Riset

Mengapa Banyak Remaja Berperilaku Tak Wajar, Tanggung Jawab Siapa?

Kamis, 4 Februari 2021, 18:52 WIB
Dibaca 630
Mengapa Banyak Remaja Berperilaku Tak Wajar, Tanggung Jawab Siapa?
Ilustrasi remaja Indonesia (Foto: bantulkab.go.id)

Apakah perilaku dan karakter masyarakat di sebuah negara dipengaruhi oleh faktor iklim? Seperti di negara empat musim yaitu musim gugur, musim dingin, musim semi dan musim panas yang memiliki suhu pada masing-masing musim cukup ekstrim.

Iklim ini dapat membentuk karakter mental kokoh karena harus menyiapkan diri dalam menghadapi pergantian cuaca. Apalagi jika menghadapi musim dingin yang sering melumpuhkan aktivitas masyarakat umum, selain suhu terlalu dingin juga turunnya salju dalam jumlah banyak menghambat aktivitas di luar rumah. Akhirnya lebih banyak melakukan giat di dalam rumah berkumpul dengan keluarga.

Momen ini sangat berharga karena membentuk kehangatan dan kebersamaan antarindividu dalam keluarga. Kebersamaan ini membuka kesempatan keluarga untuk saling berbagi cerita, diskusi dan banyak hal lainnya. Menciptakan sikap peduli yang besar antar keluarga berdampak meminimalisir perilaku negatif utamanya bagi anak-anak di bawah umur dan remaja, karena terjaga dan terawasi dengan baik oleh orangtua.

Pola demikian membentuk sikap perilaku orangtua yang peduli terhadap pertumbuhan anak-anak mereka tidak semata sehat fisik tetapi juga mental. Otomatis membentuk lingkungan yang aman, nyaman dan terlindungi bagi anak-anak di manapun mereka berada. Apalagi setiap tahun musim dingin selalu hadir di akhir tahun dan bisa berlangsung hingga tiga bulan lamanya, artinya selama tiga bulan dalam setiap tahun adalah kesempatan untuk membangun hubungan yang sangat berkualitas bagi keluarga.

Bahkan jika musim dingin berlalu, anak-anak tetap terpantau baik karena kebiasaan itu sudah melekat pada orangtua terhadap anak-anak mereka. Saat usia remaja (18) tahun, anak-anak diperbolehkan untuk hidup mandiri, tidak harus tinggal bersama orangtua, walau masih ada seusia itu yang tinggal dengan orangtua mereka. Anak-anak didorong untuk melakukan banyak kreatifitas yang menarik minat mereka sehingga tumbuh menjadi generasi yang produktif.

Bagaimana dengan Indonesia yang hanya memiliki dua musim yaitu kemarau dan hujan, tidak ada perubahan di antara kedua musim tersebut sehingga tidak memerlukan persiapan khusus dalam menghadapinya.

Baca Juga: Urgensi Pendidikan Pemimpin Berkarakter Toleran

Memiliki iklim tropis tentu sangat menguntungkan, selain tidak memerlukan effort besar dan mahal dalam menghadapi pergantian musim sehingga kehidupan masyarakat jadi lebih santai, mudah dan murah serta dapat melakukan banyak aktifitas sepanjang waktu di luar rumah. Tetapi terkadang justru menjadikan perilaku masyarakat menjadi lebih liar.

Melanggar aturan dan norma, berbuat kriminal terhadap anak-anak dibawah umur, menjadi korban prostitusi, korban perkosaan pria dewasa, korban bullying oleh teman sekolah, kriminal jalanan (Begal, tawuran antar kampung antar geng motor), melaporkan orangtua sendiri ke ranah hukum akibat terjadi kesalah pahaman.

Sehingga muncul pertanyaan mendasar, bagaimana peran orangtua Indonesia dalam mendidik putra/i mereka? Apakah karena hidup tidak ada tantangan sehingga santai terkesan abai menganggap bahwa hidup mereka akan baik-baik saja? Begitu maraknya terjadi pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur saat ini di kehidupan sosial masyarakat Indonesia, yang dilakukan oleh pria dewasa yang tinggal di sekitarnya. Jika keadaan ini terus terjadi, bagaimana peran lingkungan selama ini dalam menjaga agar tidak terjadi kekerasan terhadap anak?

Seringkali anak-anak setelah dilahirkan, besar sedikit dibiarkan bergaul di luar pantauan orangtua. Menjadi korban prostitusi atau bahkan menawarkan diri sebagai pekerja seks komersial demi mewujudkan gaya hidup hedonis, agar tidak tertinggal oleh trend yang sedang berkembang di lingkungannya.

Apakah orangtua yang harus diberikan hukuman dalam hal ini, dengan bentuk hukuman sosial atau membayar denda, atau membuat surat pernyataan siap bertanggung jawab penuh untuk membina putra/i mereka agar anak-anak terhindar dari perilaku yang merugikan diri sendiri dan lingkungan (sebagai korban dan pelaku).

Melaporkan orangtua sendiri ke jalur hukum, karena dianggap telah melakukan tindakan merugikan secara materi terkait warisan dan lain-lain, mengapa ada anak-anak seperti itu? Kira-kira bagaimana pola asuh anak yang diterapkan orangtua, saat orangtua lemah tak berdaya justru semakin dilemahkan oleh anak sendiri, logika yang sangat buruk.

Bullying yang dilakukan oleh teman sekolah atau teman sepermainan yang sangat membahayakan psikologis korban, dimana orangtua dan lingkungan dalam hal ini? Geng motor yang selalu meresahkan masyarakat dengan tindakkan yang membahayakan orang lain, terkadang hingga melakukan pembacokkan/pembunuhan kepada yang dianggap lawan, anak-anak seperti apa yang begini?

Tawuran antar kampung yang sering terjadi dan selalu ada korban terluka dan tewas, kira-kira apa penyebabnya dan dimana pikirannya? Begal yang terus berkeliaran dan sulit dihentikan, semakin banyak masyarakat menjadi korban.

Bagaimana orangtua mengontrol anak-anak mereka? Perilaku seperti ini akan sangat berdampak pada psikis perkembangan mereka menuju dewasa.

Ini harus menjadi perhatian mendasar bagi pemerintah mengingat dibutuhkan kualitas generasi muda penerus bangsa, jika dirusak maka sikap mentalnya akan lemah dan membentuk perilaku abai serta balas dendam saat mereka dewasa, akhirnya tidak pernah terputus rantai perilaku buruk tersebut.

Baca Juga: Pendidikan Kita Cetak Anak-anak jadi Egois

Pemerintah, lingkungan dan orangtua harus menjadi satu kesatuan yang kuat untuk bisa menjaga, mengawasi seluruh anak-anak di Indonesia.

Pentingnya pemerintah melalui kementerian pemuda dan olahraga untuk menggerakkan anak-anak seluruh Indonesia, dengan cara membangun sarana olahraga yang paling umum seperti sepak bola, bola voli, pimpong, pencak silat, karate dan masih banyak pilihan lainnya dan dipertandingkan antar kelurahan, lalu antar kabupaten, provinsi, nasional bahkan internasional.

Bukan semata menjadi pemenangnya, tetapi dengan olahraga dapat membentuk pola pikir dan tindak yang positif bagi anak-anak bangsa, spirit olahraga selalu mengedepankan komitmen, sportifitas, mental kokoh. Dalam tubuh dan jiwa yang sehat memunculkan sikap berani menghadapi masalah secara mandiri, (mengatasi dan menyikapinya), karena sudah tahu dan sadar ada hak yang harus diperjuangkan, tidak diam saja.

Sumber daya manusia (SDM) demikian sangat dibutuhkan Indonesia, jika ini terwujud maka berapapun jumlah penduduk Indonesia dalam rangka mengembangkan entitas masyarakat Indonesia di dunia akan terdukung baik.

Baca Juga: Peran Vital Keluarga Mendidik Anak pada Masa Covid-19

Walau tantangan tidak seperti masyarakat di negara empat musim, tapi penting untuk menjadi bangsa yang tangguh, karena memang tantangannya bukan pada pergantian musim tapi lebih ke menghadapi perilaku manusianya yang sering diluar kendali.

Sikap anak bangsa yang belum bisa dan sadar menghargai kehidupan manusia sebagai hak dasar, sering seenaknya mengusik kehidupan orang lain, akibat masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan pendidikan yang layak dan kemiskinan, memunculkan kewaspadaan bagi orangtua dan lingkungan untuk ekstra hati-hati menjaga buah hatinya, karena setiap saat bahaya mengintai. Jangan biarkan anak-anak di bawah umur bermain di tempat yang jauh dan berbahaya serta tidak terkontrol, terus awasi demi keselamatan mereka.

Peran orangtua sangat utama, jika belum siap membangun mahligai rumah tangga sebaiknya dipikir dulu matang-matang kesiapan diri secara fisik dan mental, karena dibutuhkan tanggung jawab amat besar, terkait adanya nyawa manusia yang harus dijaga, dididik dan dilindungi di sana.

***