Riset

Rumah Punjung, Sepan, dan Bulai Kaum Iban

Kamis, 14 April 2022, 07:49 WIB
Dibaca 367
Rumah Punjung, Sepan, dan  Bulai Kaum Iban
Rumah sepan - lazimnya di kaki gunung.

Masiun (Ketua Pengurus Credit Union Keling Kumang - CUKK) merencanakan bikin rumah punjung di tanah yang saya hibahkan ke CUKK. Lokusnya, di pinggir Sungai Sikui, belakang kantor CUKK, Tapang Sambas. Bisa buat deskripsi seperti apa dan posisi kedua rumah itu menurut riset Anda dan siapa yang tinggal di situ?

Begitu Munaldus, M.A. pendiri CUKK menulis kepada saya, kemaren (13/04-2021). Tak bisa menolak. Saya mesti memberi gambaran itu. Tidak mulai baru. Sebab, saya telah melakukan riset. Bertanya kepada orang tua. Seperti apa gerangan gambaran rumah punjung, bulai, dan sepan, dan siapa penghuninya jeman ari kelia --zaman dahulu kala.

Saya mengambilnya dari novel sejarah, Keling Kumang, yang saya riset dan terbitkan pada 2015.

Sejatinya, ada 3 macam rumah mensia Iban jeman ari kelia.
1. Rumah Punjung.
2. Rumah Bulai.
3. Rumah Sepan.

Rumah bulai (pinggir sungai), rumah sepan (di kaki gunung), dan rumah punjung (tidak di lembah tidak di pinggir sungai).

Rumah sepan didiami putri bangsawan, Kumang tinggal di sini. Banyak bunga-bunga bertaburan di halaman dan sekitarnya, salah satu yang populer dikisahkan yakni bunga: mandikmala. Alkisah, Kumang di-umbung (dipingit), tidak boleh keluar rumah hingga tiba haid pertama.

Rumah Punjung dihuni kaum putra bangsawan, seperti Keling dan Dabung. Sangat ideal lokusnya. Aman. Mudah melihat siapa yang datang. Rumah punjung adalah yang terpanjang di seluruh kerajaan Buah Main dengan panjang 70 x 7 sinar damar, atau sekitar 1 km. Total kepala keluarga penghuninya adalah 160, masing-masing mendiami sebuah bilik dengan lebar 6 meter dan panjang ke belakang 3 kali lebar (18 m).
Rumah punjung letaknya amat sangat strategis. Biasanya dibangun agak di atas tanjung di kaki tatai (bukit/ munggu), dan senantiasa diberi kelimpahan meski di musim kemarau panjang sekalipun, orang-orang terutama penduduk yang tinggal di rumah penai dan rumah sepan menyebutnya “negeri khayangan”. Negeri tetangga pun menyebut tuai rumah dan pejabat rumah punjung sebagai “manusia atas” karena lebih dalam segalanya dibanding orang kebanyakan. Pemimpin, atau tuai rumah, datang dari penghuni rumah ini. Dikisahkan, Gemuring Gading dan Keling adalah tuai rumah punjung yang sekaligus mengepalai rumah sepan dan bulai.

Kaum Iban di Sarawak, Malayisa menyebut rumah punjung, tempat tinggal Keling ini sebagai rumah panjang Panggau Libau Lendat Dibiau Takang Isang.

Rumah sepan didiami putri bangsawan, Kumang tinggal di sini. Banyak bunga-bunga bertaburan di halaman dan sekitarnya, salah satu yang populer dikisahkan yakni bunga: mandikmala. Alkisah, Kumang di-umbung (dipingit), tidak boleh keluar rumah hingga tiba haid pertama. Kaum Iban di Sarawak, Malayisa menyebut rumah sepan, tempat tinggal Kumang sebagai rumah panjang Gelong Batu Nakong Nyingit Nyingong Nyimbang Nyerabang. Selain Kumang, disebutkan putri berparas elok rupawan yang tinggal di rumah sepan adalah Lulong dan Ndai Abang.

Sedangkan rumah bulai dihuni rakyat jelata.

***

Secara keseluruhan.
Rumah panjang kaum Ibanik menurut Jensen dalam Noriah dan Chemaline Osup (2013) terdapat ada tujuh bagian:
1) bilek yang ditinggali atau dihuni oleh anggota inti sebuah keluarga dan di dalam bilek itu ada dua bagian yakni bawah (untuk anak-anak) dan atas (untuk orang tua),
2) sadau tempatnya di atas bilek tempat penyimpanan peralatan rumah tangga seperti tikar, bakul, parang, dan peralatan keluarga;
3) los atau ruai yaitu tempat terbuka yang dipisahkan oleh tiang bumbung,
4) tanju yakni bagian luar ruai yang dibangun tanpa bumbung digunakan untuk menjemur hasil pertanian, termasuk getah dan damar,
5) dapur yang di dekatnya disalai/dihangatkan kepala musuh hasil kayauan yang disebut “antu pala” (piala kepala),
6) padong yakni semacam kursi malas tempat bermalas-malasan, santai, sekaligus juga untuk tidur, dan
7) tempuan atau koridor.