Politik

Menjunjung Tinggi Nilai Demokrasi Syarat Demokrasi Sehat

Selasa, 16 Maret 2021, 10:39 WIB
Dibaca 492
Menjunjung Tinggi Nilai Demokrasi Syarat Demokrasi Sehat
AHY dan 34 DPD Demokrat di Kemenhukam (Foto: pikiran-rakyat.com)

Nilai merupakan hal baik yang diinginkan oleh setiap orang, dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan manusia. Nilai adalah seperangkat aturan yang harus dipatuhi dalam interaksi manusia demi terwujudnya kepentingan bersama yaitu kehidupan tertib dan nyaman.

Nilai yang menjadi faktor pendorong dan pedoman dalam mencapai tujuan kehidupan, maka harus terus dilakukan pengajaran tentang nilai sejak usia dini agar terjaga stabilitas kebudayaan dari generasi ke generasi.

Negara demokrasi adalah negara yang meletakkan kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, rakyat harus dilibatkan dalam menentukan setiap kebijakan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Maka sebagai dasar untuk terwujudnya negara demokrasi yang ideal dibutuhkan syarat kualitas sumber daya manusia (SDM) yang memiliki tingkat pendidikan dan ekonomi yang baik merata sama dengan harapan memunculkan mental/karakter yang handal. Karena pemimpin berasal dari rakyat itu sendiri, maka pemimpin tersebut bisa amanah.

Sistem politik demokrasi dapat berjalan baik jika seluruh pelaku politik sadar memiliki tanggung jawab moral dengan menegakkan nilai-nilai demokrasi. Aturan sudah jelas, tinggal menjalankan sebagaimana mestinya. Jika semua berjalan sesuai konstitusi akan menghasilkan proses demokrasi yang diharapkan dapat mengubah keadaan minus menjadi berdaya guna bagi kemajuan peradaban sebuah bangsa. 

Begitu juga di Indonesia yang menganut sistem politik demokrasi, dimana telah diatur secara konstitusi dan menjadi pakem yang harus ditaati oleh seluruh rakyat utama bagi pelaku giat politik. Hak setiap individu dalam menyampaikan aspirasi telah diatur dan dilindungi UU bahwa kebebasan berbicara setiap orang harus dengan mengedepankan etika, sebagai batasan bahwa ada hak orang lain yang sama dalam ruang demokrasi yang juga harus dihormati.

Semua itu bertujuan untuk mengubah keadaan sulit/berat/rumit/susah menjadi lebih mudah, aman, nyaman, damai, harmoni, sejahtera dalam kehidupan berbangsa bernegara.

Prahara di partai Demokrat

Kisruh yang dialami oleh partai Demokrat saat ini adalah contoh paling nyata yang mencederai nilai demokrasi yang sejatinya harus menjunjung tinggi nilai-nilai dalam proses demokrasi. Sadar bahwa ada kepentingan pribadi yang dikalahkan oleh kepentingan partai, kepentingan partai dikalahkan oleh kepentingan nasional, sehingga upaya dalam kerja politik demokrasi sulit menghindari tidak terjadinya kontribusi (dalam bentuk apapun) yang dilakukan secara sukarela oleh seluruh kader/anggota dari partai politik (parpol) demi keberlanjutan kehidupan organisasi politik tersebut. 

Piihak yang dengan semena-mena telah merampas legalitas sebuah parpol hanya karena alasan adanya ketidaksesuaian pada struktural parpol menurut mereka, kemudian ingin menghancurkan secara keseluruhan sistem yang ada pada organisasi politik yang sudah dengan susah payah dibentuk, dibangun dan digerakkan/dijalankan apalagi masih dalam wabah pandemi Covid-19.

Tentu hal ini sangat mengganggu dan merugikan organisasi politik yang sudah tercatat sah pada lembaran negara di kementerian hukum dan hak azasi manusia (kemenkumham). 

Jika ada pihak yang begitu berani mengkudeta sebuah parpol yang sah, bukan semata berani karena ada dukungan dari penguasa tetapi berani menabrak sistem nilai yang ada sebagai rambu-rambu dalam demokrasi, maka itu adalah sebuah pengkhianatan yang amat buruk dan sulit termaafkan bagi bangsa Indonesia yang sepakat menjalankan sistem politik demokrasi.

Dengan mengatasnamakan jihad, mereka ingin memperbaiki kinerja parpol tapi dengan cara melemahkannya adalah sebuah sikap yang kontra dengan spirit jihad. Sejatinya partai yang buruk dan tidak menghasilkan kemanfaatan yang pantas untuk dilemahkan dalam rangka mengubah dan membangkitkan spirit baru untuk bergerak maju dan menang. Tapi bukan sebaliknya, parpol yang sedang berjalan baik dan dibutuhkan rakyat kehadirannya terus dekat untuk membantu rakyat.

Kehadiran partai Demokrat atas ide dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang karena ingin mencalonkan diri sebagai presiden Republik Indonesia (RI) di kala itu, harus memiliki kendaraan sebuah parpol maka dibentuklah sebuah parpol yang diberi nama partai Demokrat oleh SBY yang termasuk sebagai pemrakarsa selain SBY sendiri, ada Ventje Rumangkang (Alm), A. yani Wahid (Alm), Achmad Kurnia, Adhiyaksa Dault, Baharuddin Tonti dan Shirato Syafei.

Kekuatan ide ini akhirnya membentuk sebuah parpol yang dicatatkan ke notaris dengan melampirkan 99 nama pendiri yang disepakati dari tanggal dan bulan kelahiran SBY yaitu 9 September. 

Untuk memenuhi jumlah 99 orang tersebut, maka dimasukkan orang-orang yang dianggap memiliki kemampuan keuangan yang baik, karena berdirinya partai Demokrat murni dari sumbangan mandiri dari para pendiri. Akhirnya partai Demokrat sukses mengantarkan dua periode (2004-2009, 2009-2014) SBY sebagai presiden RI.

Hingga saat ini setelah 7 tahun SBY tidak lagi menjadi presiden RI dan partai Demokrat sejak 2014 hingga 2019 mengalami penurunan perolehan suara dan sejak 15 Maret 2020 partai Demokrat dinakhodai oleh pemimpin muda Agus Harimurti Yudhono (AHY) sebagai generasi muda yang mampu mengantarkan kembali Demokrat menggapai kejayaannya.

Menjadi kebanggaan tersendiri tentunya bagi para senior yang masih mencintai partai Demokrat karena kemenangan itu bukan semata bisa mengantarkan kader sebagai presiden tetapi juga mampu menciptakan pemimpin baru (pengkaderan)/ kader militan yang lebih handal, kuat dan kokoh serta bisa mandiri dalam mengelola kerja partai serta menghadapi dinamika yang terus berkembang. 

Sebaliknya bagi kader yang merasa tidak nyaman dan tidak mendapat tempat pada perahu yang dikayuh AHY (karena kehendak mereka sendiri) justru melakukan upaya pelemahan, sejatinya justru merugikan diri mereka sendiri. Karena akan dibaca oleh publik dan terus diingat bahwa tindakkan yang mereka lakukan di era modern seperti sekarang bukannya menuai simpati dengan merampas/membegal institusi parpol sebagai representasi kekuatan suara rakyat. 

Baca Juga: Partai Demokrat AHY Siap Hadapi Perang Terbuka

Situasi ini pada akhirnya memunculkan kemarahan dan membangkitkan simpati rakyat dari seluruh elemen bangsa tak terkecuali mahasiswa yang juga memiliki hak politik yang sama dengan warga negara lainnya untuk menyatakan sikap dan pendapat bahwa yang dilakukan oleh para pengkhianat demokrasi adalah sikap dan tindakan yang merobohkan tiang-tiang penyangga demokrasi Indonesia. 

Mimbar bebas terbuka bagi siapapun yang ingin berjuang untuk menegakkan dan menjunjung tinggi nilai demokrasi bukan semata untuk memberi dukungan kepada partai Demokrat tapi lebih luas yaitu menegakkan dan menjalankan politik demokrasi tetap di jalur yang benar dan tepat untuk menciptakan dan terwujudnya kehidupan berbangsa bernegara yang madani sebagai khas Indonesia.  

Mari seluruh elemen bangsa, bersama kita perangi begal politik dengan terus memunculkan kesadaran bahwa menjalankan amanah di ruang demokrasi dengan cara menjunjung tinggi adab, etika, moral, nurani sebagai pedoman. Saatnya kaum muda Indonesia harus semakin berani tampil dalam memperjuangkan kebenaran sebagai hakekat kehidupan berbangsa, tidak lupa terus bersandar pada tokoh senior bangsa yang memberikan contoh baik dan menginspirasi. Dengan demikian maka kualitas kehidupan masyarakat Indonesia semakin meningkat baik dan sejajar dengan negara-negara maju lainnya di dunia.

***