Riset

Kebangkitan Sosial dengan Pendidikan Ilmu

Minggu, 7 Februari 2021, 06:40 WIB
Dibaca 225
Kebangkitan Sosial dengan Pendidikan Ilmu
Anak marah, ilustrasi (Foto: Kompasiana.com)

Ilmu menurut KBBI adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang pengetahuan itu. Seperti di bidang agama, akhirat, akhlak, batin, jujur, mandiri, berani, hukum, kemanusiaan, kesehatan, pertanian, politik dan lain-lain.

Berilmu berarti mempunyai ilmu, berpengetahuan, pandai. Ilmu sangat dibutuhkan dalam mendukung terwujudnya kehidupan manusia menjadi lebih terukur, sadar dan paham terhadap apapun yang dihadapi dalam rangka mewujudkan harapan.

Salah satu hal yang sangat penting dewasa ini adalah bagaimana orangtua di Indonesia memiliki bekal ilmu yang cukup sebagai orangtua mendidik putra/i mereka, dapat tumbuh dengan kualitas didik yang tepat untuk memudahkan anak-anak menjalani kehidupan selanjutnya hingga dewasa. Dalam membimbing anak-anak pada usia hingga 10 tahun, seringkali akibat mengikuti trend di lingkungan untuk menjadikan anak-anak sebagai objek kebanggan keluarga jika dalam usia muda bisa menguasai hapalan yang sejatinya itu bukan kapasitas mereka, dengan memaksa anak-anak belajar layaknya seperti orang dewasa, pada usia tersebut anak-anak lebih banyak bermain.  Anak-anak tersebut harus mengenal kehidupan sekitarnya dulu secara alamiah dan bertahap, kemudian mengerti dan paham.

Khawatir 10 tahun atau 15 tahun ke depan, pada titik tertentu mereka jenuh dan spirit belajar hilang, selain itu juga bisa mengganggu mentalnya. Kebersamaan orangtua dan anak harus dinikmati selama proses tumbuh kembang, dengan jalinan hubungan yang hangat membentuk karakter dan kepribadian sehat secara fisik dan mental. Dengan pondasi mental kokoh menjadikan pribadi percaya diri yang baik.

Di usia-usia bermain, anak-anak belum banyak mengerti tentang sesuatu yang baru saja mereka lihat, terkadang orangtua tidak bisa mengendalikan emosi dengan baik dengan melakukan kekerasan fisik maupun verbal terhadap anak-anak saat belajar layaknya budak. Akibat minimnya ilmu, orangtua tidak berpikir panjang bahwa yang dilakukan sangat berbahaya bagi perkembangan mental/psikis anak-anak yang secara UU telah diatur bahwa setiap orang memiliki hak hidup dan penghidupan dalam arti anak-anak memiliki hak azasi manusia yang harus dijaga, dilindungi.

Anak-anak yang diperlakukan demikian keras oleh orangtua justru menciptakan monster-monster saat mereka besar, menjadi anak nakal yang selalu merepotkan dan mengganggu lingkungan otomatis terdampak juga ke orangtua itu sendiri. Perilaku minder, takut, sering cemas, tidak kreatif, malas adalah dampak yang dihasilkan akibat mendidik anak-anak terlalu keras apalagi pada usia 'golden age' akan terus diingat hingga dewasa serta sulit untuk menghilangkan trauma tersebut.

Berdampak pula pada lingkungan lebih luas yaitu pada skala lingkungan berbangsa. Jika hampir seluruh orangtua di Indonesia melakukan pola mendidik demikian, berapa banyak mental generasi muda yang rusak dan hancur. Bermaksud anak menjadi harapan masa depan dan menjamin kehidupan lebih baik dari orangtua, justru secara psikis dilemahkan.

Inilah cikal bakal terbentuknya kehidupan masyarakat sosial yang mencerminkan situasi saat ini yang selalu ricuh, saling mengklaim paling benar, dan tidak segan-segan merendahkan orang lain walau seorang pemimpin bahkan orangtua sendiri. Bagaimana perilaku generasi muda merefleksikan sikap dan perbuatan, semua ini hasil dari didikan yang salah di masa lalu.

Memasuki usia remaja, orangtua masih harus mengarahkan agar tidak salah jalan serta menghindari berperilaku mengganggu ketertiban umum yang merugikan diri sendiri dan orang lain ataupun jadi korban dari suatu keadaan. Ilmu yang harus dimiliki orangtua tidak semata tentang pendidikan formil akademis, tetapi wawasan yang lebih luas, berpikir panjang bahwa setiap anak adalah satu nyawa yang harus dilindungi, diberi kasih sayang yang besar, serta bertanggung jawab mendampingi hingga dewasa.

Proses kehidupan merupakan pembelajaran hidup yang amat berharga, kita bisa belajar banyak dari pengalaman orang lain, tidak menunggu harus terbentur sendiri baru mengerti dan paham yang menimbulkan penyesalan pada akhirnya. Memasuki usia produktif, sejatinya setiap anak sudah memiliki sikap karakter mandiri dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang mereka sukai. Mencoba mengeksplorasi banyak hal adalah kesempatan baik yang perlu terus dikembangkan.

Dengan banyak hal yang dirasakan, dapat memilih satu yang menjadi minat utama dapat dikembangkan dan fokus untuk menghasilkan sebuah produk yang memiliki nilai jual ekonomis. Jika generasi muda memiliki kualitas seperti ini, alangkah kokohnya karakter sumber daya manusia (SDM) Indonesia, menghasilkan lingkungan sosial yang kondusif. Situasi kondusif dibutuhkan sebuah bangsa sebagai dasar agar kehidupan berbangsa terdukung lebih kreatif, tertib dan berprestasi.

Baca Juga: Pendidikan Kita Cetak Anak-anak jadi Egois

Kehidupan orang tua lanjut usia (lansia) juga memiliki kualitas bagus, apakah mereka tinggal bersama keluarga ataupun di rumah jompo. Intinya di manapun mereka berada jika kualitas sosial sangat positif, akan berdampak pada hal-hal yang menginspirasi dan menyenangkan. Alangkah menggembirakannya jika kehidupan sosial terjalin hangat, dengan berpegang pada prinsip mengembangkan pengetahuan seluas-luasnya bahkan hingga usia lansiapun, tidak akan ada rasa khawatir di usia senja akibat merasa terabaikan oleh lingkungan keluarga. Masyarakat yang memiliki pengetahuan luas akan menghasilkan banyak kebaikan di ruang publik sosial.

Bangsa Indonesia harus mulai sadar untuk mengubah semua perilaku buruknya dengan cara mengembangkan wawasan pikir dengan pengetahuan yang luas, karena perilaku yang berdasarkan semangat pengetahuan dapat menunjukkan tindakan baik atau buruk, tepat atau tidak, apa yang harus diambil dan dihindari. Jika bangsa Indonesia menjalankan kehidupan atas dasar ilmu, maka bangsa Indonesia menjadi bangsa yang paling beruntung dan keberuntungan itu harus dimaknai dan menjadi kekuatan bersama.

Kebangkitan sosial dengan pendidikan ilmu menjadi pegangan utama, maka penerapan dalam interaksi sosial akan lebih mewujudkan kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk yang mengganggu keamanan nasional. Mari kita jaga pikir, hati, jiwa, ucapan, perilaku, tindakan kita selalu terkendali baik apapun dinamika hidup yang dihadapi. Hilangkan sikap memaksakan kehendak, jalani semua dengan lebih natural maka terbentuk kualitas hidup yang diharapkan.

***