Politik

Kompetisi Pilpres 2024 Sejatinya Antara AHY, PS dan Moeldoko

Kamis, 14 Oktober 2021, 20:28 WIB
Dibaca 1.110
Kompetisi Pilpres 2024 Sejatinya Antara AHY, PS dan Moeldoko
Prabowo dan AHY (Foto: detik.com)

Pada akhirnya setelah mengamati ruang demokrasi nasional secara seksama arah kompetisi mengerucut pada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Prabowo Subianto (PS) dan Moeldoko.

Tiga kekuatan ini yang menjadi martir kompetisi pada pemilihan presiden (pilpres) mendatang.

Pada sistem politik demokrasi siapapun warga negara Indonesia (WNI) yang telah memenuhi persyaratan berhak dipilih dalam kompetisi pemilihan umum (pemilu). Hanya kemudian yang menjadi catatan khusus, bagaimana kekuatan di belakang mereka mendorong agar sang calon dapat merebut kemenangan tersebut.

Bagi AHY, selain sebagai generasi muda yang masih bersih (tidak memiliki rekam jejak buruk baik secara hukum maupun etika moral), juga adalah Ketua Umum salah satu partai besar nasional yaitu partai Demokrat. Juga memiliki kecakapan strong leadership (militer) dan akademisi. Ini adalah perpaduan yang sangat seimbang dan dibutuhkan dalam menjalankan kerja politik karena bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat juga mampu mengelaborasikan dan mengkolaborasikan setiap kinerja dengan bidang lainnya. Peluang dan kesempatan ini menjadi modal kuat bagi AHY untuk maju dan menang pada Pilpres 2024.

Begitu juga dengan PS, yang juga adalah Ketua Umum sebuah partai politik nasional (Gerindra), yang masih memiliki keinginan maju dalam kompetisi pilpres 2024 walau sebelumnya sudah dua kali kalah dalam kompetisi pilpres di tahun 2014 dan 2019. Tidak masalah selama tidak menyalahi UU, hanya jika dilihat dari pengalaman pilpres 2019 lalu saat kompetisi dilakukan secara maksimal dan berdarah-darah oleh para pendukung setianya, lalu saat kalah PS justru mengambil keputusan bergabung dengan pemerintah sejatinya bisa tetap berdiri tegak dengan para pendukung setia tersebut di luar pemerintahan sebagai oposisi untuk menghargai.

Hal ini tentu meruntuhkan kepercayaan dari para pendukung kepada PS, walau mungkin bekal amunisi sudah terdukung baik saat ini namun dari sisi simpati masyarakat agak diragukan tanpa bermaksud merendahkan perjuangan beliau.

Begitu pula dengan Moeldoko yang diam-diam ternyata ingin ikut serta meramaikan kompetisi demokrasi pada pilpres 2024 mendatang, kenapa tidak? Jokowi yang sederhana dan memiliki pengalaman serta kemampuan sederhana saja bisa menjadi presiden apalagi diri yang telah mencapai prestasi tertinggi (bintang empat) pada institusi militer, seharusnya lebih bisa.

Namun yang disayangkan adalah cara Moeldoko sangat tidak simpati, karena justru melemahkan demokrasi dengan mengambil paksa kepemimpinan partai Demokrat yang sah (AHY) untuk mengantarkan diri dalam pesta demokrasi tersebut. Alih-alih mengharapkan simpati rakyat jika demikian caranya justru menunjukkan kelemahan diri, bagaimana bisa dipercaya untuk menjalankan amanah rakyat jika tega mencederai demokrasi dengan melawan hukum/negara serta melukai perasaan generasi muda bangsa yang memiliki hak sama dalam ruang politik demokrasi.

Jika hal seperti ini sangat mudah terjadi khawatir akan menular ke bidang-bidang kehidupan lainnya, akhirnya melemahkan sendi kehidupan berbangsa otomatis stabilitas negara terganggu karena kaum muda tidak akan diam dan akan terus berjuang untuk menegakkan demokrasi dan keadilan. Sejatinya Moeldoko yang usianya sudah semakin uzur sadar, terbaik mengayomi generasi muda bangsa karena estafet kepemimpinan nasional akan diteruskan pada generasi muda dan tentunya para senior seiring berjalannya waktu semakin lemah secara fisik.

Dalam kerja militer sebagai prajurit memiliki sapta marga yang wajib dipatuhi, terdepan menjaga lingkungan bangsa dan negara. Jika sebaliknya maka Moeldoko sudah mengkhianati sumpah sebagai prajurit, sejatinya pangkat yang disandang otomatis gugur.

Terakhir, semua kembali pada rakyat yang menilai sebagai pemilih. Di era digital seperti sekarang informasi tersedia dan sangat terbuka, dapat dengan mudah menilik satu persatu calon pemimpin yang akan dipilih. Dari rekam jejak tentu dapat terbaca jelas bagaimana karakter dari pemimpin-pemimpin tersebut.

Semoga kompetisi demokrasi di tahun 2024 berjalan lancar sesuai amanah konstitusi karena proses bernegara juga harus memberikan pendidikan politik yang baik bagi seluruh rakyat Indonesia. Rakyat makin cerdas, makin teliti dan makin hati-hati untuk memilih pemimpin yang diharapkan dan dipercaya untuk memimpin Indonesia tanpa gaduh sebagai sesama saudara sebangsa agar kehidupan berbangsa lebih bernilai, tenang dan lebih produktif di semua bidang kehidupan maka rakyat sejahtera, Indonesia maju.

***