Politik

Memakna Kedaulatan Berada di Tangan Rakyat

Senin, 31 Mei 2021, 22:29 WIB
Dibaca 99
Memakna Kedaulatan Berada di Tangan Rakyat
Kedaulatan rakyat (Foto: kompas.com)

Tercantum pada UUD 1945 pasal 1 ayat 2 bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Bagaimana bangsa Indonesia memaknai kalimat tersebut dalam kehidupan berbangsa bernegara?

Yakin bahwa seluruh warga negara Indonesia sudah tahu konsep yang ada pada konstitusi negara Republik Indonesia, bahwa yang dimaksud kedaulatan berada di tangan rakyat bermakna negara dijalankan untuk tujuan memakmurkan kehidupan seluruh rakyat sebagai subjek dan objek dari pembangunan nasional.

Namun fakta yang dirasakan hari ini kedaulatan di tangan rakyat hanya sampai pada proses pemilu, tapi belum menyentuh terwujudnya lingkungan hidup berbangsa yang diharapkan yaitu aman, damai, tertib, tenang, dan produktif.

Idealnya untuk mendukung kualitas hidup yang baik dibutuhkan dukungan ekonomi yang baik pula agar dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi seringkali dalam membangun sumber kebangkitan ekonomi terlalu cepat tanpa mempertimbangkan berbagai hal mendasar seperti kemampuan kualitas sumber daya manusia, sarana prasarana yang ada sebagai pendukung, dan juga karakter budaya masyarakat dalam arti kesiapan mental saat proses pembangunan berjalan. Akhirnya memunculkan hirup pikuk di lingkup nasional berbangsa berdampak ketidak percayaan rakyat kepada pemerintah.

Harus dipahami dahulu dengan matang apa itu kedaulatan berada di tangan rakyat secara seragam oleh bangsa Indonesia apapun ras, golongan, agama dan kelompoknya.

Karena seringkali rakyat selalu menyalahkan pemerintah jika sebuah persoalan muncul, karena dianggap sebagai tokoh panutan atau role model bagi rakyat dituntut harus mampu dan bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul atau bahkan mencegah agar tidak selalu muncul masalah baru. Sebuah tujuan bersama dapat terealisasi sesuai harapan jika antara pemimpin dan rakyat saling dukung dalam arti tidak bisa hanya menuntut kepada pemimpinnya saja, tetapi juga rakyat harus memiliki sikap peduli yang besar untuk menyempurnakan tugas pemimpin. Jika pola ini terbangun maka lebih mudah menjalankan proses kehidupan bersama berbangsa. Seluruh rakyat harus berpikir lebih luas agar pemahaman yang diyakini dapat direfleksikan dengan sempurna, karena seseorang sebelum menjadi pemimpin juga adalah rakyat, sehingga sebagai rakyat harus memiliki kualitas baik yang kuat, maka saat diberi amanah ia akan mampu mengembannya dan dipercaya.

Jika di semua bidang kehidupan morat marit keadaannya, misal seperti di kementerian pertahanan saat ini tidak efektifnya anggaran pertahanan yang sudah dialokasikan sangat besar dari APBN, kedua terbesar dari anggaran pendidikan, sejatinya ketersediaan alutsista sangat siap untuk digunakan agar tidak banyak prajurit yang gugur hanya karena banyaknya alutsista tidak layak pakai apakah karena usia atau perawatan (yang memang tidak mudah dan murah).

Kemudian lembaga-lembaga keuangan yang mengumpulkan dana rakyat, entah bagaimana ceritanya dikelola untuk hal lain dengan maksud mendongkrak ekonomi negara tetapi rakyat jadi korban, saat mereka membutuhkan uang mereka sendiri tidak bisa diambil dengan berbagai macam alasan.

Korban Asabri, jiwasraya, bumi putera, wana artha life, axa mandiri yang mengalami kerugian karena dana yang mereka titipkan tidak dapat dinikmati sesuai harapan bagaimana saat kesepakatan awal dibuat. Alangkah miris melihat kondisi seperti ini dalam kehidupan berbangsa, hampir merata tidak amanah rakyat Indonesia sebagai pemiliki kedaulatan yang sejatinya berfungsi menjaga dan merawat serta melindungi negara agar rakyat sejahtera. Kehabisan kata-kata rasanya melihat semua hal yang membuat miris hati, bangsa apa sebenarnya yang berani melakukan kejahatan terhadap saudara sebangsanya sendiri? Ataukah memaknai kedaulatan di tangan rakyat diartikan menjadi semena-mena terhadap lainnya?

Di ruang publik demokrasi (media sosial) juga demikian, selalu terjadi saling olok dan merendahkan sesama anak bangsa, akibatnya persoalan yang muncul seperti serangan wabah Covid-19 tidak segera dapat diatasi dengan baik karena effort yang ada hanya membahas hal-hal tidak substansial, sebagai negara kepulauan Indonesia seharusnya lebih mudah menekan penyebaran virus.

Sumber-sumber kebangkitan ekonomi juga mengalami pertentangan akibat masuknya tenaga kerja asing secara masiv, dibandingkan dengan kondisi sekarang dampak wabah membuat banyak warga negara Indonesia menganggur. Pemerintah harus bisa menyeimbangkan kebijakannya, bagaimana bisa selamat dari terinfeksi virus tetapi juga ekonomi rakyat terjaga baik.

Inilah tuntutan seorang pemimpin nasional mampu menjaga stabilitas negara, walau ekonomi tidak meroket tetapi bisa merata dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.

Selamat hari lahirnya Pancasila 1 Juni, semoga bangsa besar ini selalu sadar dan dapat mengendalikan diri menghadapi dinamika dalam kehidupan berbangsa, hanya diperlukan ketulusan hati dari setiap warga negara untuk mengatasi dan menyikapi semua dengan baik, maka kedaulatan berada di tangan rakyat sudah terimplementasikan, itulah bangsa besar yang penuh keadaban.

***