Riset

Manusia Berasal dari Tanah, Seperti Tumbuhan dan Hewan

Rabu, 14 April 2021, 18:34 WIB
Dibaca 290
Manusia Berasal dari Tanah, Seperti Tumbuhan dan Hewan
Evolusi manusia (Foto: boombastis.com)

Jika menelusuri sejarah kehidupan manusia (homo sapiens) tercatat dari awal munculnya manusia, hampir semua didasari oleh terjadinya perang antarmanusia. Apakah disebabkan oleh perebutan makanan, keyakinan dan perebutan wilayah.

Setidaknya itu sudah dimulai pada zaman para nabi dalam menyebarkan paham yang diyakini sebagai wahyu dari sang pencipta kehidupan. Manusia adalah serigalanya manusia yang diinterprestasikan bahwa manusia sering menikam sesama manusia lainnya. Istilah tersebut pertama kali dicetuskan oleh Plautus (195 SM, Lupus Est Homo Homini).

Kemudian pola perang bergeser pada perebutan wilayah daratan (benua), terus berkembang ke wilayah lain dalam rangka meluaskan wilayah kekuasaannya. Pola perang terus terjadi di kehidupan manusia hingga saat ini di abad 21 yang mengubah pola perang menjadi perang proxy yang menggunakan pihak ketiga atau dengan diplomasi/negosiasi, tidak lagi dilakukan secara berhadap-hadapan dengan lawan secara fisik namun tetap menguntungkan bagi pihak yang menguasai secara pikir (smartwar).

Sebagai salah satu homo sapiens, saya dan banyak manusia lainnya tentu penasaran tentang asal usul entitas manusia sebagai salah satu makhluk hidup di bumi. Manusia sebagai makhluk yang beraqal di muka bumi, memunculkan keingintahuan besar tentang darimana asal usul manusia. Dengan menggunakan nalar sangat jelas prosesnya, dari bertemunya indung telur wanita yang dibuahi oleh sel sperma pria maka terbentuklah janin yang terus berkembang hingga lahir ke dunia.

Berkembang dimaksud karena adanya asupan makanan dan gizi sehingga membentuk manusia yang disebut bayi. Sangat jelas bahwa makanan berasal dari tumbuhan/tanaman sebagai sumber pangan utama bagi manusia, maka disimpulkan bahwa manusia berasal dari tanah. Jika berasal dari tanah maka memiliki kesamaan dengan makhluk hidup lainnya seperti tumbuhan dan hewan yang juga berasal dari tanah. 

Begitulah logika berpikir manusia jika menelusuri bagaimana manusia tercipta. Dalam hal ini muncul pertanyaan lain tentang asal muasal manusia pertama kali ke bumi sebelum akhirnya disebut sebagai pria dan wanita yang bersatu dan memiliki keturunan. Sejatinya dapat dimaknai bahwa itu sama dengan bagaimana penciptaan tumbuhan dan hewan pertama kali di bumi. 

Jika direnungkan dan coba dianalisis secara sederhana bahwa ketiga makhluk hidup (manusia, tumbuhan dan hewan) hadir ke bumi secara alamiah sebagai penciptaan semesta alam, tidak pernah ada yang tahu walau dilakukan penelitian terhebat sekalipun secara ilmiah, kembali ditemukan jawaban yang tidak bisa ditemukan. Karena ini di luar batas akal pikir manusia, kemunculan manusia sama dengan bagaimana munculnya bumi, matahari, bulan, bintang, planet (alam semesta).

Dahulu saat manusia belum sebanyak seperti sekarang di benua yang luas ini, bisa jadi kehadiran manusia muncul akibat adanya kelembaban dari unsur hara.

Unsur hara makro meliputi Nitrogen (N), Pospor (P), Kalium (K) dan C,H,O. Unsur hara sekunder meliputi Calcium (Ca), Magnesium (Mg) dan Sulfur (S). Unsur hara mikro antara lain Besi (Fe), Mangan (Mn), Seng (Za), Tembaga (Cu), Boran (B), Molibdenium (Mo) dan Chlor (Cl) (https://garuda.ristekbrin.go.id).

Kemunculan ras manusia yang berbeda secara serempak di seluruh wilayah daratan berasal dari suhu yang berbeda sebagaimana golongan dan kelompok serta sifat tanaman/tumbuhan dan hewan yang bermacam ragam. Ada kelompok bunga, kelompok buah, kelompok pohon besar, tanaman beracun, tumbuhan pertanian, tanaman merambat dan seterusnya.

Begitu pula pada hewan ada kelompok harimau, kelompok serigala, kelompok kera, kelompok beruang, kelompok ular, kelompok kadal dan seterusnya. Begitu pun manusia ada ras kulit putih, kulit hitam, Arab, India, China, Asia dan masih banyak lagi ras lainnya. Kemudian berdasarkan sifat sebagai tanaman dengan sifat menumpangkah, beracunkah, sebagai sumber makanankah bagi makhluk lain dan seterusnya.

Begitu juga dengan hewan yang memiliki sifat sebagai hewan buruan untuk konsumsi, sebagai penyerang hewan lainnya, sebagai hewan berbisa dan seterusnya. Begitu juga dengan sifat manusia ada yang lebih sebagai penyerang, penguasa, menguasai, pelindung dan seterusnya. 

Sejatinya manusia sebagai makhluk berakal di antara makhluk hidup lainnya, bisa menciptakan kehidupan yang harmoni bagi seluruh makhluk untuk hidup berdampingan agar kehidupan semua makhluk terjaga seimbang dan berkelanjutan. 

Kehidupan antarsesama manusia sejatinya dapat berjalan atas dasar rasa kemanusiaan dan persaudaraan, tapi bukan lagi atas dasar kelompok-kelompok yang semakin berjarak dalam perbedaan, karena akan semakin membingungkan manusia itu sendiri. Harus dijauhkan dari sikap perilaku yang menganggap bahwa suatu ras lebih istimewa dari ras lainnya mengingat manusia merupakan satu entitas yang sama.

Homo Homini Socius sebagai istilah yang berlawanan dengan istilah di atas bahwa manusia adalah teman bagi sesama manusia, manusia adalah sesuatu yang sakral bagi sesamanya yang dicetuskan oleh Seneca (kedua istilah itu tercantum pada Thomas Hobbes dalam karya berjudul de Cive 1651).

Sejatinya sebagai manusia modern yang memiliki rasa ingin tahu yang besar dengan didukung ilmu pengetahuan yang terus mengalami lompatan besar, menyadari bahwa manusia adalah salah satu makhluk hidup ciptaan yang Esa dan tidak bisa terbantahkan yang berfungsi menjalankan kehidupan sesuai kodratnya. 

Teori evolusi Charles Darwin seorang ilmuwan Inggris mengatakan bahwa evolusi asal usul manusia berasal dari nenek moyang yang sama dengan kera. Gen manusia dan kera memang memiliki kemiripan hampir 99% namun jelas disebutkan pada teori tersebut bahwa manusia bukan berasal dari kera tapi entitas yang berbeda dari kera.

Cerita lain tentang asal usul manusia, berasal dari Adam dan Hawa sebagai manusia pertama di bumi sebagai cerita spiritual yang menguatkan bahwa derajat manusia lebih tinggi di antara makhluk hidup lainnya. Itu bermakna bahwa manusia harus mampu dan bisa menjalani kehidupan sebagai khalifah di muka bumi dengan bersikap adil, bukan semata antar sesama manusia tetapi juga makhluk hidup lainnya yaitu tumbuhan dan hewan yang memiliki asal yang sama dari tanah.

Manusia di zaman primitif dahulu kehidupannya menakutkan dan terus berjaga akibat terus terjadi peperangan yang merenggut nyawa manusia setiap saat, kemudian muncul pikiran manusia yang berkembang luas tentang apa arti dan makna hidup sejatinya manusia jika terus terjadi peperangan yang merenggut nyawa banyak orang, sehingga memunculkan pikiran yang dianggap sebagai wahyu untuk menyelamatkan manusia dari kekejaman manusia itu sendiri di jaman jahiliyah tersebut.

Umat manusia di dunia harus menyadari bahwa pikiran untuk terus menelusuri asal usul manusia secara benar bisa diakhiri dengan berfokus pada apa arti kehadiran manusia di bumi sebagai makhluk yang berpegang pada pesan rahmatan lil alamin, keselamatan bagi semua makhluk semesta alam.

***