Politik

Akan Kemana Peradaban Besar Bangsa Indonesia?

Senin, 10 Mei 2021, 19:15 WIB
Dibaca 161
Akan Kemana Peradaban Besar Bangsa Indonesia?
Kepemimpinan (Foto: Kompas.fom)

Jika ruang nasional berbangsa terus ricuh, bagaimana masyarakat dapat menjalankan interaksi kehidupan berbangsa dengan aman, tenang dan kondusif? Hingga memunculkan judul di atas sebagai bentuk peduli terhadap stabilitas negara. Selama ini dirasakan kehidupan berbangsa semakin keras, saling merendahkan antar sesama, ini kualitas kehidupan yang tidak diharapkan. Dengan keadaan yang tidak terkendali sulit melakukan aktivitas apa saja dengan lancar. 

Salah satu penyebab yang sangat dirasakan saat ini adanya serangan wabah virus corona yang sejak awal tidak ditangani secara tegas agar penyebaran virus dapat ditekan dan tidak menyebar luas. Tidak seriusnya penanganan di awal maka penyebarannya menjadi masiv sehingga tidak mengagetkan jika saat ini sendi utama dalam kehidupan berbangsa perlahan satu persatu terus melemah. Mulai dari kesehatan, keselamatan, ekonomi rakyat dan ekonomi negara sebagai sokoguruh negara menjadi lumpuh. Jika masalah masih kecil akan memudahkan mengatasinya berdampak terminimalisir dampak buruk bagi kehidupan masyarakat.

Seragamnya penanganan dalam mengatasi wabah virus Covid-19 baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah agar lebih cepat teratasi serta efisien dan efektif penyelesaian masalahnya. 

Sudah banyak biaya dikeluarkan negara untuk mengatasi semua persoalan yang saling mengkait dan semakin melebar terkait penangkalan wabah virus walau vaksin sudah ditemukan dan dibeli oleh pemerintah, namun karena sejak awal penanganan tidak secara tegas dilakukan akhirnya merambat ke hal-hal lain seperti saat ini mendekati lebaran dimana mudik menjadi khas budaya masyarakat Indonesia, pemerintah memberlakukan kebijakan larangan mudik untuk mendukung upaya pencegahan penyebaran virus dari zona merah ke zona kuning atau zona hijau untuk menjaga agar tidak sia-sia upaya vaksin dan anggaran besar yang dikeluarkan.

Ini lebaran di tahun kedua di masa covid, dan masyarakat selama ini telah mengikuti dan mengamati dinamika yang berkembang pada lingkup nasional dan dirasakan belum efektifnya penanganan situasi yang memunculkan keraguan terhadap kinerja pemerintah, akhirnya berbondong-bondong masyarakat tetap melakukan mudik.

Walau sudah dilakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya mudik, rasanya sudah semakin sulit karena jumlah massa yang sudah tidak terbendung lagi. Hal ini sangat mengkhawatirkan berujung ketegangan dan tidak terkendali antara masyarakat dan pemerintah. Masyarakat ingin memenuhi kebutuhan silaturahim di momen lebaran dengan keluarga (spritual) di sisi pemerintah karena ada tanggung jawab besar sudah berusaha maksimal selama ini (setahun covid) baik effort/ biaya besar yang dikeluarkan jangan sampai menjadi tidak berguna. Ini menjadi persoalan besar bangsa Indonesia saat ini, ditambah selalu dikaitkannya dengan kepentingan politik sehingga situasi terus memanas membuat kehidupan nasional terus gaduh. 

Hidup dalam situasi tidak normal memang sangat merepotkan dan melelahkan, disitulah ujian kekuatan bangsa Indonesia menghadapi ancaman dan gangguan berupa wabah virus yang hingga kini masih belum hilang justru semakin meluas ditambah dengan kemunculan varian virus baru, plus merosotnya kepercayaan terhadap para stakeholders.

Kebutuhan tenaga kerja asing dari kota Wuhan, China yang masuk ke Indonesia di saat wabah masih juga belum hilang, apalagi mengingat kota Wuhan sebagai sumber asal virus corona dengan alasan kebutuhan atas dasar kerjasama yang sudah dilakukan. Ini semua semakin menambah hirup pikuk di lingkup kehidupan nasional di era digital yang semua hal terlihat jelas, sementara warga negara Indonesia sendiri semakin banyak yang menganggur akibat Covid-19. Persoalan ini benar-benar menjadi pukulan berat bagi pemerintah Indonesia bagaimana mengelola proses penyelenggaraan negara dengan cara yang benar, terukur dan bertanggung jawab. Stabilitas negara menjadi modal dasar yang baik dalam menolak gangguan apapun yang menghampiri, baik dari dalam maupun luar negri. 

Wajar dalam kompetisi politik memunculkan pandangan yang berbeda. Khususnya pemerintah, sejatinya bijak menyikapi dinamika kehidupan berbangsa, pemerintah harus mampu mengendalikan situasi dengan cara mendidik rakyat, bahwa kritikan yang dilontarkan oleh rakyat terhadap pemerintah tidak membalasnya dengan serangan yang menyakitkan bagi mereka yang kritis, tetapi tetap merunduk menampung semua masukan dan menyesuaikan mana yang akan segera dikerjakan, mana yang harus ditunda dulu dan seterusnya.

Berkah kepercayaan sudah diamanatkan oleh rakyat kepada pemerintah, tidak ada lagi hal lain lebih penting dalam kehidupan berbangsa selain menjalankan amanah tersebut dengan tulus dan sabar.

Akhirnya Inilah yang menjadi penyebab utama disadari atau tidak sebagai sumber gaduh dan sempurnalah kekacauan negri ini dikhawatirkan kehidupan berbangsa jika terus menerus terganggu dan tidak segera disikapi dengan bijak dapat berujung perang antar saudara sendiri seperti di negara Arab yang dikenal dengan Arab Spring (negara gagal).

Rakyat Indonesia menjadi terpecah belah, tidak ada lagi kehidupan damai yang berarti tidak ada lagi pemerintahan yang sah, otomatis peradaban besar bangsa Indonesia akan hilang dari peta dunia. Padahal negara adalah sebagai rumah tempat tinggal yang menjadi kebutuhan utama bagi manusia, sebagai kebutuhan primer (papan) sejatinya harus terjaga baik agar rakyat dapat menjalani seluruh aktivitas dengan tenang apakah aktivitas keagamaan, pekerjaan, sekolah, silaturahim, organisasi dan lain-lain.

Seorang pemimpin yang selalu berpikir visioner dapat mengatur semua kebijakan dengan pertimbangkan banyak faktor untuk tujuan jangka pendek, menengah dan panjang sebagai road map yang dijalankan dalam mengemban amanah rakyat. Tidak berpikir parsial yang memunculkan banyak gelombang reaksi masyarakat memicu konflik. Jika sudah seperti ini, lalu bagaimana selanjutnya? 

Apalah arti sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki kekayaan biodiversity dan keberagaman suku, adat, budaya jika semua itu tidak dijaga dengam baik oleh bangsa Indonesia sebagai subjek dan objek dari tujuan nasional itu sendiri.

***