Riset

Usia Pencarian Jati Diri Korban Cuci Otak Organisasi Teroris

Sabtu, 3 April 2021, 19:24 WIB
Dibaca 136
Usia Pencarian Jati Diri Korban Cuci Otak Organisasi Teroris
Korban bom bunuh diri (Foto: liputan6.com)

Miris, semakin banyak pelaku bom bunuh diri di Indonesia dilakukan oleh mereka yang berusia pencarian jati diri (< 30 tahun). Bunuh diri yang dilakukan dalam rangka menjalankan sebuah misi, walau misi tersebut membuat banyak orang lain justru menderita.

Bagaimana tidak karena mereka direkrut dan dibina oleh sebuah organisasi teroris, sehingga terstruktur baik dan tepat sasaran. Remaja usia demikian memang jika tidak mendapatkan perhatian dan bimbingan dari orangtua mudah sekali menjadi korban target perekrutan organisasi teroris yang masih belum hilang dari bumi Indonesia.

Usia labil dan mudah terpengaruh karena sedang mencari kehidupan yang sebenarnya (proses penemuan jati diri dilakukan dengan trial and error), kemudian atas nama jihad (berjuang dengan keras membela agama) sebagai perjuangan yang dijalankan, dengan terlebih dahulu mencuci otak atau mendoktrin (ajaran yang bersifat mendorong sesuatu seperti memobilisasi) remaja-remaja tersebut.

Remaja usia pencarian jati diri sangat rentan terjebak, karena mudah bosan dan ingin mengetahui hal-hal baru sehingga saat mereka menerima keyakinan baru tersebut dengan cepat mau melakukan apapun yang sudah diterima dari doktrin tersebut.

Saatnya bagi orangtua, harus bisa mengawasi dan memperhatikan anak usia pencarian jati diri dengan terus menjalankan peran dan fungsi sebagaimana seharusnya dalam mendidik dan mengayomi selama masa peralihan usia labil ke dewasa bahkan walau mereka sudah berkeluarga. Bukan berarti ingin masuk lebih dalam mencampuri urusan pribadi mereka, tetapi sebagai fungsi pengingat bahwa masih ada orangtua yang seharusnya lebih didengarkan agar mereka tetap dalam kontrol yang baik dan tidak mudah terjebak oleh doktrin-doktrin sesat yang merugikan diri sendiri, keluarga dan lingkungan. 

Sudah terbukti bahwa remaja usia pencarian jati diri menjadi target dari kelompok teroris untuk melaksanakan niat jahat mereka dengan mengimingi para remaja, khususnya yang memiliki semangat hidup rendah, bahwa dengan melakukan jihad akan mendapatkan surga di akhirat. Alih-alih mendapatkan surga, pada dasarnya remaja yang direkrut hampir merata adalah orang-orang yang kurang mendapat kehangatan (keterbukaan komunikasi) dalam keluarga, sehingga tidak memiliki semangat untuk menjalani kehidupan seperti umumnya banyak orang, tidak mampu mengelola hidupnya dengan baik.

Akhirnya menganggap hidup rumit dan sulit, tidak tahu konsep apa yang tepat untuk dijadikan pegangan sehingga mudah sekali menerima ajakan dari pihak lain. Memang cara tercepat untuk mengakhiri hidup agar tidak lagi menanggung beban hidup yang berat yang tidak mampu diselesaikan kemudian memilih jalan pintas, salah satunya dengan menjadi pelaku bom bunuh diri.

Pola seperti ini terus terjadi dan meluas serta membahayakan dan merugikan banyak orang tak berdosa serta mengganggu stabilitas negara, pentingnya bagi seluruh orangtua di Indonesia mengawasi anak-anak usia remaja pada jalur yang benar. 

Tugas pemerintah adalah mengelola negara yang berfungsi menjaga, melindungi dan mencerdaskan bangsanya dengan cara semua lembaga/kementerian harus bergerak tepat dan bisa menjalankan fungsi dan perannya dengan baik.

Saatnya pemerintah Indonesia memperhatikan akses layanan kesehatan mental bagi generasi muda, mengingat di era digital seperti sekarang membutuhkan pengawasan yang lebih ketat terhadap penyebaran konten-konten sensitif di media sosial (medsos).

Layanan konsultasi berbasis teknologi informasi harus terus diperkuat dengan mendorong kerjasama antara perusahaan media sosial dengan lembaga non profit untuk dapat membantu mengembangkan kreatifitas anak berfokus pada karya agar waktu mereka terus terisi dan tidak berpikir hal lain yang negatif. Kemudian organisasi kemasyarakatan di wilayah lainnya juga dapat terlibat lebih dalam untuk sesi konsultasi berbasis medsos dengan menyebar luaskan poster di berbagai kanal termasuk FB, twitter, instagram, youtube.

Dengan diadakan konsultasi kesehatan mental yang dilakukan secara daring dengan menampilkan mereka yang sudah terbantu dengan fasilitas ini (KPAI/Kominfo). Kementerian pariwisata dapat memproduksi film pendek tentang seorang pemuda dalam mengatasi depresi dengan menggunakan fasilitas konsultasi chatting yang dilanjutkan dengan sesi tatap muka secara langsung dengan tenaga profesional. Kementerian pemberdayaan perempuan dan lembaga KPAI bisa mensinergikan pada upaya perempuan/kaum ibu sebagai pembentuk dan memberi ruang yang baik bagi tumbuh kembang putra/i mereka.

Sangat diperlukan upaya dari keluarga masing-masing bertanggung jawab terhadap perilaku anak hingga dewasa karena orangtua, orang yang paling utama dan netral dalam hal ini. Bisa merasakan perbedaan terhadap perubahan perilaku remaja karena perasaan orangtua mampu merasakan apa yang terjadi pada anak-anak mereka walau tidak terlihat dengan mata. Apalagi jika masih tinggal dalam satu rumah, lebih bisa mengamati tingkah laku remaja setiap saat, apakah mereka melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi, patut dicurigai dan diwaspadai. Orangtua lebih mudah merasakan, apalagi jika selama ini orangtua sudah peduli terhadap perkembangan dan tidak ingin hal-hal buruk menimpa mereka, karena jika sudah terjadi tiada guna penyesalan. 

Dengan begitu upaya deteksi dini terhadap perilaku anak bisa dicegah lebih dulu oleh keluarga, jika setiap keluarga sadar dan peduli terhadap hal ini maka akan terminimalisir tindakkan bom bunuh diri yang dilakukan oleh remaja sebagai masa depan bangsa. Dikhawatirkan sudah banyak remaja usia pencarian jati diri terdoktrin oleh organisasi teroris, hanya tinggal menunggu giliran digerakkan. Semoga pemerintah dapat mendeteksinya dari sisi lingkungan lebih luas/publik, di sisi lain orangtua sudah turut mendeteksi dari lingkungan keluarga, dengan demikian tindakkan bom bunuh diri dapat tercegah.

Secara umum orang melihat masalah besarnya ada pada teroris, padahal masalah besarnya ada pada kurangnya atau tidak berfungsinya peran dan fungsi pengawasan orangtua, lingkungan dan pemerintah untuk menyelamatkan hidup anak-anak/remaja sebagai masa depan bangsa. 

Sejatinya masyarakat sadar dan paham bahwa kematian dengan cara demikian tidak dibenarkan dalam agama manapun, mati dengan mengatasnamakan perjuangan menegakkan syariat, maka ia sudah melakukan dua perkara berat yaitu membunuh orang lain dan menggunakan simbol agama tertentu dalam melancarkan kejahatannya, dan bisa pula pada akhirnya digunakan sebagai alat politik bagi orang yang tidak bertanggung jawab. 

Mari keluarga Indonesia, mulai melakukan upaya kontrol ekstra terhadap perilaku putra/putri kita agar mereka bisa tumbuh dengan fisik dan psikis yang lebih sehat. Fisik dan psikis yang sehat, menyulitkan terpengaruh oleh orang asing dan paham asing. Jangan sia-sia kehidupan duniawi, jika tertata baik sebagai bekal kehidupan selanjutnya di akhirat. Karena ketentuan bagaimana di akhirat itu ditentukan bagaimana mengelola kehidupan duniawi, bermanfaatkah untuk kehidupan banyak orang atau sebaliknya, itulah yang dituai.

Terus jalin komunikasi dengan baik dan teratur kepada remaja usia pencarian jati diri sebagai syarat fungsi dan peran orangtua, sebagai alarm dan penyemangat bagi mereka agar terus berada di jalan yang benar sebagaimana mestinya sebuah kehidupan dijalankan. Sebab jika terjadi sesuatu yang merugikan, yang merasa sangat bersalah dan terbebani adalah orangtua, karena sudah lebih tahu tapi tetap terjadi kelalaian.

Terus menjaga hubungan tetap hangat agar anak-anak peduli dan mau mendengarkan pesan/nasihat orangtua sebagai bekal melanjutkan kehidupan, hanya butuh kerendahan hati bahwa sebagai orangtua tidak perlu menempatkan diri terlalu tinggi di atas mereka, jadikan mereka sahabat, akan lebih ringan, mudah dan membahagiakan.

#IndonesiakuDamai

***