Politik

AHY Jenderal Rakyat Memimpin di Zamannya

Selasa, 20 Juli 2021, 09:42 WIB
Dibaca 158
AHY Jenderal Rakyat Memimpin di Zamannya
Agus Harimurti Yudhoyono (Foto: tempo.co)

Kesiapan mental masyarakat Indonesia dalam menghadapi perkembangan zaman harus semakin terbuka lebar. Bahwa tantangan di saat Indonesia baru merdeka dulu dan saat ini tentulah berbeda. Akibat kemiskinan dan kebodohan masyarakat saat itu mengakibatkan kehidupan terlalu sulit dan banyak benturan hingga melelahkan. Akhirnya setiap orang berjuang segera keluar dari kondisi tersebut. 

Sebagian orang berhasil namun sebagian lagi tidak berhasil karena kembali ditentukan oleh karakter masing-masing individu, namun masih banyak yang memiliki karakter rapuh karena pendidikan yang amat minim. 

Kemudian keberhasilan seseorang tersebut dijadikan panutan dan dipercaya oleh lingkungan kemudian ditunjuk sebagai pemimpin dengan harapan dapat membawa perubahan besar ke arah lebih baik. Setiap keluarga atau orangtua berlomba memperbaiki kualitas hidup dengan cara berjuang maksimal dalam mendidik dan membesarkan anak-anak agar tidak menghadapi atau mengalami kondisi sama yang dihadapi oleh orangtuanya terdahulu. Akhirnya generasi muda Indonesia mengalami peningkatan kualitas hidup dari semua sisi. 

Tantanganpun berubah, zaman yang terus berkembang di era globalisasi saat ini ditambah perkembangan teknologi digital yang canggih semakin menggerus nilai-nilai moral bangsa. Jika kualitas generasi muda Indonesia lemah akan mudah terhanyut oleh arus globalisasi. 

Saat ini telah begitu banyak kita saksikan generasi muda Indonesia berkualitas baik muncul di ruang publik nasional, bukan semata sebagai generasi penikmat kehidupan modern tetapi masih kokoh bertahan dan mengakar kuat jiwa patriotisme dalam kehidupan nasional. 

Salah satu contoh generasi muda hari ini yang dapat dilihat dan dirasakan adalah hadirnya sosok pemimpin muda Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sebagai generasi muda yang lahir dan terdidik dari lingkungan militer bahkan sebagai prajurit militer akhirnya memilih memutuskan terjun ke panggung politik sebagai bentuk pengabdian yang berbeda kepada negara dan bangsa Indonesia.

Sebagai ketua umum partai Demokrat mampu menjaga, mengarahkan, menggerakkan dan mengendalikan seluruh kader Demokrat di Indonesia. Ini tantangan tersendiri dan bukan perkara mudah karena ada tanggung jawab bagaimana menjalankan budaya organisasi dengan baik dan harmoni serta tetap stabil sementara setiap kader memiliki kepentingan masing-masing selain kepentingan partai dan kepentingan bangsa. 

Bahkan bagi banyak orang untuk memimpin diri sendiri saja sulit, apalagi keluarga maupun lingkungan rukun tetangga (RT). Apalagi jika memimpin jutaan orang yang memiliki militansi kuat terhadap kepemimpinan AHY. Mungkin masih banyak orang yang menganggap AHY terlalu muda atau belum banyak makan asam garam kehidupan, harus melalui hidup susah payah dulu agar tahu cela dan peluang serta empati untuk bisa memimpin banyak orang. 

Masyarakat lupa jika kehidupan sudah berubah, bukan zamannya harus seperti saat baru merdeka, saat ini kehidupan bangsa Indonesia sudah mengalami banyak perubahan baik sehingga tantangan dan ancaman yang dihadapi juga berubah.

Yang dihadapi sekarang adalah masyarakat yang semakin cerdas dan kritis. Ujiannya bagaimana bisa dekat dengan semua kalangan masyarakat untuk bisa saling menguatkan dan menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera.

Selain itu AHY sebagai putra presiden Republik Indonesia (RI) ke 6 Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berpuluh tahun tumbuh dan besar di lingkungan kental dengan nuansa politik nasional dan harus bisa menyeimbangkan pikir dan sikap karena semua langkah dan tindakkannya sudah menjadi milik publik sebagai panutan. Tentu ada beban tersendiri, walau di sisi lain membanggakan sebagai anak presiden. 

Selama itu AHY banyak belajar, melihat dan merasakan banyak hal yang membuatnya semakin banyak tahu dan juga memiliki hubungan yang baik dengan banyak stakeholders yang ada di dalam dan luar negeri. Ini sebuah prestasi yang tidak semua anak bangsa bisa miliki. Pembelajaran dan pengalaman inilah yang dibagi AHY sang jenderal rakyat kepada masyarakat Indonesia, untuk peduli dan mencerahkan serta melindungi anak bangsa. Masyarakat harus bisa membuka wawasan pikir lebih luas agar memudahkan dalam menjalin kehidupan nasional di ruang demokrasi secara sehat dan bertanggung jawab. Ini sebuah anugerah yang patut disyukuri karena negara telah mampu membentuk kualitas generasi muda Indonesia sesuai harapan agar ada yang menerima estafet kepemimpinan nasional ke depan yang benar-benar dapat dipercaya. 

Jadi kriteria sebagai pemimpin nasional tidak ditarik mundur lagi ke belakang harus kriteria yang sama saat Indonesia baru merdeka, tentu tidak signifikan. Orang-orang dengan kriteria itu sudah uzur usianya saat ini, yang ada sekarang adalah generasi selanjutnya. 

Jadi jika masih ada yang mengecilkan kemampuan negara dalam menjalankan kontitusi sesuai cita-cita nasional dengan mengatakan AHY dimudahkan jalannya, lalu siapa saat ini yang dianggap pemimpin dengan pengalaman yang sulit seperti masa kemerdekaan? Harus dipahami bahwa semua warga negara Indonesia dalam UU politik memiliki hak yang sama untuk dipilih dan memilih dalam politik demokrasi. 

Terbaik, mari semua bercermin diri lihat baik-baik siapa diri kita masing-masing, hilangkan noda hitam di hati. Tanyakan pada diri sendiri prestasi apa yang sudah ditorehkan yang bermanfaat untuk lingkungan dalam rangka berkontribusi pada negeri?

***