Riset

Deglasiasi| Dari Varuna-dwipa, Borneo hingga Kalimantan

Senin, 11 Juli 2022, 19:39 WIB
Dibaca 459
Deglasiasi| Dari Varuna-dwipa, Borneo hingga Kalimantan

Sungguh menarik mengamati Kalimantan dari masa ke masa.

Bagaimana pulau terbesar ke-3 di dunia ini muncul dalam berbagai alias. Poerbatjaraka sedikit menyinggung tentang Tanjungpura ini. Bahkan, dalam Sumpah Palapa disebutkan "... Tanjungpura pulau" yang akan dikalahkan, atau menjadi feudatori, imperium Majapahit pada ketika itu.

Seperti kita ketahui bahwa Kitab Nagarakertagama mencatat "Bakulapura". Bakula = tanjung. Sedangkan kitab Pararaton menyebut Borneo sebagai Tanjungpura.

Mengamati peta Borneo masa ke masa. Tampaklah bahwa dari mula-mula tegak, kemudian makin lama semakin condong.

Agaknya, sejarah Nusantara purba mengenal Tanjungpura untuk menyebut pulau terbesar ketiga dunia itu. Tatkala, pada masa lampau itu, Nusantara lazim menyebut julukan pulau-pulau, misalnya:
1. Jawadwipa - pulau beras, alias untuk Jawa.
2. Suwarnadwipa - pulau emas, alias untuk Sumatera.
3. Hipadwipa - pulau yang menyimpan intan dalam perut buminya. Atau juga kerap muncul dengan julukan Ratnadwipa - pulau bertebar ratna mutu manikam (Lontaan, 1975: 70-71).

Jadi, memang, sungguh menarik sekaligus menantang untuk menyusun sebuah kitab sejarah Borneo, seperti The History of Java --yang meski kemudian diketahui sebagian adalah plagiat.

Mengamati peta Borneo masa ke masa. Tampaklah bahwa dari mula-mula tegak, kemudian makin lama semakin condong.

Namun, ujudnya bagaikan seekor macan siap menerkam, tak pernah berubah.

Menjelajah masuk ke pra-sejarah Borneo, kita akan menemukan karya-karya yang mengagumkan, antara lain: Robert Blust ”Borneo and Iron”. Bahwa berdasarkan bukti linguistik, pengetahuan tentang besi secara signifikan mendahului waktu benda besi pertama kali didokumentasikan di pulau terbesar ketiga dunia itu pada tahun 500-200 SM.

Potongan obsidian yang berasal dari Inggris mengisyaratkan bahwa telah ada hubungan perdagangan antar- pulau sekitar 1000 SM. Endapan bijih besi dengan konsentrasi tinggi di pulau ini menjadikan Borneo sebagai lokasi yang mungkin di kawasan Asia Tenggara sebagai lokus transisi dari penggunaan peralatan besi impor ke tahap pengerjaanbesi.

Deglasiasi menjadi Pulau Borneo dari Varuna-dwipa, kemudian Kalimantan; sungguh luar biasa, sekaligus menarik. Varuna-dwipa muncul dalam kitab-kitab dan catatan sejarah Hindu India untuk menggambarkan Borneo di masa lampau.

Deglasiasi adalah transisi dari kondisi glasial penuh selama zaman es, ke interglasial hangat, ditandai dengan pemanasan global dan kenaikan permukaan laut karena perubahan volume es benua.

Borneo terhubung dengan daratan Asia Tenggara, sebagai bagian dari daratan yang dikenal sebagai Sundaland, dari 2,5 juta tahun yang lalu hingga sekitar 10.000 tahun yang lalu. Ketika, pada masa itu, terjadi deglasiasi global yang mengubahnya kembali menjadi sebentuk pulau.

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa manusia tiba di Sarawak, melalui darat, setidaknya 40.000 tahun yang lalu.

Bukti-bukti arkeologis juga menunjukkan bahwa manusia telah bermukim dan hidup di Gua Niah, Miri, Sarawak (Charles Tyler (1993) dan Masri (2021). Dari Kuching. Ibunegeri tanah Sarawak. Lokus, bukti penduduk telah menghuni bumi Borneo itu pun, meninggalkan jejak sejarahnya. 

Sudah dilakukan penelitian ilmiah di situs itu. Hasil uji karbon kerja sama Museum Sarawak dan Inggris mengafirmasi kebenaran sejarah. Tidak terbantah. Memang demikian.

Sejam perjalanan dari Kuching menuju Gua Niah. Bukti sejarah tak terbantah. Bahwa Borneo sekurang-kurangnya 46.000 tahun lalu  telah dihuni manusia. Hal itu dicatat Barker cum suis (2007). Bahwa  manusia purba telah menempati Kalimantan di daerah perbukitan di sekitar Niah, Sarawak. 

 Kita tidak perlu pengakuan. Cukup mengetengahkan bukti sejarah.