Sosok

Panglima Jilah | Fenomenon Kebangkitan Gerakan Dayak Abad Ini

Senin, 28 November 2022, 19:55 WIB
Dibaca 666
Panglima Jilah | Fenomenon Kebangkitan Gerakan Dayak Abad Ini

Tak pelak. Kemarin. Kemarin dulu. Hari ini. Besok puncaknya (29/11-2022). Lusa. Atau di lain hari. Topik Panglima Jilah dan Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) ini masih jadi buah bibir di mana-mana. Khususnya, di Pulau Kalimantan.

Kita mafhum bersama bahwa ada banyak Gerakan Dayak. Misalnya, yang lumayan dikenal adalah Gerdayak. Dan masih banyak lagi. Namun, tak "seheboh" keberadaan dan kemunculan TBBR  ini.

Ada apa gerangan? Sampai-sampai Presiden Jokowi berkenan datang di acara yang dihelat TBBR yang secara gerakan massa baru "kemaren sore?"  dengan Panglima (ketua umum) bernama Jilah?

Sungguh luar biasa Presiden datang ke acara yang tiba-tiba. Tentu, ini faktor sang panglima. Dan pasukan merah, yang luar biasa. Suatu perhelatan akbar, yang diberi nama “Bahaump Bide Bahana”. Atau dalam khasanah Indonesianya: Temu Akbar Pasukan Merah TBBR. Sedianya dilangsungkan di Pontianak, Kalimantan Barat pada Selasa 29 November 2022.

Ada apa? Atau faktor apa yang mendorong Presiden RI datang ke acara, yang sedianya digelar di Pontianak dalam waktu dekat ini? That’s a question. Bisa jadi, terkait dengan peta kekuatan gerakan  (moral dan sosial) pasukan merah ini.  Berbagai aksinya, di negeri ini. Membela kaum lemah dan terpinggirkan, sudah jadi konsumsi media. Ini berita biasa.

Namun, pandangan Sang Panglima tentang Ibu Kota Negara (IKN), yang bisa jadi “cukup berbeda”, barangkali ini yang jadi magnit Jokowi bertemu. Mungkin juga ingin berdiskusi. Dan mendengar langsung, tanpa media dan perantara. Apa yang jadi isi hati. Sekaligus, kerisauan PJ ihwal IKN.

Siapa Panglima Jilah? Sosok yang meggemparkan dalam berbagai peristiwa penting di bumi Borneo?

Baca juga: https://bibliopedia.id/panglima-jilah-kerisauannya-pada-ikn/?v=b718adec73e0

Lahir di desa Sambora, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Tepat hari Jumat. Tanggal 19 Agustus 1980, kepadanya diberi nama “Agustinus”. Kemudian hari, ia dikenal sebagai Pangalangok Jilah atau Panglima Jilah.

Sering dipanggil, dan dikenal dengan sebutan “PJ” singkatan dari Pangalangok Jilah. Disapa PJ karena banyak orang sulit mengucapkan kata “Pangalangok Jilah”.

Mengingat pasukan TBBR berjibun, dan memiliki kekuatan bukan saja spiritual melainkan juga fisik, mungkin Presiden Jokowi bersedia berjumpa.

Banyak perjuangannya untuk suku, bangsa dan negara. Misalnya, pembebasan enam peladang di kabupaten Sintang. Lalu ada aksi massa di mana petani plasma menuntut haknya kepada koorporasi PT. PI di wilayah kecamatan Ngabang, kabupaten Landak. Selain itu, Jilah juga berperan dalam perjuangan masyarakat adat Kinipan, Kalimantan Tengah.

Selain itu, yang juga baik dan harus diakui, adalah ini: Pasukan TBBR di Jangkang dan di tempat lain mengggali kembali dan menghidupkan situs nenek moyang yang lama tidur dan terkubur oleh waktu dan ingatan, mereka hidupkan kembali. Salahkah ini?

Suka tidak suka. Skeptis atau mengamini. Ini bukti salah satu karya TBBR di dusun saya, persisnya di lahan saya. Terus terang, saya pribadi tak bisa melakukan ini. Ponakan saya, yang saya nggap "anak sendiri", Hertanto yang melakukannya. Ia anggota pasukan TBBR yang militan. Katolik juga 1000-%.

Selain itu. Tidak terbilang banyaknya, TBBR telah melakukan penggalian kembali dan menghidupkan situs-situs adat dan budaya tradisi suku bangsa Dayak yang nyaris, bahkan telah tenggelam sama sekali di berbagai penjuru di Kalimantan. Sebut saja, sebagai contoh, di situs bersejarah di Jangkang dan wilayah Sekadau.

Siapa yang peduli pada masalah dan nasib sukubangsanya? Tidak ada! Kecuali sukubangsa itu sendiri! – seperti PJ.

Bagaimana sosoknya sehari-hari? Bagaimana kisah ia jadi panglima? Sedemikian rupa, sehingga menginspirasi dan jadi idola banyak orang, utamanya kaum milenial di bumi Borneo dengan ribuan pengikut yang tergabung dalam pasukan merah?

Panglima Jilah turut memberi pandangan, pemikiran, dan harapan-harapan terkait pemindahan ibu kota negara (IKN) dari Jakarta, pulau Jawa, ke Paser Penajam pulau Kalimantan.

“Telah selesai. Tinggal implementasi. Presiden RI Joko Widodo, atau populer dengan Jokowi, telah mengundangkan secara resmi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara (UU IKN).”

Saya, Matius Mardani, dan Paran Sakiu menuliskan apa adanya pemikiran Panglima Jilah dalam buku ini.

Apa pendapat pribadi PJ pada IKN. Kepada satu di antara kami, penulis buku ini yang mewawancarainya, PJ berkata.

"Tidak menolak IKN, tapi tidak setuju."

Apa makna katanya?

Mengingat pasukan TBBR berjibun, dan memiliki kekuatan bukan saja spiritual melainkan juga fisik, mungkin Presiden Jokowi bersedia berjumpa.

Ada yang mengatakan, jumlah pasukan merah ini 10.000. Ada yang bilang, 20.000. Bahkan, saya dengar dari orang dekat, mencapai 200.000 anggota.

Banyak orang menanyakan. "Mengapa keberadaan TBBR bagai magnit? Menarik banyak kaum, terutama anak-anak muda menjadi anggota? Dan beberapa orang yang telah bekerja sudi melepas pekerjaannya hanya demi perjuangan TBBR?"

Masih terlalu dini menilainya.
Biar waktu menjawab. Sebab teori Discretio Spirituum berkata, "Suatu kaum baik dilihat dari buah-buahnya yang menghasilkan kebaikan pula. Kaum itu juga berguna bagi kemanusiaan. Jika perbuatan dan dibimbing roh baik, kelompok itu makin banyak bilangannya, dan tak seorang pun bisa menahan."

Pohon yang baik, dikenali dari buah-buahnya yang baik. Seseorang, atau suatu kaum, akan lenyap dengan sendirinya manakala tidak memberi sumbangsih yang positif bagi manusia dan kemanusiaan.

Biarlah Panglima Jilah dan TBBR tumbuh, berkembang, dan menghasilkan buah.

Biar waktu yang menjawab  fenomenon TBBR.