoemah Engkan manalih Damang Batoe blakoe sahiring kolae 3 biti, idje impatei Timbang, kolan Damang Batoe. Tapi Damang Batoe te, dia nahoeang bajar sahiring akae, basa Timbang idje mampatei ewen telo je, djari matei. Koan Damang Batoe dengan Engkan akoe dia nahoeang bajar sahiring te. Amon ikau badjoedjoe managihe kaleh itah hapeono ih. Bahalap wei djalaham hajak sadia kare kata. Tempo 3 boelan, akoe toentang kare djahalangkoe doemah kantoh tinai, paloes itah hakalhi, hatembak, hapoeno, hatedjep. Sama hapoes 3 boelan Engkan toentang 12 biti awing dengae, doemah tinai akan Tbg. Anoi. Maka Damang Batoe, djari tatap toemon aoeh lakoen Engkan.

Teks tertulis itu bersaksi. Bahwa sekonyong-konyong datang banyak “musuh” dari Tumbang Telaken ke Manuhing. Pasukan itu dipimpin Engkan. Bertekad menemui Damang Batu untuk minta pertanggungjawaban atas pembunuhan (sahiring) terhadap tiga saudara Engkan yang telah dikayau oleh Timbang yang masih merupakan keluarga Damang Batu. Namun, Damang Batu menampik membayar sahiring tersebut. Jika saja Engkan berkeras hati tetap menagih, maka kata Damang Batu, “baiklah kita saling kayau”.

Tantangan tersebut dijawab oleh Engkan, “Baiklah, siapkan saja seluruh saudaramu dan dalam tempo 3 bulan aku dan seluruh keluargaku akan ke Tumbang Anoi untuk berkayau dan mengadakan perhitungan.”

Perseteruan, atau perkayauan, antara Damang Batu dan Engkan ini agaknya yang menginspirasi Damang Batu menghentikan pengayauan di ranah Dayak.

Si Damang memandang bahwa pertumpahan darah yang sia-sia, saling bunuh antarpuak Dayak yang umum terjadi di bumi Borneo saat itu, perlu dihapuskan. Damang Batu pun gencar melakukan pendekatan, baik kepada sesama damang, temenggung, maupun panglima atau kepala suku. Bahkan, seruan perdamaian ini direspons oleh Controleur A.C. Deher di Kapuas. Maka terjadilah peristiwa bersejarah. Pertemuan Tumbang Anoi pada 1894.

Saya mencatat itu bukan taktik divide et impera, melainkan salt starvation. Karena manusia Dayak saling kayau, tidak ada satu bentuk kerajaan/ imperium melainkan berdasarkan klan atau kepala (tuai) rumah panjang, maka mereka perlu disatukan (dulu) baru dikuaasai. Agaknya, para guru sejarah perlu menjelaskan bahwa khusus di Tanah Dayak (Borneo) taktik menguasaan kolonial bukan divide et impera, melainkan salt starvastion.

Meski demikian, Damang Batu bukan saja tuan rumah, penyelenggara Pertemuan Tumbang Anoi 1894 bersejarah dan mahapenting itu. Ia wajib diingat, bahkan selayaknya dibaiat menjadi pahlawan suku bangsa Dayak. Tidak berlebihan menyebut Damang Batu adalah “Gadjah Mada”-nya orang Dayak. Ia tokoh pemersatu suku bangsa yang kini populasinya sedunia ditengarai 8 juta jiwa.

Ia tokoh pemersatu suku bangsa Dayak. Sebab yang ikut dalam musyawarah itu lebih dari seribu peserta, bukan hanya para pemuka Dayak yang kini tergabung dalam NKRI, peserta juga datang dari Brunei dan negeri Sarawak. Inilah tonggak sejarah yang oleh saya dan Mahin disebut sebagai awal munculnya kesadaran- diri (ethnic identity) suku bangsa Dayak.

Damang Batu wafat pada usia 97 tahun.

Ada Hari Kebangkitan Nasional. Ada Hari Kebangkitan Dayak (HKD). Jika suatu waktu ada upaya mencari kapan Hari Kebangkitan Dayak maka bisa ditetapkan pada 22 Mei, hari pertama Musyawarah seluruh warga Kepulauan Borneo yang dihadiri wakil-wakil tiap-tiap subsuku.

Seperti diketahui ada 7 rumpun atau subsuku (stammenras) Dayak dengan 405 sub subsuku.

 

Tags : sosok