Politik

Pemimpin-pemimpin Muda Dunia

Selasa, 2 Februari 2021, 10:13 WIB
Dibaca 1.979
Pemimpin-pemimpin Muda Dunia
Agus Harimurti Yudhoyono (Foto: ayobandung.com)

Trend pemimpin muda dunia terus bermunculan mulai perdana menteri Kanada Justin Trudeau yang lahir pada 25 Desember 1971, presiden Perancis Emmanuel Macron yang lahir pada 21 Desember 1977 dan presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang lahir pada 25 Januari 1978 yang konon kabarnya tidak memiliki latar belakang politik.

Di Indonesia juga muncul nama seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum (Ketum) partai besar di Indonesia yaitu partai Demokrat yang lahir pada 10 Agustus 1978. Siap berkontribusi besar bagi pembangunan dan kemajuan negaranya.

Sebagai Ketum partai termuda di Indonesia, memiliki relationship yang luas dan pengetahuan yang mumpuni utama pada ilmu kepemimpinan dan strategi.

Semua dipersiapkan dengan matang, agar dalam setiap mengambil langkah/kebijakan yang dibutuhkan selalu dengan pertimbangan hati-hati dengan melihat semua unsur, baik manfaat maupun mudharatnya.

Sebagai Ketum yang memiliki tanggung jawab besar serta sebagai pemimpin nasional, semua hal harus jelas dan sangat terukur. Bekerja tidak kenal lelah, terus bergerak dalam sayup wabah virus untuk lebih fokus membantu rakyat. Biarkan semua masyarakat yang merasakan, menikmati dan menilai apa yang telah disumbangsikan kepada mereka sebagai bentuk kepedulian.

Sejatinya pemimpin muda tidak berharap pujian terpenting rakyat terselamatkan. Dapat hidup layak sebagaimana mestinya, stabil dan berkelanjutan, itu sudah lebih dari cukup.

Baca Juga: 9 Tipe Kepemimpinan: Yansen TP di Mana?

Menjadi pemimpin nasional memang membutuhkan effort besar, pemimpin-pemimpin muda menjadi pilihan yang didukung untuk bisa berada pada posisi yang memiliki peran lebih besar, karena akan lebih banyak rakyat yang bisa merasakan perhatian tersebut.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki luas laut yang sangat besar serta beriklim tropis dengan penduduk terbesar ke-empat di dunia adalah sebuah anugerah terindah bagi bangsa Indonesia. Tidak terlalu banyak yang dituntut untuk bisa tumbuh, hidup dan berkembang, sangat mudah dan sederhana dibanding rakyat di negara empat musim harus menyiapkan banyak hal untuk menghadapi pergantian iklim.

Semua harus terjaga baik, seluruh anak bangsa harus memiliki komitmen yang kuat dalam menjalankan interaksi kehidupan berbangsa agar terus dapat berjalan normal dengan cara mewujudkan sikap perilaku yang saling menguatkan.

Sosok AHY dalam hal ini patut diapresiasi, apalagi komitmen yang begitu besar untuk menjaga Indonesia bukan semata keamanan negara dan bangsa secara fisik/materi tetapi juga pikir, sikap yang menjadi adab bagi bangsa Indonesia, terus terbangun secara berkesinambungan.

Salah satu hal yang menjadi tantangan besar AHY saat ini adalah adanya ancaman dari pihak-pihak yang ingin mengambil paksa kepemimpinan Demokrat, di mana pelakunya adalah juga kader, mantan kader dan pihak dari pemerintahan (lingkaran istana).

Jika ini dibiarkan cepat atau lambat akan muncul ke permukaan, oleh karena itu sebagai pemimpin muda yang bijak, cepat tanggap, gesit dalam menghadapi gangguan ini agar tidak berkembang lebih besar. Maka dilakukan press confrence, menyatakan dengan tegas bahwa benar ada ancaman tersebut terbukti banyaknya laporan/testimoni/saksi-saksi dari ketua DPD yang dihubungi langsung/dipengaruhi mereka, sehingga dilakukan rapat pimpinan (Commander's call) dan memastikan bahwa seluruh ketua DPD masih tetap solid berjuang bersama AHY.

Di lain sisi, AHY berkirim surat ke presiden, karena dianggap terlibat dalam upaya paksa tersebut telah memberikan restu kepada 'seseorang' di lingkaran istana. Karena berdampak pada keributan di ruang publik nasional, akhirnya muncul 'seseorang' tersebut dan mengklarifikasi serta bertanggung jawab secara pribadi dengan tidak melibatkan presiden.

Luar biasa yang dilakukan AHY sebagai pemimpin muda, membuat seorang mantan panglima lunglai, ini akan terus merembet ke presiden dalam arti bertanggung jawab untuk mengklarifikasi atau memberikan jawaban atas surat yang dikirim AHY agar semua menjadi lebih terang, karena jawaban surat itu nanti adalah konstituasi yang harus ditaati oleh semua pihak utama bagi yang ingin meng-kudeta partai Demokrat.

Pemimpin muda diganggu dampaknya langsung berbalik pada si pengganggu, dengan ekspresi yang tidak percaya diri muncul di media massa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun terlihat jelas ketidakjujurannya.

Sejatinya jika sadar ingin menjadi pemimpin mulailah dengan langkah awal yang benar dan tepat. Tampilkan perilaku yang simpati bukan sebaliknya justru memalukan diri sendiri, terbukti niat buruk tidak menunggu lama langsung dibalas. Dimana moral pemimpin model demikian?

Tak Tanggung-tanggung AHY bersikap berani untuk melawan dan akhirnya semakin terlihat jelas biang keroknya. Partai Demokrat diganggu, maka pemerintah yang akan rubuh, apalagi jika melibatkan banyak pihak seperti BIN, Menkopolhukam, ini sungguh keterlaluan jika memiliki rencana rendahan seperti ini, lucunya negara mau melemahkan generasi muda Indonesia. Dimana logikanya?

Baca Juga: Bila Pemimpin Dilanda Amarah

Partai Demokrat tetap harus berada di luar pemerintahan karena berfungsi sebagai check and balance bagi penyelenggaraan pemerintahan, jika ada masyarakat yang merasa pemerintah bertindak kurang tepat, maka masyarakat bisa berjuang bersama dengan partai di luar pemerintah untuk menyampaikan aspirasi politiknya. Jika tidak demikian, maka saat ada kebijakan pemerintah yang kurang tepat, akan memunculkan banyak politikus-politikus jalanan yang bisa jadi sangat liar justru sangat berbahaya bagi stabilitas negara dan bangsa.

Indonesia butuh pemimpin muda, karena tantangan, ancaman dan gangguan ke depan terus ada dan tidak terduga kehadirannya seperti contoh kasus di atas, harapannya pemimpin muda lebih gesit, cermat dan handal dalam setiap menghadapi persoalan.

Bagi mereka yang saatnya sebagai guru/panutan di negeri ini karena faktor usia sebaiknya jadilah pengayom bagi generasi muda tidak sebaliknya merusak jiwa-jiwa muda yang sedang semangat-semangatnya berkiprah di politik praktis, apalagi jika sudah pernah ikut merasakan panen saat Demokrat jaya dulu, mau berapa banyak yang diambil?

Dalam situasi wabah seperti sekarang terbaik di usia-usia riskan terkena wabah, saatnya banyak menenangkan diri dan beristirahat.

Biar yang muda yang memimpin.


Jakarta, 02.02.2021
Dr. SusiLawati MA., M.Han

Baca juga: Antara Helmy Yahya, AHY, dan Transformasi