Politik

Demi Tujuan Jangka Pendek, Moeldoko Tega Rusak Tatanan Berbangsa

Selasa, 14 September 2021, 18:37 WIB
Dibaca 209
Demi Tujuan Jangka Pendek, Moeldoko Tega Rusak Tatanan Berbangsa
Agus Harimurti Yudhoyono (Foto: dok. Pribadi)

Rasanya usia Pak Moeldoko bisa dibilang seusia dengan orangtua saya yang banyak mengajarkan tentang kebaikan dalam hidup. Taat dan patuh pada aturan hukum yang berlaku maupun aturan sosial/moral di mana pun berada maka hidup akan menjadi berkah, selain mudah menjalaninya juga bermanfaat bagi diri dan lingkungan.

Begitulah kira-kira pesan dari orangtua untuk bekal hidup bagi anak-anaknya. Mungkin tidak bisa mewariskan materi tapi hanya bisa mewariskan nilai-nilai hidup baik sebagai anugerah yang mahal.

Tidak bisa dibeli seberapapun uang yang dimiliki karena sikap nilai ini hanya bisa ditumbuhkan dari nurani yang bersih dari setiap individu. Hanya orang-orang berakhlak baik yang bisa memunculkan nilai hidup berharga sebagai pedoman dalam menjalani hidup, apakah sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial.

Namun saat ini kita dipertontonkan oleh sesuatu yang memiriskan hati, dengan melihat apa yang dilakukan oleh Pak Moeldoko dalam mengisi kehidupan di ruang demokrasi, sejatinya beliau sebagai orangtua yang selalu mengayomi anak-anaknya untuk menjadi pribadi kesatria dan beretika, itulah bentuk tanggung jawab sebagai orangtua yang menjadi panutan dan contoh baik bagi tumbuh kembang kehidupan.

Perilaku tersebut juga berlaku sama terhadap generasi muda bangsa di mana Pak Moeldoko sebagai salah seorang senior bangsa yang diharapkan menjadi contoh tauladan dan harus mengayomi generasi muda bangsa sifatnya, tapi bukan sebaliknya.

Jika sebagai orangtua yang perilakunya selalu dicontoh, maka demikian pula sebagai senior bangsa yang menjadi harapan bagi generasi muda dapat menjadi panutan tapi bukan sebaliknya Pak Moeldoko malah tega menghancurkan tatanan kehidupan berbangsa yang sudah baik dengan pikirannya sendiri dengan cara melemahkan sendi kehidupan bernegara yaitu melakukan pembegalan terhadap partai Demokrat kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai kader muda bangsa yang juga memiliki hak sama dengan seluruh warga negara Indonesia (WNI) lainnya untuk berkiprah di ruang politik demokrasi.

Karena ada jutaan kader muda, simpatisan di bawah komando AHY sedang berjuang menegakkan demokrasi yang adil dan sehat untuk mencapai tujuan mulia yaitu kesejahteraan bagi rakyat.

Jika hanya karena alasan yang tidak fundamental dalam arti tidak menabrak aturan konstitusi bernegara maka tidak ada masalah dalam ruang demokrasi sepanjang bermanfaat bagi kemashalatan rakyat Indonesia.

Lalu, apa rencana Pak Moeldoko melakukan tindakkan pengambilalihan secara paksa sebuah organisasi politik nasional yang sah? Apakah memiliki agenda tersendiri karena ingin maju sebagai calon presiden di tahun 2024, mengapa tidak mendirikan partai sendiri seperti yang dilakukan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2001 untuk mengusung dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia (RI) justru lebih prestise dan efektif.

Tapi jika niatnya ingin melukai generasi muda Indonesia, sejatinya itulah perilaku paling buruk dalam kehidupan berbangsa, karena dilakukan oleh yang lebih tua kepada yang lebih muda. Ini jauh dari sikap nilai khas bangsa Indonesia yang dibanggakan dimana perilaku yang lebih tua seharusnya bisa ngemong dan mengayomi yang lebih muda.

Sangat yakin jika Pak Moeldoko tidak hanya mendengar sepihak tentang perjuangan partai Demokrat kepemimpinan AHY, bisa dipastikan hatinya akan luluh lantak merasa bersalah melakukan upaya yang tidak simpati telah melemahkan nilai demokrasi, karena selama ini hanya mendengarkan dari satu pihak yang tidak tepat sumbernya.

Sebagai salah satu generasi muda bangsa yang telah dibekali ilmu berbangsa yang cukup optimal, secara pribadi memandang jika dua alasan di atas tidak tepat berarti ada agenda RI 1 untuk menjegal kelompok oposisi untuk kepentingan pemerintah melanjutkan wacana 3 periode.

Harapan saya sebagai salah satu kader muda bangsa untuk pemerintah maupun Pak Moeldoko, terbaik akhiri niat dan perilaku yang tidak terpuji ini agar terhindar dari terjadinya gerakkan massa yang masif jika rencana-rencana jangka pendek menjadi tujuan utama khawatir stabilitas negara goyah dan membahayakan kehidupan nasional.

Didiklah generasi muda bangsa dengan cara-cara yang menginspirasi dan mencerahkan maka akan tercipta jaminan estafet kepemimpinan nasional selanjutnya dengan penuh tanggung jawab.

Dengan demikian maka akan jauh lebih terkendali dalam menjalankan estafet kehidupan berbangsa jika generasi muda diberi dukungan tulus untuk memajukan dan mensejahterakan bangsa Indonesia.

Pesan khusus untuk Pak Moeldoko dari generasi muda agar dengan berakhirnya perilaku yang tidak mencerminkan kemanfaatan bagi generasi muda bangsa di kehidupan demokrasi maka demokrasi di masa depan dapat berjalan lebih mudah dan Bapak telah mewariskan kenangan baik yang terpatri pada jiwa generasi muda untuk lebih bersemangat menjaga Indonesia.

***